Translate

Translate

Selasa, 14 Agustus 2012

Kado Spesial Ramadhan

Ini adalah ramadhan yang ke lima aku di Taiwan, setelah perpanjangan kontrak untuk yang kedua kalinya. Setiap tahun bertemu dengan ramadhan, maka setiap kali itu pula banyak mengalami perbedaan.

Bosan memang, harus menjalaninya sendirian. Tak ada aroma khas kolak pisang buatan ibu atau sayur gudeg makanan kesukaanku, pun aku tak pernah mendengar suara adzan yang berkumandang, apalagi mendengar kegaduhan bocah-bocah dengan
teriakan-teriakannya atau tabuhan alat-alat atau benda dapur seperti ; panci, ember untuk dijadikan alat musik saat membangunkan orang
sahur. Terasa sepi dan menyedihkan
menjalaninya sendirian!

Kesedihanku ini sudah bertumpuk-tumpuk, mungkin bisa disamakan dengan naskah-naskah para peserta lomba cerpen yang akan dibukukan. Kerinduanku pada orang rumah pun hanya dapatku telan bersama liur kesabaranku, ketabahanku, serta keikhlasanku untuk membantu keluargaku dalam hal finansial.

Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakakku pun bernasib sama sepertiku, menjadi perantau di negeri orang. Aku dan kakak pertamaku Ani bekerja di Taiwan, sementara Rizal kakak laki-lakiku pun pergi merantau ke Korea Selatan.

Orang kampung memandang keluarga kami sebagai keluarga yang cukup terpandang, karena bila dilihat dari segi materi semuanya pergi bekerja di luar negeri. Tapi hal itu salah besar. Kami terpaksa pergi dari rumah menjadi BMI (Buruh Migran Indonesia) dan harus rela meninggalkan keluarga tercinta dikarenakan memang kebutuhan diantara kami berbeda-beda, meskipun dengan tujuan yang sama yaitu mencari uang.

Semua berawal dari sakitnya ayah
kami dan ditambah retaknya bahtera rumah tangga kakakku, Ani. Delapan tahun silam. Ayah kami menderita yang cukup parah. Di samping beliau pecandu rokok yang kuat beliau pun penikmat kopi pahit, belum lagi bila ada tugas piket kantor untuk shift malam, alhasil ayah terserang paru-paru basah. Saat di rontgen paru-paru ayah terdapat bercak-bercak hitam, bahkan harus operasi karena dokter yang memeriksa mengatakan kondisi paru-paru ayah sudah sangat minim untuk proses penyembuhan bila tidak segera di operasi.

"Apa tidak ada cara lain, Dok?" Tanya ibu seolah menelan sembilu yang masih terasa getirnya di lidah.

"Ada, Bu. Tapi tetap harus berobat jalan dan rontgen, itupun suami Ibu akan kami pindahkan ke rumah sakit yang ada di Cirebon. Kalau ibu bersedia kami akan memberikan surat pengantarnya." Tangkas dokter memberi pengarahan pada ibuku kala itu.

Ditengah kesedihan ini, kabar duka lain datang dari Ani. Ani bercerai dengan suaminya yang menikah lagi dengan seorang janda kaya. Sementara anak-anak mereka masih kecil.

Melihat semua ini Rizal, kakak laki-lakiku satu-satunya, pergi mengadu nasib ke Korea Selatan. Di kampung dia tidak pernah mendapat pekerjaan yang tetap atau lebih tepatnya sebagai pekerja serabutan. Sementara aku, karena merasa iba saat melihat kakakku Ani menangis terus akibat dipoligami, dengan berat ku lepas atributku sebagai mahasiswa dan menyandang gelar babu di Taiwan agar dapat melihat anak-anak kakakku dapat bersekolah.

* * *
Ramadhan pertamaku di rantau menuai berkah istimewa dari-Nya. Sungguh sejarah itu tak pernah akan kulupa meski waktu telah merenggutnya lama.

Sebuah kisah yang tertoreh indah di sanubariku walau sudah empat tahun berlalu.

Waktu itu tahun 2007. Aku bekerja di daerah Nantou County, tempatnya sepi karena merupakan daerah pegunungan dan jalanannya pun berliku-liku, hanya pohon pinang yang menjulang tinggi dan pohon kelengkeng yang ada di sekitar rumah majikanku yang kujadikan teman untuk menemani kesendirianku. Pun rerumputan bergoyang-goyang ria serasa menyapaku setiap pagi dan ditambah angin semilir yang seolah
mengajakku menari bersama kicauan burung yang bertengger di ranting-ranting.

Di samping rumah sebelah kanan terdapat pabrik pengepakkan teh, oh ya profesi majikanku memang sebagai agen penjual teh. Di sebelah kirinya kebun yang ditanami berbagai tanaman, mulai dari bunga-bunga yang beraneka ragam, hingga sayuran pun lengkap, seperti ; cabai, terong, labu, daun ketela rambat, kacang panjang dan masih banyak lainnya. Belum lagi di belakang rumah, terdapat kebun nanas yang sangat besar, besarnya melebihi petak sawah yang ayahku garap di Indonesia.

Hanya tiga bulan aku bekerja di rumah itu karena tidak betah dan terlalu lelah. Saking banyaknya tamu yang datang untuk membeli teh, maka aku belum diperbolehkan istirahat bila tamu-tamunya belum pulang, Hobi mereka berkaraoke hingga larut malam, untuk mandi pun ku lakukan pada tengah malam sebelum tidur. Belum lagi ada tiga orang anak yang harus ku urus.

Memasak untuk sebelas orang, cuci baju pakai tangan untuk yang agak tebal baru boleh memakai mesin cuci. Tidak bebas bergerak dalam segala hal, beribadah pun tidak boleh. Saking lelahnya aku jatuh sakit hingga tak dapat bekerja. Kesempatan itu kugunakan untuk meminta pindah majikan pada agensiku. Akhirnya aku dipulangkan ke rumah agensi untuk istirahat total menunggu proses kesembuhan, baru setelahnya
mereka mencari job baru untukku.

Selama 10 hari aku istirahat, aku pun seperti sudah sehat, agensiku membawaku ke tempat majikan baru, kali ini di daerah Caotun yang juga masih satu kotamadya dengan tempatku dulu di Nantou. Bedanya Caoutun adalah sebuah kota kecil yang ramai dan hanya berjarak 1 jam dari Nantou.

Pertama datang aku disambut hangat oleh mereka, bos baruku. Tampaknya mereka adalah keluarga yang harmonis. Majikan perempuanku cantik sekali dan kali ini job-ku hanya menjadi baby sitter atau lebih tepatnya sebagai pengasuh anak. Rumah ini terdiri dari 5 orang, mereka memiliki 3 orang anak. Dua diantaranya perempuan yang duduk di bangku sekolah dasar kelas 5 dan 6. Dan yang terakhir laki-laki yang kurawat, lucu yang masih berumur 3 tahun.

Tidak menyangka setelah beberapa hari aku tinggal di rumah bos baruku, meskipun rumahnya kecil tapi mereka orang kaya raya di daerah itu. Kekayaannya melebihi bosku yang pertama. Sederet mobil ternama berjejer di garasi yang biasa disebut dengan sebutan "ce khu" yang terbuat dari bahan yang membentuk persegi
panjang. Tiap tiga hari sekali bosku pulang dengan mobil yang berbeda kadang-kadang pakai Jaguar, adakalanya Merccedes Benz atau BMW dan juga Alfa Romeo. Aku terkejut, betapa kayanya bosku.

Setiap minggunya rumah ini rutin mengajak keluarganya jalan-jalan termasuk aku. Aku senang bisa duduk di mobil mewah yang kalau di
Indonesia hanya para pejabat yang bisa mendudukinya, sementara di rumah ini aku sering duduk dengan berbagai merk terkenal. Ternyata bosku adalah seorang manajer kosmetik yang iklannya di bintangi oleh "Pai pin-pin", seorang artis terkenal Taiwan dan produk kosmetiknya juga nangkring di toko-toko kosmetik ternama di Taiwan.

"Pantas saja." Batinku berbisik.

Majikanku sudah menganggapku bagian dari keluarganya sendiri. Bahkan dia menyuruhku memanggilnya mama, karena mereka termasuk pasangan muda. Bila disamakan dengan usia ibuku hanya beda dua tahun.

Di rumah inilah pertama kalinya aku bertemu ramadhan. Mereka merasa terketuk, saat melihatku seharian penuh berpuasa. Karena mereka tidak mengerti kenapa agamaku
mengharuskannya? Apalagi dengan tenggang waktu yang cukup lama. Mereka takut aku sakit karena kelaparan. Tapi aku selalu berusaha
meyakinkannya, namun ia tetap melarang dengan alasan yang sama. Karena seperti itulah aku terpaksa bersembunyi darinya, bila di suruh
makan, aku bilang nanti saja belum lapar. Tapi akhirnya aku terbiasa meskipun majikanku begitu, kujalani semampuku menjaga segala hal yang menjadi larangan-Nya. Bukan berarti aku berbohong pada majikanku. Sahkah puasaku? Wallahua'lam.

Lama-lama majikanku tahu selama ini aku puasa, terbukti aku pun baik-baik saja! Puji syukur pada-Nya, akhirnya majikanku dapat menerima penjelasanku. Ini merupakan sebuah karomah yang patut aku syukuri. Benar-benar butuh perjuangan ekstra meyakinkannya, sangat susahnya umat muslim yang bekerja di Taiwan yang diperbolehkan berpuasa oleh majikannya. Alhamdulillah tidak
untuk majikanku. Mereka menghargai kepercayaan masing-masing. Berkat ramadhan pula, pekerjaanku menjadi ringan. Mereka melarangku untuk bekerja yang berat, termasuk memegang babi dan majikanku yang memasak setiap harinya. Aku hanya membantunya mencuci sayuran dan menyiapkan lainnya.

* * *

Ramadhan pun usai, aku diperbolehkan berlibur bertemu dengan kakakku, Ani yang ada di
Kaoshiung. Dan tiba-tiba saat hari raya, Rizal mengirimkan kejutan untukku dari Korea Selatan, saking penasarannya aku buka langsung.
Ternyata Rizal membelikan baju baru untukku, sepatu, dan kulihat ada sebuah kotak kecil berwarna biru tua, setelah kubuka isinya sebuah kalung dan kubaca kartu ucapan yang diselipkan bersama dengan kotak itu.

"Dear, Nila.... Selamat Hari Raya Idul Fitri. Semoga di sana kau baik-baik saja, ini adalah kado spesial dariku karena waktu di hari Ulang Tahunmu aku tak memberi ucapan padamu! Bukan hanya kamu yang kukirimi kado, melainkan Ibu dan Bapak pun sama. Semoga suka!"

"Terima kasih, Rizal." Ucapku dalam hati, aku senang dan terharu sekaligus tak menyangka. Perasaanku bercampur aduk, seperti es campur yang beraneka ragam membaur dalam satu wadah.

Sepuluh hari setelah Idul Fitri, majikanku membawa 20 karyawannya berlibur ke Bali. Karena di setiap tahunnya majikanku mengadakan tur gratis untuk para karyawan. Aku dibawa untuk membantu menjadi penerjemah. Setelah dari Bali, mereka bilang ingin mampir ke gubugku di Indonesia, mereka ingin bertemu dengan keluargaku dan berkenalan dengan orangtuaku.

Sesampainya di Indonesia, sesuai
rencana awal, seusai berlibur di Pulau Dewata lima hari, mereka mampir ke rumahku. Sementara karyawannya pulang terlebih dulu ke penginapan di hotel Ambassador, Jakarta.

Orangtuaku terkejut, karena melihatku tiba-tiba pulang bersama orang asing hingga banjir air mata karena terharu.

"Ma, Pa...." sahutku sambil kujelaskan kalau mereka adalah bosku di Taiwan.

"Ni hao?" ucap bosku memberikan kata pembuka.

Ibuku tersenyum dan bingung karena tidak bisa membalas sapaan mereka. Ayahku pun sama hanya mengangguk menggunakan bahasa tubuh saja sebagai tanda terima kasih yang telah berbaik hati mau menengok rumah kami yang tak mewah, namun sederhana.

Melihat kami begitu bahagia bertemu satu sama lainnya, terdapat pijar-pijar kerinduan yang sangat dalam terpendam, akhirnya majikanku berpikir lain. Dia begitu spontan memberiku kejutan yang luar biasa buatku pun buat orangtuaku.

Majikanku tiba-tiba berujar, "Ni sien cai cia li, sio si i ke li pai. Wo men sien hui Taiwan. Pu yung tan sin, fei ci phiau wo men pang ni fu!"

Yang kalau diartikan lebih kurang, "Kamu boleh tinggal untuk sementara di rumah, istrirahat satu minggu. Kami kembali ke Taiwan. Jangan khawatir, tiket pesawat kami yang bayar!".

Aku terkejut mendengarnya dan hanya tersenyum penuh derai airmata yang mengalir deras.

"Sie-sie ni Laopan, Laopaniang." Ucapku lirih penuh dengan ekspresi senang dan berterima kasih, dengan detakan jantung yang berdegup
kencang.

Akhirnya majikanku pamit untuk kembali ke hotel Ambassador di Jakarta, karena karyawannya sudah menunggu. Dan rencananya mereka ingin menikmati suasana kota metropolitan dan baru akan kembali ke Taiwan pada jadwal penerbangan besok pagi.

Terima kasih ramadhan, terima kasih Tuhan. Ini adalah berkah dari ramadhan yang mengejutkan untukku dan untuk keluarga besarku di Indonesia. Tidak terasa waktu cepat berlalu, kenangan demi kenangan selalu abadi, tercatat dan tersimpan
rapi dalam naluri dan bingkai hati.

Taiwan, 13 Agustus 2012.

Ada Rindu di Bengkel Cinta

Cantika dan Armada pasangan yang bertemu secara kebetulan. Semenjak bertemu Cantika, sikap Armada berubah delapan puluh persen dari sebelumnya. Armada yang dikenal angkuh dan cuek di kantor menjadi ramah dan murah senyum.

Posisi Armada di perusahaan adalah sebagai asisten manager, walau jabatannya lumayan tinggi tapi herannya tak ada yang menyukainya. Jangankan cewek yang untuk jadi pacarnya, cowok pun jarang yang dekat karena kesombongannya, paling mereka dekat sebatas rekan kerja tapi setelah di luar, mereka pun bersikap biasa saja.

Sore itu sepulangnya dari mengajar taman kanak-kanak, Cantika pergi ke toko bunga untuk dikirimkan ke rumah ibunya. Karena besok adalah hari ibu, jadi Cantika ingin memberi kejutan.

Saat di tengah jalan, motor Cantika mogok. Cantika kebingungan! Dia melirik di sekitarnya untuk meminta bantuan. Namun tidak ada satupun orang di situ. Akhirnya Cantika terpaksa menuntun sepeda motornya dan mencari bengkel terdekat. Di Bengkel itulah Armada bertemu Cantika. Kebetulan mobil Armada pun bannya kempes dan sedang menunggu di bengkel itu.

Perkenalan mereka berlanjut ke jenjang keseriusan. Tapi mendadak kantor memindah tugaskan Armada ke kantor cabang di Surabaya hanya untuk setahun saja, karena menggantikan tugas rekannya yang sedang ditugaskan keluar negeri. Dengan terpaksa rencana pernikahannya ditunda, mereka pun berpisah untuk sementara waktu.

Waktu terus bergulir, kerinduan Armada pada calon istrinya, Cantika hampir tak terbendung lagi. Karena selama Armada di Surabaya, kontak mereka menjadi renggang. Namun Armada yakin pada cintanya, Cantika pasti akan setia menantinya, begitulah komitmen mereka berdua sebelum Armada pergi.

Segera diraihnya ponsel Blackberry hitam miliknya dan menekan nomor Cantika.

"Hallo..., Cantika. Besok aku balik ke Bandung sayang!" tutur Armada.

"Maaf, Armada. Ibu sebaiknya cerita saja. Cantika telah tiada akibat kecelakaan seminggu yang lalu, Ibu sengaja tidak mengabarimu, karena Ibu takut kau tak dapat menerimanya!" jelas ibu Cantika sambil terisak tangis.

"Apaaaaa..... Bu? Tidak mungkin, Ibu pasti berbohong!" sanggah Armada pilu dan membanting ponselnya ke lantai.

Ponselnya hancur seperti hatinya saat ini. Pikirannya tak menentu, sirna semua harapannya merajut kain cinta, robek tergunting oleh takdir yang belum menghendaki Armada hidup bersama Cantika.

Armada mencoba kembali mengenang saat pertama kali bertemu gadis pujaan hatinya di bengkel itu. Untuk mengenangnya, Armada pun pergi ke bengkel tempat ditemukannya cinta pada diri Cantika. Armada sangat rindu, rindu saat-saat berdua menunggu di bengkel itu.

Ada rindu di hatiku
rindu ini tulus kupersembahkan tuk gadis pujaan hatiku

kita bertemu tanpa sengaja di bengkel ini
bengkel yang kami jadikan saksi
terajutnya jalinan kasih

roda waktu berputar begitu saja
membiarkanku terpuruk menamparku perih atas rasa cinta yang baru kumiliki

ingin rasanya ini kujadikan mimpi
agar aku tak harus takut hadapi
kenyataan yang menyesakkan, meluluhlantakkan hati

Taiwan, 14082012



Senin, 13 Agustus 2012

Gara-gara Warna Kuning

"Mita, minggu besok kita ketemu ya di Piramid Taichung." Pinta Anita di telepon.

"Kita pakai baju yang warnanya sama ya Nita, biar gampang nyari!" sisip Mita memberi usul.

"Sip..., warna apa? Gimana kalau kuning saja, soalnya orang jarang yang pakai warna itu. Hari libur di Piramid ramai lho! Kamu punya baju warna kuning kan?!" Cerocos Nita yang tak memberi kesempatan untukku berbicara.

"Tapi Nita....?"

Tut, tut, tut.....

Nita menutup teleponnya!

"Aduh, si Nita gak ngerti kalau warna kuning membuatku apes!" Pikirku penuh cemas.

Hari yang dijanjikan tiba. Tepat pukul 7 pagi aku sudah standby di halte menunggu bus yang ke arah Piramid.

"Hai kuning...., kuning....!! Godanya sambil bersiul.

Dia menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Neng, mau kemana?" Tanyanya lagi mencoba merayuku.

Aku tak hiraukan. Kupalingkan wajahku melihat arah samping!

"Neng, mau ke Taichung 'kan?! Itu tadi mobil ke arah Taichung, ko kamu gak naik?!" Katanya sambil menyungging senyum.

"Apa yang bus tadi berhenti itu ke arah Taichung?"

Spontan aku menjerit kesal, karena sudah 45 menit aku menunggu.

"Sial banget aku hari ini!" Gerutuku sengit sambil kutendang-tendang kerikil yang ada di depanku.

Cowok itu terus tertawa memperhatikan mimik wajahku yang jengkel tiada reda.

"Hahaha..., makanya Neng, jadi orang jangan jutek! Ditanya kemana gak jawab, salah sendiri." Bualnya yang membuatku bertambah kesal.

Akhirnya bus pun tiba, cowok itu pun naik.

"Loh ko kamu naik?" Tanyaku heran.

"Emang gak boleh?"

"Oh..., siapa lagi yang bilang gak boleh!" ucapku datar dan menunduk.

Akhirnya sampai juga di Piramid.
Terpaksa aku minta cowok itu menemaniku.

"Gawat aku udah telat 40 menit, si Nita dimana ya?" Pikirku cemas.

Dari pojok stasiun aku lihat orang yang pakai baju warna kuning duduk di ruang tunggu pembelian tiket.

"Benar juga ide si Nita, warna kuning jarang ada yang pakai! Biasanya kalau pakai warna ini, aku kena apes." Bathinku senang, sambil mesem-mesem sendiri.

Sudah begitu pedenya aku mengagetkannya dari arah belakang....?

"Nitaaaaaaaa...., aa......ku?"

Dia menoleh ke arahku, dia bukan sahabatku Nita!

"Aku minta maaf mbak." Sahutku getir pun malu.

"Lagi-lagi aku begini!" Bisikku pada diri sendiri.

Laki-laki itu tertawa ngacir tiada bisa ngerem.

"Kamu ada-ada saja Neng!" Ledeknya ricuh.

Terpaksa aku menunggu di depan gedung. Tidak beberapa lama kemudian Nita meneleponku!

"Mita, sorry ya... Aku gak bisa kesana. Tiba-tiba Nenekku masuk rumah sakit, lain kali kita ketemu! Tandasnya singkat seperti biasa tanpa memberiku kesempatan bicara. Dia langsung menutup teleponnya.

"Dasar apes!! Gara-gara warna kuning, aku ketinggalan bus.
Gara-gara warna kuning, aku terpancing emosi." Keluhku penuh sesal.

Taiwan, 14082012



Jangan Cemberut (Flash Fiction)

"Niaaaaaaaa....!!" Suara Ayya melengking tepat di telingaku.

"Dasar sudah berulang kali aku bilang, jangan usil!" Tambahnya kesal.

Wajahnya memerah menyimpan rasa kesal dan malu karena sesuatu hal yang menjadikannya tak berkutik. Rahasia Ayya hanya aku yang tahu diantara kami berempat.

"Cepat sini kembalikan." Ayya geram dan wajahnya kini berubah bagai serigala yang meraung kelaparan.

Aku sengaja membuatnya kesal, biar Ayya tidak mengulangi kejelekannya berulang kali sejak kami duduk di bangku SMP. Meskipun kami sudah ada yang menikah, namun persahabatan kami tetap manis dan kental seperti susu "frisianflagh bendera."

Hari itu hari libur, rencana kami selalu bergiliran untuk kumpul di rumah yang telah di jadwalkan. Hanya aku dan Ayya yang belum bertemu pasangan yang serius, meskipun begitu kunjungan kami berempat tak pernah renggang, sekalipun sibuk tapi mencoba untuk menyempatkan waktu untuk bertemu.

Kami pun kejar-kejaran seperti anak TK. Tapi aku malah tertawa geli melihatnya panik ketakutan. Ayya takut kalau Anna dan Rahayu tahu kebiasaan buruknya.

"Mbak Nia, kalau gak balikin Ayya marah!" Ketusnya sangar.

"Jangan ngambek gitu dong Ayya, maafkan aku ya?!" rayuku sambil mengernyitkan kedua alisku.

Tidak lama kemudian, Anna dan Rahayu datang. Anna membawa putranya yang bernama Ahmad yang berumur empat tahun. Sementara Rahayu sendiri karena anaknya diantar ke tempat les piano.

"Ada apa si ribut-ribut?" tanya Anna.

"Iya, ko gak bagi-bagi cerita sama kita!" Bubuh Rahayu.

Aku tersenyum simpul mengerti gelagat Ayya yang berubah aneh, Ayya salah tingkah. Ia mengedipkan matanya ke arahku, seraya berbisik agar aku tak membongkar rahasia abadinya.

Namun karena melihat raut wajah Ayya yang semakin memerah, akhirnya tertangkap basah oleh Anna dan Rahayu saat keduanya mencium bau tak sedap.

"Bau apa sih ini?" tanya Anna dan Rahayu secara bebarengan sambil meyerut hidungnya seperti anjing pelacak.

Karena merasa tak tahan, akhirnya mereka menemui bau aneh yang menyengat itu tepat di tubuhku. Mereka memperhatikan tanganku yang sedari tadi mengepal ke belakang.

Setelah Rahayu menyuruhku untuk membuka, ternyata.....

"Hahahaaaa......." Tawa kami meledak bersama-sama dan mengarah ke Ayya.

"Ayyaaaaaaaaaaaaaaa.....???"

Ayya tersipu malu dan menunduk.

"Berapa lama kaos kaki ini ditimbun di bawah kasur?????" tanya Anna sambil menyimput hidungnya dan menyodorkannya ke Ayya.

Ayya hanya diam tak dapat bicara, semenjak saat itu kebiasaan Ayya malas mencuci kaos kakinya hilang.
Akhirnya, Ayya pun memaafkan aku yang telah membongkar rahasianya dengan keusilan-keusilanku.

Ayya pun tersenyum simpul.

Changhua, 13082012

Minggu, 12 Agustus 2012

Sebongkah Mimpi Yang Terkubur (Cerpen yang dibukukan di penerbit Kerabat SPA)

Bila langit telah membiru dengan pesona keindahanya bersama awan putih yang seakan tersenyum menyapaku. Namun entah buatku rasanya tetap saja sama seperti biasa kelam dan kelabu. Tak dapat aku terus membohongi anak-anak itu, yang terus menanyakan sesuatu hal yang tak masuk akal atau sulit diwujudkan pada realitanya.

Seminggu yang lalu aku menyuruh anak didikku untuk mengarang cerita saat liburan sekolah temanya tentang cita-cita. Karena aku ingin tahu apa yang sedang dipikirkan para anak-anak jalanan atau keinginan apa tentang masa depan mereka bila telah menjadi orang dewasa. Bagaimana pola pikir mereka terhadap materi yang saya berikan? sejauh mana cita-cita mereka? Hal itu yang inginku jadikan referensi untuk meminta bantuan dana kepada pemerintah setempat.

"Bagaimana dengan PR kemarin tentang liburan, apakah sudah selesai?" Tanyaku pada anak-anak didik.

"Bu...., saya belum buat karangannya?" Tutur Tole salah satu murid teladan di kelas ini.

Tole anak rajin dan pandai dalam hal menghitung atau ahli dibidang pelajaran matematika dan lainnya. Dia selalu mendapat nilai plus di atas rata-rata murid dari ke lima belas orang temannya, Tole anak yang genius. Sebagai wali kelasnya aku punya kebanggaan tersendiri.

Karena tidak biasanya Tole bertingkah seperti itu apalagi sampai tidak membuat pekerjaan rumah  rasanya ada kejanggalan karena aku hafal betul dengan sifat Tole.

"Tole..., kenapa kamu tidak bikin PR?" Tanyaku sambil memeriksa buku catatannya.

"Saya bingung Bu? saya punya pertanyaan yang bikin saya gak bisa tidur!" tutur Tole singkat.

"Coba kamu bilang ke ibu, pasti Ibu jawab!" jelasku sambil meyakinkannya agar mau berterus terang.

"Bu..., kenapa aku tidak lahir jadi anak orang kaya. Aku ingin jadi Pemimpin!" Tandas Tole menjelaskan sambil melotot menunggu jawabanku.

Aku tersenyum sambil mengelus-elus rambutnya yang ikal dan berwarna kecokelatan.

"Kamu gak harus jadi anak orang kaya pun sudah bisa jadi Pemimpin". Jawabku. Tole melongo kaget dengan penjelasanku tadi!

"Ko bisa Bu?" Tole pun semakin bertambah penasaran, ditelannya air liurnya dan melolot ke arahku dengan mimik wajah lugunya yang khas.

"Di sekolah, kamu itu seorang ketua kelas. Di rumah, kamu seorang kakak yang menjaga adik-adikmu dengan baik, artinya kamu sudah jadi Pemimpin!" Bubuhku pada Tole.

Seorang Pemimpin itu adalah seorang pandai mengatur dan memotori segala sesuatunya dengan tanggung jawab, dan yang paling penting seorang pemimpin itu harus tegas dan jujur!" Tandasku dengan memberi motivasi pada Tole agar tidak terlarut dalam mimpinya dan agar Tole tidak kecewa dengan penjelasanku yang secara halus.

Dari jawabanku itu, Tole sangatlah puas dan semangat sampai mengatakan keseluruh teman di kelasnya ; "aku ini pemimpin, kalian harus patuh padaku!"

Teman-temannya sangat bingung dengan ucapan Tole dan malah mencibir. Namun, karena jiwa dan hati Tole yang besar, dia menerima cibiran teman-temannya dengan lapang dada.

Ibarat perahu yang berlabuh, pasti ada angin dan ombak bahkan badai sekalipun yang datang menghantam. Namun, Tole telah membuktikannya. Dia hanya tersenyum bangga, tanpa menghiraukan cibiran atau sikap teman-temannya yang mengejek Tole. Karena kehidupan keluarga Tole yang begitu memprihatinkan, membuat dadaku sesak seakan berhenti berdetak, terasa sakit dan perih.

Tole anak pertama dari lima bersaudara. Ayahnya seorang yang tidak bertanggung jawab pergi meninggalkan rumah karena tak sanggup memberi nafkah pada ibu dan keluarganya. Sementara ibunya terpaksa berkelana dari jalan ke jalan menjadi seorang pengamen yang bermodalkan alat musik yang terbuat dari botol aqua kosong yang diisi pasir. Ibu Tole begitu setiap harinya mengais rezeki untuk menghidupi ke lima anaknya.

Tole tak pernah merasakan nikmatnya makanan bergizi. Telur saja ibunya jarang membeli, apalagi daging-daging lainnya seperti ayam dan sejenisnya. Makanan yang disantap oleh mereka setiap hari hanya tempe, tahu, kerupuk, ikan teri, dan yang paling sering dimasak ibunya adalah nasi basi yang dikeringkan atau nasi aking kemudian dimasak lagi menjadi bubur lezat yang disulap dengan berbagai sayuran di dalamnya pun ditambah dengan  sayur gudek atau sayur kari buah nangka, adalah menu kesukaan Tole dan adik-adiknya.

Adik-adik Tole telah terbiasa menyantapnya dengan hati riang gembira, begitupun dengan Tole. Ibunya hanya tersenyum haru melihat anak-anaknya tumbuh tanpa memperoleh kasih sayang yang utuh dari seorang ayah.

"Bu, kalau dunia bisa hujan duit kita gak mungkin hidup miskin ya Bu?!" Tutur Tole lirih.

Ibunya terdiam dan tanpa disadari buliran beningnya tumpah dari ketinggiannya dan tertiti menetes membasahi pergelangan tangan Tole.

"Tole, benar kata Bu Rita. Kamu adalah Pemimpin di rumah kita, Nak!" Jelas ibu sambil mengusap kedua matanya dengan tangannya seraya memeluk Tole.

Hem. Bilg ma yuher ada usulan jg yg senior dimintai posting tips2 nulis kurg lbh kyk bondet. Ya gk salah sh anak2 pd kbur di grub e bondet .mreka tanya ilmu lgsung di jwb n ful info. Ketledoran senior kita terlalu dingin n gk respon cepat. Sementara adik-adik Tole telah terlelap dalam alam mimpinya akibat kelelahan karena seharian penuh ikut bersama ibunya, membantu ibu mengamen bernyanyi dan memainkan alat musik kesayangan mereka.

Taiwan, 26 Juni 2012.  


Khidmat Takbir Yang Bergema (Cerpen yang dibukukan penerbit Harfeey)

Menjalani puasa ramadhan di negeri orang, rasanya teramat menyedihkan. Apalagi bila mengingat saat sahur yang hanya dilakukan sendirian pada tengah malam, benar-benar terasa perbedaannya saat di negeri sendiri. Karena tidak berani mengatakan kepada majikan, terpaksa harus mengendap-endap seperti kucing yang akan mencuri ikan di dapur. Keadaan itulah yang membuatku lebih menguatkan keyakinanku untuk berpuasa. Karena niatku yang tulus, aku mendapat kemudahan dari-Nya.

Sempat suatu malam saat memasuki akhir ramadhan, karena merasa setiap paginya tidak pernah melihatku sarapan. Akhirnya malam itu saat aku sedang menikmati sahur, majikanku seketika telah berada di belakangku. Dia memegang pundak dan mengagetkanku, wajahku pucat pasi dan takut dia memarahiku. Tapi ternyata dugaanku meleset dari yang kuperkirakan. Ternyata dia malah memasang senyum, mungkin dia berpikir merasa khawatir membuatku ketakutan bila memarahiku atau mungkin aku sedang kelaparan sehingga di tengah malam mencari makanan.

"Kenapa setiap tengah malam kamu bangun dan makan? Kenapa tidak di pagi hari yang seperti biasanya kamu lakukan!" Tanyanya singkat, dengan perasaan gemetar aku menelan makanan yang baru masuk ke mulutku.

"Aku sedang puasa," jawabku lirih sambilku jelaskan tentang ajaran  Islam.

** Bahwa di bulan ini semua umat Islam wajib melakukannya selama sebulan penuh tanpa terkecuali. Dia kaget dan malah menyuruhku untuk tidak melakukannya.

"Itu konyol." Tandasnya singkat dan menggeleng-gelengkan kepanya.

Dia bahkan menentangku untuk berpuasa, akan tetapi aku memohon padanya karena hanya tinggal satu minggu lagi ramadhanku akan berakhir dan setelah itu aku akan normal makan bersama mereka seperti hari-hari sebelumnya.

"Lagipula ritual ini dikerjakan hanya setahun sekali." Bubuhku terus menjelaskan agar majikanku semakin yakin memberiku kebebasan berpuasa. Akhirnya, Dia pun mengijinkanku untuk terus melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim untuk berpuasa.

Melihatku ketika di siang hari merasa kepanasan dan terasa lemas tak bertenaga, terasa terik matahari telah menyengat dan panasnya pas berada di bawah ubun-ubunku, dia menyuruhku meminum air beberapa teguk. Aku mengerti akan niat baiknya karena rasa kasihan, tapi aku jelaskan kembali padanya, inilah godaannya dalam berpuasa.
Sempat dia berpikir puasa itu adalah pekerjaan yang sia-sia dan tidak masuk akal. Dia berontak dan menghina serta menjelek-jelekkan Islam. Tapi aku mencoba menjelaskannya kembali dengan alasan-alasan yang dapat diterima dan lebih masuk akal.

"Dengan puasa, melatih kita untuk tahu bagaimana saat orang lain kelarapan? Dengan puasa pula, kita lebih mengerti perasaan orang-orang miskin agar kita bersyukur atas rezeki yang kita peroleh. Dengan puasa juga segala perkataan dan perbuatan harus dijaga, hal itu dapat mencegah dari perbuatan jahat!" Jelasku sambil kuteruskan pekerjaanku.

Setelah itu, dia menepuk pundakku dan bertepuk tangan.

"Islam hebat, aku salut!" Katanya sambil nengacungkan kedua ibu jarinya ke arah wajahku.

Sementara di otakku tersirat berjubal-jubal rasa ingin dapat mengafdolkan puasaku untuk dapat shalat Ied di masjid Taichung.

"Aku ingin meminta libur pada saat lebaran nanti" pikirku dalam hati, agar aku bisa merayakan lebaran bersama teman-teman seperjuanganku.

Kucoba membicarakannya langsung dengan majikkanku. Hari itu, dia dan suaminya sedang asyik bernyanyi, juga bersama ke tiga anaknya tengah asyik melakukan fitnes. Karena melihatku begitu rajin dalam hal pekerjaan, akhirnya dia langsung memberiku lampu hijau.

Ketika tengah malam, ponselku berdering dan terdapat panggilan masuk dari Dedy sahabat lamaku semenjak SMP yang juga sedang bekerja di Korea Selatan. Dedy menanyakan kabarku dan mengucap kata maaf serta menasehatiku untuk lebih hati-hati saat bekerja.

Aku sangat senang Dedy meneleponku malam ini, aku merasa tak sendiri. Karena merasa terharu, aku terbawa suasana yang seakan mendekapku erat. Meski tak saling bertatap muka tapi suaranya seolah berada di sampingku. Aku menangis dan seolah airmataku tak dapat dicegah lagi dari muaranya.

Dedy mengerti kegalauanku, dia pasti merasakan hal yang serupa sepertiku. Saat Dedy akan berpamitan sebelum mengakhiri perbincangan kami berdua, dan saat itu pula secara kebetulan dari arah sana terdengar beduk yang bertalu-talu seraya terdengar orang yang sedang bertakbir ria semuanya terasa seperti di rumah saja, jelas terdengar khidmat dari setiap irama beduk yang bergema. Akhirnya dia menyuruhku turut serta mendengarkan suara gema takbir dari poselnya.

Mulutku tiada terasa mengikuti dan seraya turut bertakbir ria bersama Dedy, kami berdua mendekap erat di malam detik-detik lebaran, saat itu Dedy memang sedang berada di masjid bersama rekan-rekannya. Terasa khidmat, tidak terasa buliran air kristal ini terus mengalir dan alirannya membanjiri altar kesucian di hari yang Fitri. 

Keesokan harinya, aku pergi untuk melaksanakan sholat Ied di pelataran masjid di Taichung. Hatiku terketuk, betapa banyak para BMI yang telah datang lebih dulu memadati, merayap dan berkumpul dalam ruangan yang terbuka, mereka seakan keluargaku, begitu pula wajah dan senyuman seperti buah apel marah terselip di wajah mereka dalam menyambut dan merayakan di hari kemenangan ini. Hingga merasa telah benar-benar berada di Tanah air. Pecah semua rasa kesendirianku selama ini, tertebus sudah semuanya dari ketakutan yang terpendam di dalam benakku.

"Barakallah, kesempatan hari ini dapat berkumpul bersama mereka adalah anugrah dari-Mu ya Allah."
* Tamat

Taiwan, 01072012

Kado Terakhir Untuk Emak (Cerpen yang lolos seleksi di GPM)

Setiap kali pulang dari pasar, mata emak selalu tersorot aneh pada toko yang menjual kain atau bahan kiloan. Terkadang emak sesekali duduk bertengger lama di depan toko hanya sekedar melihat-lihat saja sambil menelan rasa keinginannya untuk membeli kain baru yang emak idam-idamkan.

Sudah hampir empat tahun setelah ditinggal bapak, emak tidak pernah mengganti kainnya untuk setelan kebayanya. Karena untuk memenuhi kebutuhan harian kami berdua saja emak sudah cukup lelah, ditambah dengan kesehatan emak yang mulai menurun. Emak jadi sering sakit-sakitan, mungkin emak terlalu capek bekerja seharian dari jam tiga pagi hingga siang menjelang dhuhur.

Sebagai pembuat lontong yang ditaruh ditiap-tiap pedagang di pasar, pagi-pagi sekali emak bangun menyiapkan lontong-lontongnya. Waktu istirahat emak sangat kurang hanya empat jam setiap harinya. Smentara aku pun bisa membantu emak bila sepulangnya dari sekolah.

Usaha ini sudah lama digeluti oleh nenekku dan emakku hanya meneruskannya saja. Sempat bapak melarang emak bekerja membuat lontong, karena melihat emak sering merintih kesakitan dipinggang dan perutnya karena Emak harus memanggul lontong-lontongnya ke para penjual sarapan di pasar. Karena banyaknya pelanggan yang sudah puluhan tahun hanya memasok lontong buatan kami sehingga emak bertekad untuk terus menekuninya sampai emak tak lagi punya tenaga.

Emak di mataku adalah sosok ibu yang hebat dan kuat. Emak tidak pernah berpikir untuk mencari pengganti bapak. Tidak sedikit tamu emak yang juga berasal dari tetangga desa kami mengajak emak menikah, namun emak selalu saja menolak.

Padahal aku tidak pernah berat hati bila emakku menikah lagi, aku hanya ingin di hari tua emak bisa hidup bahagia tanpa harus membanting tulang.

"Emak hanya ingin membesarkanmu dan melihatmu bisa menikah dengan laki-laki yang baik dan bertanggungjawab nduk, itu impian Emak," kata emak lirih.

Bapakku adalah seorang penarik becak, saat aku duduk di kelas satu SMP bapak meninggal akibat kecelakaan menjadi korban "tabrak lari".

* * *

Pada 20 tahun silam. Hari itu, hari mulai redup disertai dengan hujan. Bapak baru saja membeli kain baru untuk emak, karena hari ini adalah hari spesial ulang tahun emak. Tiap ulang tahun emak, bapak pasti membelikan kain atau selendang sebagai kadonya. Bapak sangat mengerti dengan selera emak, kali ini bapak memilih kain dengan corak khusus berwarna kecokelatan dan bermotif bunga-bunga.

"Emak pasti suka dengan kejutan itu" Pikir bapak.

Namun hujan semakin deras mengguyur jalan, juga disertai angin kencang hingga jalanan licin dan tertutup kabut.

Hampir saja becak bapak tertiup angin, karena bapak ingin segera tiba di rumah, bapak pun terus menggoes perdal becaknya tanpa memperdulikan hujan dan angin yang deras menyapu jalanan. Namun tiba-tiba, sebuah kendaraan pribadi menghantam becak bapak dari arah belakang. Bapak bersama becaknya terpental jauh, karena hujan semakin deras, akhirnya pengendara mobil melarikan diri dari tanggung jawabnya tanpa melihat kondisi korban.

Sementara sore itu pula, emak tengah asyik mempersiapkan menu istimewa kesukaan bapak. Sayur asem, ikan asin, lalapan lengkap dengan kerupuk udang pun telah siap disajikan di pawon. Namun tampaknya hingga beduk maghrib bapak pun belum pulang. Aku yang duduk di teras bersama perut yang bertalu-talu ibarat beduk menahan lapar hanya berani mencium aromanya saja.

"Emak, aku sudah lapar. Kita makan duluan saja ya mak!" kataku sambil menarik-narik tangan emak. Namun emak tampak gelisah dan memandangi wajahku.

"Nduk, sabar tunggu sebentar lagi ya! Kita sholat maghrib dulu saja, mungkin Bapakmu juga sedang sholat di jalan." Ucap emak lirih.

Setelah selesai sholat, tiba-tiba pak Rahmat ketua RT kami datang. Pak Rahmat memberi kabar bagai petir yang menyambar.

"Maaf Bu, saya ingin mengabarkan suami Ibu telah meninggal dunia!" cetus pak Rahmat berbela sungkawa.

Mendengar berita itu emak tercengang kaget, emak diam tanpa berkata apapun. Emak terjatuh seketika, tubuh emak terkulai di lantai yang belum berubin di depan rumah kami. Wajah emak berubah pucat dan emak tidak sadarkan diri.

"Emaaaaakkkk....!" Teriakku sekeras mungkin membangunkan emakku yang terkapar lemas tak sadarkan diri.

Sementara aku tidak bisa melakukan apa-apa terkecuali mendampingi emakku hingga tersadar.

Akhirnya jasad bapak diantarkan kerumah kami, banyak orang yang datang untuk membacakan doaa. Kupeluk tubuh bapak erat, tubuhnya begitu dingin dan kutatap masakan buatan emak yang khusus dihidangkan untuk bapak pun menjadi dingin, sedingin suasana malam hari ini. Tidak beberapa lama kemudian emak akhirnya siuman dan langsung kupeluk tubuhnya erat!

"Nduk, relakan Bapakmu ya?" sambil mengelus-elus rambutku.

* * *

Semenjak kejadian itu, emak tidak pernah lagi membeli kain baru atau apapun termasuk baju kebaya baru. Karena bila mengingat kain baru, emak pasti ingat kematian bapak yang begitu tragis. Di hati emak, bapak adalah suami yang baik dan bertanggung jawab pada keluarganya, karena itulah cita-cita emak hanya ingin melihatku menikah dengan laki-laki seperti bapak.

Emak selalu mendoakan dan memberikan yang terbaik untukku, meskipun kami keluarga yang tak mampu namun emak selalu berusaha untuk dapat memenuhi keinginanku.

Karena melihat emak seperti itu, aku tak tega. Hatiku bagai tersengat lebah. Sakit, pilu yang menggores ke relung-relung, terasa sesak nafas ini. Tanpa sepengetahuan emak, aku kumpulkan uang jajanku sedikit demi sediki di pendil yang kujadikan sebagai tempat menyembunyikan uangku atau celengan.

Tak terasa aku pun tamat SMA. Aku berencana saat ulang tahun emakku, kubuka simpananku untuk membelikan kian dan kebaya baru untuknya. Ulang tahun emakku hampir dekat, tinggal menunggu dua bulan lagi tepatnya Mei, tanggal 24.

Suatu ketika kondisi badan emak menurun dan selama satu minggu emak tidak jualan lontong ke pasar. Emak terpaksa harus banyak istirahat dan aku sudah membawa emak ke puskesmas terdekat, namun pihak puskesmas memberi surat pengantar agar emak sebaiknya dibawa ke rumah sakit. Masalah biaya, emak diberi keringanan.

Ternyata emakku mengidap penyakit usus buntu dan paru-paru basah. Paru-paru emak sudah parah dan dokter menyuruh untuk segera melakukan operasi, namun emak menolak karena tidak adanya biaya. Aku hanya diam mengigit rasa kecemasanku akan kesehatan emakku. Sedang aku tidak dapat berbuat apapun untuk membantu emakku.

"Oh Tuhan...!!, Cobaan apa lagi yang Engkau berikan padaku?" do'aku lirih.

"Pantas saja selama ini emak sering mengeluh sakit perut dan batuk-batuk seperti suara ringkik kuda yang kelaparan!" Pikirku cemas tak karuan.

Uang tabungan emak pun telah habis untuk menebus obat. Dan aku tak berani menyentuh uangku yang ingin kubelikan sebagai kejutan untuknya. Karena kondisi seperti itulah emak terpaksa membuat lontong lagi, tidak ada cara lain. Meski sakit telah menggerogoti tubuhnya, emak terus bekerja.

Pagi saat emakku pergi mengantar lontong-lontongnya ke para langganannya di pasar, ternyata mereka sudah memasok lontong dari orang lain. Emakku terkejut dan tak tau lagi harus bagaimana? Melihat emakku begitu lemah dan nampak lontong bawaanya penuh di dalam bakul, akhirnya mereka terpaksa mengambilnya karena merasa tidak enak telah lama menambil lontong di emakku, namun tidak untuk hari-hari berikutnya.

Emak kebingungan, wajahnya terlihat pucat pasi saat aku menyapanya setelah aku baru pulang dari sekolah, emakku begitu sedih.

"Nduk, besok ndak usah bantu emak buat lontong lagi. Pelanggan emak sudah mengambil lontong orang lain!" tutur emak sambil mengusap pelipisnya yang basah.

"Apa Mak?"

"Iya Nduk! Emak kehilangan mata pencaharian kita," bubuh emak menjelaskan.

Aku semakin bingung, rasanya hidupku dan emak terhimpit oleh jeruji ketidakadilan dunia. Aku marah pada Tuhanku! Dia terasa menelentarkanku dan emak. Runtuh rasanya hidup kami, dinding-dinding hatiku hancur berkeping-keping!

Emak pun menangis, buliran beningnya deras mengalir.

"Nduk maafkan Emak ya, Nduk!" tangisnya pilu

"Emak ini bicara apa? Aku yang seharusmya minta maaf karena belum bisa bekerja apa-apa," jawabku penuh rintih dan derai air mata yang menggenangi rumah kami.

Nasib malang memang tak dapat dicegah. Penyakit emakku kumat, emak merintih kesakitan. Aku segera meminta bantuan pak Lurah agar segera membawa emak ke rumah sakit. Emak pun diinfus, terbaring di atas ranjang.

Besok ulang tahunnya. Aku sudah membelikan kain dan baju kebaya untuknya. Karena ini pertama kalinya aku berhasil mengumpulkan sisa uang jajanku untuk membelikan sesuatu pada emakku.

"Emak, coba lihat..! Aku beli buat Emak!" kusodorkan kotak yang kubungkus rapi dengan pita berwarna kuning, warna kesukaan emakku.

"Apa itu Nduk?" tanyanya pelan.

"Ini kain dan kebaya baru yang kubeli, Mak!" jawabku datar.

Emak heran, matanya terbelalak kaget memandang wajahku. Binar-binar matanya mulai menggenang dan emak memelukku. Belum sempat emak memakai kebayanya, emakku pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya.

Dia meninggal setelah mengucapkan kata terimakasihnya padaku.

"Emaaaaakk.....!!" jeritku tanpa kuperdulikan pasien yang ada di samping emak.

Perawat pun datang memeriksa nadi emak. Ternyata ia telah wafat.

Taiwan, 04082012

*Pawon=dapur

Terjepit Dalam Kotak (Puisi)

saat matanya mengedip
dia terlihat letih
saat jemarinya terengkuh
dia tampak rapuh
desahan nafasnya terbentur
oleh sesaknya keadaan
hingga dia terkapar di lantai tak berubin

begitu lelahnya dia tak berdaya
begitu letihnya dia tak dapat bersuara
bagai terjepit di dalam kotak
setelah tubuhnya ternoda

adilkah hidup ini buatnya?
adilkah hidup ini akan jalan hidupnya?
pergi merantau ke negara orang
hingga menjadi santapan

tak ada lagi yang dia minta
tak ada lagi senyuman itu tercipta di raut wajahnya
dia seperti mayat, tak bergerak, tak bersuara

kasihankah dia?
kasihankah akan nasib yang menimpanya?
rintihannya tak di dengar
teriaknya tak digubris

miris!!
tubuhnya terbanting
dalam balut kedinginan
dia tlah merasa bukan lagi perawan
perkosaan itu menjadikan hidupnya kelam tanpa sinar penerang

Taiwan, 20 Juli 2012

Nyanyian Peri Kecilku (Cerpen yang dibukukan oleh penerbit Harfeey)

Riva anak manis berpostur mungil nan cantik. Kini kutatap ia sudah semakin tumbuh besar, meskipun Riva bukan darah dagingku sendiri, namun aku dan Ari sangat menyayanginya. Aku membawanya pulang kerumah semenjak Riva baru lahir. Mela ibunya juga kerabat dekatku yang menitipkan Riva padaku, karena Mela hamil di luar nikah dan tidak mendapatkan pertanggung jawaban dari Hiro kekasihnya. Padahal hubungan Mela dan Hiro lama terjalin, mereka pacaran semenjak di bangku kuliah.

"Keterlaluan! Apa perlu kita labrak dia Mel?" ketusku dengan nada penuh emosi.

"Percuma saja Dea, Hiro malah menyuruhku untuk mengugurkan bayi ini," ungkap Mela sambil mengelus-elus kandungannya yang mulai membesar.

Semenjak saat itulah, Mela memilih mempertahankan kandungannya sendiri tanpa ada yang tahu sekalipun keluarganya. Sementara aku dan Ari adalah sepasang pengantin yang belum dikaruniai momongan. Hampir satu tahun usia pernikahan kami, namun Allah belum memberi momongan pada kami. Begitu Mela melahirkan bayinya, Mela berpikir bagaimana nasib anaknya kelak, lahir tanpa adanya seorang ayah? Anaknya pasti akan menjadi ejekan orang karena berstatus anak haram. Dengan kerendahan hati Mela, dia memutuskan memberikan buah hatinya padaku dan Ari.

"Dea, aku titipkan bayi ini padamu, rawat dan jaga dia baik-baik, aku ingin anak ini diberi nama Riva." Pesan Mela padaku saat di rumah sakit setelah persalinan.

"Aku dan Ari akan menyayangi Riva sepenuhnya Mel, jangan khawatir!" tandasku sambil memeluk Mela.

Mela pun menangis, seolah tangisannya mengoyak perih dalam relung hati dan jiwaku. Betapa sakitnya harus rela berpisah dengan darah dagingnya sendiri. Aku mengerti perasaan Mela, meskipun aku belum pernah menjadi seorang ibu. Malam itu pula kubawa Riva pergi dari pelukan Mela, karena Mela yang memintaku untuk segera membawanya.

"Dea, aku akan menengoknya pada setiap hari ulangtahunnya." Tutur Mela sambil mencium kening Riva.

Seperti janjinya padaku, setiap tahun Mela datang menengok Riva dan membawakan kado untuk putrinya. Saat ini Riva telah empat tahun sebelas bulan, usia yang bergitu menggemaskan. Riva sangat lincah dan lucu, bulan depan adalah ulangtahunnya yang ke lima. Di setiap perayaan ulang tahunnya, aku selalu mendiskusikannya pada Mela, aku ingin Mela bisa lebih dekat dengan anaknya.

Sampai saat ini Mela masih sendiri, dia masih belum dapat melupakan Hiro lantaran hadirnya Riva si peri kecilnya. Mela merasa bahagia menjalani harinya tanpa memperdulikan masa lalunya ditambah kesibukannya saat ini sebagai penata rias. Mela membuka bisnis kursus kecantikan dua tahun yang lalu dan usahanya saat ini membuahkan hasil, hingga membuka cabang. Sementara aku diberi kepercayaan olehNya untuk menjadi ibu, aku hamil tiga bulan.

"Selamat ya Dea, akhirnya kamu hamil!", ucap Mela ditelepon saat mendiskusikan pesta ulangtahun Riva.

Tahun ini Mela membuat serangkaian acara yang memakai tema "dongeng". Para undangan yang hadir wajib memakai gaun pesta sesuai tema yang dibuat. Semenjak umur empat tahun Riva sudah kumasukkan ke sekolah balita, kami mengundang guru dan teman-temannya datang. Mela pun mengundang anak buahnya untuk turut memeriahkan acara. Kali ini pesta Riva dirayakan sangat meriah, karena melihat bakat Riva yang pandai bernyanyi dan menari. Mela sengaja ingin meihat putrinya bernyanyi dihadapan para undangan yang hadir.

Bathinku bagai tersayat belati, aku ingin rahasianya terbuka agar Riva bisa memanggilnya mama.

"Sementara waktu hanya ini yang dapat kulakukan pada putriku. Suatu saat bila Riva dewasa, baru kukatakan rahasia ini," ungkap Mela saat kusuruh untuk berterus terang dengan menggenggam jemariku. Rasanya aku tak sanggup harus melihat wajah Mela bagaikan mayat hidup.

Pesta pun berjalan lancar, Riva tampak anggun dan begitu manis dengan gaun Peri bersayap putih, sambil membawa tongkat ajaib yang dikenakannya malam ini.

"Tante, aku cantik tidak malam ini?" tanya Riva pada Mela sambil melayangkan senyumnya yang indah ke udara. Mata Mela berkaca-kaca, seakan-akan air kristalnya akan pecah dari ketinggian.

"Cantik sekali Va..., ternyata gaun pilihan tante cocok dengan tubuh Riva!" ungkap Mela sambil mencium kening Riva.

"Melihat senyum itu hadir, aku telah puas tanpa berharap ia memanggilku mama" pikir Mela luruh.

Saat acara puncak yaitu memotong kue tar dan menyanyikan lagu selamat ulangtahun pun dimulai, Riva tampak dengan semangat yang memuncak, dia terlihat sangat bahagia. Apalagi mendengarkan suaranya yang keras terdengar merdu saat bernyanyi, tak terasa titian air bening Mela tercucur.

"Dea, coba lihat dan dengarkan nyanyian Peri kecilku!" sahut Mela padaku.

Dan di teras sana, tampak kehadiran seseorang yang juga melihat Riva bernyanyi. Dialah Hiro, ayah Riva! Hiro datang menengok putrinya yang kini berulangtahun. Ari menghampirinya dan menyuruhnya masuk ke dalam, tampaknya Hiro menolak. Mela terdiam, tubuhnya terasa kaku terpatri saat melihat orang yang menyakitinya hadir di pesta ulangtahun putrinya. Namun Riva telah melihat Ari yang tengah berbicara pada Hiro, Riva datang menghampiri mereka. Hiro tertegun memasang pandangannya yang seolah terbang saat melihat wajah putrinya yang telah tumbuh besar berdiri dihadapannya.

"Bolehkah Om memelukmu?" tanya Hiro. Riva melihat ke arah Ari dan Ari mengangguk.

"Selamat ulangtahun Riva" ucapnya lagi. Riva membalasnya dengan senyuman dan mengajak Hiro masuk ke dalam. Hiro tak dapat menolak ajakan Riva, karena aku tahu Hiro rindu pada Mela dan putrinya. Tampaknya Hiro menyesalinya, namun karena hati Mela yang masih dingin dan beku, sulit menerima Hiro kembali.

Di akhir acara Riva menyanyikan sebuah lagu milik Sherina dengan judul lagu "Oh Bunda" semakin mengharukan suasana. Hiro tertunduk dan Mela mengusap airmatanya dengan sapu tangan. Sementara Ari memelukku.

"Riva begitu berbakat, anak seusia dia mampu menghafal lagu-lagu dengan jumlah yang tidak sedikit!" tutur Ari kagum.

Tepuk tangan pun terdengar hebat, berbagai ucapan dari orang-orang tentang bakat Riva dalam bernyanyi telah Riva kantongi. Riva benar-benar memiliki talenta yang hebat. Akhirnya, aku dan Ari meminta Mela untuk memikirkan lagi tentang Hiro yang ingin kembali, karena Hiro masih mencintai Mela. Mela masih dengan pendiriannya, dia memilih hidup sendirian.

"Tersenyumlah kau Peri kecilku Jangan pernah bersedih Ibu kan slalu ada, meski ibu tak dapat hidup bersamamu Ibu akan menyayangi dan mendo'akan mu disetiap waktu.

Ibu bangga padamu!" Sahut Mela dan pergi.

Taiwan, 14-07-2012    19:05 PM



Senin, 16 Juli 2012

Cinta Berpayung Dusta (Cerpen yang dibukukan penerbit Afsoh Publisher)

Mentari pagi ini seperti biasa mendekap hangat membalut tubuhku, menyuruhku segera bangun dan turun dari ranjang bertingkat. Lintang nama yang diberikan oleh ibu Anna padaku. Ibu Anna adalah kepala panti asuhan yang selalu mengayomi anak-anak yatim piatu sepertiku.

Orangtuaku meninggal karena kasus kecelakaan. Saat itu ibu memilih mempertahankanku agar dapat lahir dengan selamat, sementara kondisi ibu sendiri sangat lemah dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya setelah berhasil melahirkanku kedunia. Karena tidak diketahui keluarga lain yang dapat dihubungi, terpaksa aku ditaruh disebuah yayasan panti asuhan.

Aku berharap agar dapat bermimpi bertemu orangtuaku serta mendapat pelukkan hangat dari mereka, namun tampaknya hanya harapan yang semu dan bayangan semata dan semua tampak kosong belaka. Seperti apa wajah orangtuaku aku tak tahu. Terkadang bila melihat anak-anak lain dapat tertawa riang bersama ayah dan ibunya, hal itu hanya membuat hatiku teriris perih akan rasa iri yang terselubung.

Tak ada satupun anak di dunia ini yang menginginkan nasibnya menjadi sebatang kara. Karena aku yang seperti inilah selalu dipandang sebelah mata, yang membuatku merasa aku adalah orang terlemah hingga tak dapat melakukan apapun tanpa uluran tangan dan belas kasihan dari oranglain.

"Aku akan buktikan pada dunia bahwa aku tidak selemah yang digariskan oleh Tuhan akan takdir dan nasibku, aku akan berlari mengejar keretaku yang meskipun telah pergi jauh. Aku pasti akan dapat mengejar kereta yang lainnya" Pikirku dengan penuh keyakinan.

*Bergerak, berlarilah!
Terbang dan kejarlah!
Mulai dan semangatlah!
Bangkit dan tersenyumlah Lintang!*

Kata-kata itulah yang kujadikan motivasi hidupku. Hingga pada suatu hari aku berhasil menjadi dokter ahli bedah. Karena prestasikulah yang mengantarku menuju fakultas kedokteran, aku mendapat beasiswa. Mengingat masalalu orangtuaku yang tak dapat diselamatkan dari maut, dari sanalah aku tertarik untuk bercita-cita menjadi seorang dokter.

Tujuanku tidak lain hanya ingin menyelamatkan banyak orang agar tidak ada lagi kesedihan. Hingga datanglah pasien yang kronis. Ironisnya pasien ini punya daya kekebalan tubuh yang hebat. Rendy nama pasien yang kutangani. Dia mengalami luka bakar di wajah, dan terdapat luka-luka yang parah pada bagian tubuh lainnya. Rendy mengalami kecelakaan saat mengemudi dengan kecepatan tinggi akibatnya rem mobil yang sedang dikemudikan tiba-tiba blong dan akhirnya jatuh kedalam jurang.

"Rendy berhasil melompat saat mobilnya akan meledak" Tutur Toni saksi mata yang kebetulan sedang hiking dilokasi kejadian.

Tonilah yang membawa Rendy kerumah sakit terdekat tempatku bekerja. Sebagai orang yang paling diandalkan oleh banyak orang aku bekerja seprofesional mungkin untuk menangani masalah pada setiap pasien-pasienku, termasuk Rendy.

Kulakukan semampuku memberi pengobatan yang terbaik. Operasi Rendy pun berjalan lancar dan hanya menunggu waktu untuk pemulihan, perasaanku sedikitnya lega atas tanggungjawab sebagai dokter karena telah berhasil menyelamatkan pasienku. Entah kemungkinan Rendy tidak dapat bertahan hidup dalam kurun waktu yang lama akibat kecelakaan yang membuat ginjalnya pecah karena terjadi benturan hebat. Rendy harus mendapat ginjal baru agar dapat dilakukan pencangkokan. Kasusnya belum dapat kuselesaikan karena tidak adanya ginjal yang dapat menyelamatkan hidupnya.

Rendy memang sudah dapat bergerak dan bangun dari tempat tidurnya, seringkali dia kuajak pergi dari ruangan untuk sekedar mencuci mata agar dapat menyegarkan pikirannya. Dan hari itu Rendy menatapku dengan tatapan matanya yang begitu berbeda.

"Terimakasih banyak dok. telah meyembuhkan luka di wajah dan tubuhku!" ucap Rendy sambil menggenggam tanganku.

"Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang dokter" Jawabku singkat sambil kusunggingkan senyum tipisku.

Selang beberapa waktu aku dan Rendy pun resmi menjadi sepasang kekasih yang merasa paling bahagia sedunia. Seolah benar dengan pepatah dunia ini hanya milik kita berdua, saat ini yang kurasakan. Bila dalam minggu ini telah mendapatkan ginjal untuk Rendy maka operasi akan segera dilakukan.

Aku mencoba mencari orang yang akan dijadikan pendonor untuk pencangkokan ginjalnya. Sore harinya ponselku berdering terdapat panggilan masuk dari orang panti dengan lantunan lagu milik "Ungu" yang berjudul sayang yang kujadikan nada dering, aku mendapat kabar bahwa ibu Anna masuk rumah sakit kemarin. Aku langsung pergi menuju rumah sakit tempat ibu Anna dirawat.

Ibu Anna terjatuh saat turun dari tangga, kepalanya terbentur keramik dan mengalami gegar otak, kondisinya sangat parah. Tanpa kusadari airmataku tertiti dan merembes keseluruh permukaan wajahku. Ibu Anna sudah kuanggap sebagai ibu kandungku, aku tak ingin ibu Anna meninggalkanku seorang diri. Aku berusaha menangani ibu Anna agar selamat dari kritis.

Aku duduk di samping dan menjaganya, merawatnya seperti yang pernah dilakukannya padaku dulu. Kugenggam jemarinya berharap matanya dapat terbelalak melihatku. Saat aku terlelap dalam tidur karena kelelahan, ibu Anna merintih memanggil-manggil namaku.

"Li....lin..tang. Dimana kamu Nak?" katanya lirih.

Dan aku terbangun sekaligus merasa bahagia karena ibu Anna siuman.

"Aku ada di sampingmu Bu!" jelasku sambil kugenggan erat tangan ibu Anna. Ibu Anna terbangun hanya untuk berpamitan padaku dan hanya menyampaikan sebuah amanah bahwa dia rela mendonor ginjalnya untuk keselamatan Rendy sebelum dia pergi.

Operasi pencangkokan ginjal Rendy pun segera dilakukan mengingat kondisi ibu Anna yang lemah, dan prosesnya berjalan lancar. Rendy telah mendapatkan malaikat penolong. Setelahnya ibu Anna menutup matanya dan beristirahat dengan tenang. Tumpah semua airmataku hingga membanjiri seisi ruangan itu, aku sangat kehilangan
Ibu Anna. Sepertinya aku tak merelakan genggaman tangan ini terpisah oleh jarak dan waktu.

* * * * *
Semenjak Rendy sembuh sikapnya berubah padaku. Dia menjadi sensitif dan tempramental. Kadang tidak perduli padaku, hingga suatu ketika aku memergokinya di sebuah caffe yang sedang asyik berpelukan dengan wanita lain.

Saat itu aku ingin menghilangkan stres akibat ulah Rendy yang kian hari kian menyebalkan. Aku bergegas pulang tanpa terlihat oleh Rendy, setelah kulihat kejadian itu dengan mata kepalaku, aku putuskan hubunganku dengannya tanpa mengatakan sesuatu apapun. Aku pindah dari tempat tinggalku, mengganti nomor ponselku dan resign dari tempatku bekerja. Aku memilih pergi meninggalkan semua kenangan yang pernah dilalui bersama Rendy.

"Rendy mencariku, dia terus berusaha mencari keberadaanku," kabar itu kudapat dari sahabatku Natalia melalui email.

Aku sudah terlalu sakit atas sikap Rendy, dia mencintaiku hanya untuk membalas budi bukan karena ketulusan hati. Dan aku membuka klinik di pedasaan yang sangat sepi dan terpencil. Hal ini akan dapat  membuatku melupakan Rendy.

Di sini aku mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Aku akan memulai hidupku yang baru dengan berlandaskan kertas putih seputih awan dilangit sana.

Kau tanamkan benih cinta padaku
Menyentuh hati, dan manisnya rayumu
Memberiku keteduhan dengan payung cintamu
Hingga aku terbuai dan terperanjat kedalam cinta

Tapi itu semua tlah rapuh
Kupendam lukaku dalam album kenangan
Kugali lubang dan mengubur namamu dari ingatan
Kuletakan karangan bunga bangkai, agar tak lagi mencium kemunafikan itu

Bersama waktu
Kubingkis hatiku dari rasa kecewa
Kubalut goresan luka yang menyayat rasa di dadaku
Ku obati derita hati yang mendera
Dan melupakan kenangan yang pernah terukir bersama

Takkan lagi kutinggalkan jejak
Takkan lagi kujilat liur yang kubuang
Takkan pernah ku berpikir untuk kembali
Semua tlah hangus terbakar oleh nanarnya dusta.

Taiwan, 07 Juni 2012  20:45 PM

Warisan Sepatu Butut (Cerpen yang dibukukan)

Sore itu yang kebetulan sehabis hujan membuat perut Santo keroncongan karena lapar. Seharian penuh Santo mencari rongsokan di jalanan untuk dijual, karena sedari pagi perut Santo hanya terisi bubur dan ubi bakar buatan pamannya Toni. Karena di rumah sudah kehabisan lauk, Santo diajak mancing oleh pamannya. Meski dalam keadaan sangat lelah terlilit oleh rasa lapar Santo tetap saja  menurut dan mengikuti ajakan sang paman pergi memancing dan berjalan di belakang bak anak itik yang mengekor induknya. Santo memasang wajah kusut yang tampak ditekuk seperti huruf U dan terlihat murung saat berjalan.  Sementara sang paman yang berjalan lebih dulu tengah sampai di tepi anak sungai dan sedang sibuk mempersiapkan umpan untuk memulai melempar pancingannya ke tengah sungai.

Setelah memperhatikan gelagat Santo yang sedari tadi gelisah, paman pun mencoba menanyakannya.

"Kamu kenapa To?" tanya paman tanpa basa-basi. Santo tetap diam seolah malah mengunci mulutnya rapat-rapat.

Entah apa yang sedang dipikiran Santo saat ini? Dia terus melempari anak sungai dengan kerikil dan tanah kering yang Santo kumpulkan di samping umpan ikan. Tiba-tiba Santo berteriak histeris dari arah samping pamannya seperti kesurupan makhluk ghaib yang membuat pamannya kaget dan kebingungan.

Paman Santo panik dan langsung menggoyang-goyangkan tubuh Santo dan bertanya untuk yang kedua kalinya dengan nada yang keras.

"Santo, kenapa kamu? Bicara saja padaku!" Tandas paman yang menyuruh Santo berterus-terang.

Akhirnya Santo menundukkan kepalanya dan masih berdiri tegap di depan pamannya tanpa berani menatap wajah sang paman.

"Aku ingin sekolah" Jawab Santo singkat. Setelahnya Santo langsung berlari pulang kerumah dan meninggalkan pamannya yang masih menunggu hasil pancingan. Paman hanya terdiam mendengar kata-kata Santo tadi.

"Memang sudah seharusnya Santo berada di sekolah dan melakukan kegiatan seperti anak-anak lainnya" Pikir paman datar.

Usia Santo kini sudah hampir 10 tahun, namun karena kondisi keluarga Santo yang tidak memungkinkan Santo bersekolah, akhirnya Santo hanya berdiam diri di rumah membantu pamannya untuk mengais rezeki. Apalagi melihat kondisi fisik sang paman yang cacat karena struk di kakinya semenjak tiga tahun yang lalu, Santo tidak mungkin memaksa pamannya atau merengek-rengek untuk menyekolahkannya.

Pamannya hanya sebagai tukang parkir atau pegawai serabutan yang mencari uang dengan penghasilan yang tidak menentu darimana datangnya. Orang cacat seperti itu tidak dapat bekerja dengan pekerjaan berat layaknya orang berfisik normal. Santo adalah anak yang rajin dan hobi bermain sepak bola. Meski Santo tidak sekolah, tapi Santo tetap giat belajar membaca dan menulis. Ayah Santo pergi merantau ke Sumatra semenjak Santo lahir, sementara ibu Santo pergi dari kehidupan Santo karena terkena serangan jantung akibat mendengar kabar buruk bahwa ayah Santo menikah lagi.

Lengkap sudah rasanya penderitaan Santo. Santo hanya dapat menggigit jarinya bila melihat teman seusianya pergi kesekolah berseragam rapih dengan memakai sepatu bagus. Santo tak pernah mengeluh dengan nasibnya, dia tidak pernah merepotkan pamannya yang lumpuh. Meski Santo bekerja sebagai pemulung memungut sampah-sampah mencari kardus-kardus, kaleng, atau apa saja yang dapat didaur ulang untuk dijual agar dapat menghasilkan uang Santo merasa senang asal dapat menyenangkan hati pamannya. Terkadang Santo pun menjadi tukang semir sepatu di pasar atau bahkan menjadi buruh pencuci piring di warung bi Inah tetangganya yang menjual sarapan nasi rames. Tiada pernah mengenal lelah adalah tekad Santo untuk menyambung hidup bersama pamannya. Terkadang hasil yang didapatnya pun diberikan untuk berobat sang paman. Meskipun begitu, Santo tetap bisa tertawa ria untuk menutupi keinginannya bersekolah dan menjadi pemain bola yang handal.
Seringkali teman-teman Santo mengajak latihan sepak bola, Santo tidak pernah malu dan berkecil hati walau dia tidak memakai sepatu bola seperti teman lainnya.

Selang beberapa waktu pelatih di timnya melihat kelincahan Santo dalam bermain bola, dari mulai cara menendang, menggiring bola, serta merebut bola dari lawan tampaknya Santo cukup mahir berlaga, dan akhirnya Santo pun dipercaya oleh timnya. Karena melihat bakat Santo dalam permainan pelatih pun memberi hadiah berupa kaos bola untuk Santo agar ikut bergabung dan rutin latihan, kebetulan lagi tim ini sedang mencari kekurangan pemain untuk pertandingan pada saat hari kemerdekaan nanti. Dari sekian banyak temannya Santo lah   yang berusia paling kecil, namun juga yang paling lincah.

Mendengar hal tersebut, pamannya bangga pada keponakannya Santo. Namun Santo tetap terlihat murung karena tidak memiliki sepatu untuk pertandingan nanti. Melihat raut wajah Santo yang langsung berubah menjadi delapan puluh lima derajat, pamannya masuk ke kamar.

Seminggu kemudian pamannya menyiapkan kejutan untuk Santo, karena selama ini pamannya merasa prihatin melihat Santo latihan bola tanpa menggunakan alas kaki yang terkadang membuat kaki Santo lecet. Santo pun mendapat kejutan berupa sepatu bola milik sang paman pada saat paman masih dapat berlari, hadiah itu melengkapi kekurangan Santo sebagai pemain bola. Walau sepatu itu tampak terlihat butut dan agak besar, tapi Santo tertawa kegirangan melepas kesedihannya selama ini. Santo seakan mendapat kupon undian berhadiah hingga melompat dan berlari berputar-putar di depan halaman rumahnya.

Hingga menjelang kemerdekaan tiba, Santo pun mendapat panggilan dari pelatih untuk ikut bertanding guna merayakan hari kemerdekaan. Bagi Santo inilah kesempatan terbesar dalam hidupnya dalam mewujudkan impian Santo yang ingin menjadi pemain bola yang handal, Santo merasa telah benar-benar merdeka dari keterpurukan hidupnya yang seolah terlempar dan terbuang sebagai anak pertiwi. Tidak sia-sia Santo giat berlatih dan berlatih, karena dengan berhasilnya Santo masuk kedalam tim sepak bola adalah jalan untuk meraih impiannya, dia bertekad ingin memenangkan pertandingan pertamanya dalam dunia sepak bola.
Hingga benar keberuntungan telah berpihak padanya.

Santo berhasil menembus gawang dengan tendangannya yang jitu dan skor terakhir tim Santo unggul dua angka dari tim lawan. Santo sangat bangga pada dirinya sendiri begitupun rekan dan pamannya yang menyaksikan laga Santo dalam pertandingan.

"Ini karena warisan sepatu butut milik paman hingga tendangan Santo menembus gawang!" Tangkas Santo pada pamannya. Pamannya hanya tersenyum bangga pada Santo.

Semenjak hari itu Santo semakin sering diajak bertanding oleh tim-nya. Dan setiap memenangkan pertandingan Santo pun diberikan upah. Saat mendengar Santo tidak bersekolah, pelatihnya kaget. Anak seusia Santo harusnya sudah duduk dikelas 5 SD. Joko nama si pelatih merasa prihatin dengan cerita Santo, dan akan berusaha membantu Santo agar Santo dapat bersekolah.

"Kenapa di zaman semerdeka ini masih banyak anak bangsa yang tidak mengenyam pendidikan? Sangat mengejutkan!" tutur pak Joko singkat.

Mengenai bakat Santo dalam bermain sepak bola, pak Joko benar-benar kagum pada kemampuan Santo. Pak Joko selaku guru olahraga membuatkan surat pengantar untuk pengajuan beasiswa bantuan khusus anak yang kurang mampu agar Santo dapat bersekolah. Semua kebutuhan sekolah pun adalah hasil dari dana beasiswa. Akhirnya Santo dapat sekolah langsung menduduki kelas 5 SD. Tentunya Santo diuji dengan tes membaca dan menulis juga mengerjakan soal-soal semester yang telah diujicoba. Santo dapat mengerjakannya dengan baik, itu semua karena jasa sang paman yang mengajarkan Santo banyak hal. Paman Santo ternyata pernah mengenyam pendidikan meski tidak tinggi.

Santo merasa telah bebas dari penderitaannya yang selama ini terus menikam hidupnya. Dia berjanji tidak akan mengecewakan pak Joko dan pamannya, yang telah memerdekakan hidupnya untuk dapat menyapa dunia dan dapat duduk di bangku sekolah layaknya anak-anak lain seusianya.

Disaat langit mendung
Aku tersenyum
Disaat malam tanpa kerlipan bintang
Aku masih dapat tertawa
Disaat bulan bersinar separuh
Aku menatap, ingin menyapa dunia

Aku tak pernah bersedih
Meski hidupku seperti ini
Bukan karena nasib yang merenggut kebahagiaanku, tapi karena keadaan yang menjauhkanku dari kemerdekaan hidup

Pahit hidup menjeratku pada ruangan yang gelap
Aku terkunci dalam jeruji dunia dari keadilan
Cita-citaku terkubur pada kenyataan dan menenggelamkan impianku Hingga datanglah seorang yang baik hati mengeluarkanku dari kegelapan

Kini kudapat merengkuh mimpiku bersama orang yang telah membawaku pada cahaya kehidupan
Kurasakan sentuhan yang nyata melepasku dari duka karena tak bersekolah

Merdekakah negeriku...?
Merdekakah aku...?
Semoga negeri ini benar-benar dapat memerdekakan anak-anak yang bernasib malang sepertiku...

Taiwan, 22 Juni 2012.  11:20 PM

Wahai Pertiwiku Indonesia (Puisi)

Wahai negeriku Indonesia
Dimanakah pesona dan keluwesanmu dalam mengayomi kami?
Dimanakah sandaran kokoh untuk kami?
Dimanakah citra keanggunanmu sebagai ibu Pertiwi?

Hapuskan derai airmata yang tercucur pada kelopak mata yang tersisih!
Hangus dan lenyapkan penderitaan kami rakyatmu!
Yang membuat kami merintih perih

Dengarkanlah jeritan suara hati kami
Tengoklah kami sejenak!
Betapa kami mengharapkan dekapan hangatmu wahai ibu Pertiwi
Rangkul kami erat, agar kami merasa nyaman!

Padamu kami berharap!
Padamu kami tanamkan impian!
Padamu kami curahkan segalanya!
Ciptakanlah senyumanmu untuk kami rakyatmu

Wahai ibu Pertiwiku
Rajut dan rangkai kembali renda-renda yang pernah sobek!
Kibarkan semangatmu untuk maju!
Lantunkan lagu kemerdekaan dengan bukti!
Bangkit dan bangkitlah dari keterpurukanmu sekarang juga!

Sentuhanmu yang tulus, akan mengantarkan kami pada kepuasan
Membawa kami pada kegembiraan
Semoga di esok hari tak ada lagi kegelisahan
Yang menikam kami dari ketidakberdayaan

Taiwan, 12 Juli 2012

Kerdilnya Negara Indonesia di Mata Negara Lain (Artikel yang lolos kontest)

Terkait dengan masalah perekonomian dunia, Indonesia termasuk ke dalam kategori negara miskin terbesar ke empat setelah negara India, hal ini tercatat dalam rekor dunia tentang negara-negara miskin terbelakang.

Indonesia dulu memang sangat dikagumi oleh bangsa lain karena dikenal dengan keramah-tamahannya, dikenal dengan suku budayanya yang beraneka ragam, bahkan dikenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah ruah. Tapi semua itu kini hanyalah menjadi dongeng dan momok untuk anak negerinya dalam mengenyam pendidikan Sejarah bangsa atau bahkan dapat diartikan sebagai "kenangan".

Semua itu terjadi dikarenakan masyarakat Indonesia terlebih dari sikap Pemerintah, yang tidak bisa memanfaatkan kekayaan alam yang ada, tidak dapat memanfaatkan fasilitas yang diberikan Tuhan Sang Pencipta agar mengolahnya dengan baik, tidak dapat melestarikan agar terus produktif. Sehingga akhirnya negeri ini menjadi kacau balau, yang menyebabnya masyarakat Indonesia banyak yang terpuruk akibat krisis perekonomian yang melanda Indonesia.

Banyak faktor-faktor negatif yang mencoreng negara Indonesia dalam kacamata dunia. Diantaranya adalah disebabkan sering terjadinya kerusuhan dalam era globalisasi, yang mengakibatkan Warga Negara Asing ketakutan datang untuk menikmati wisata di Indonesia. Sehingga mengurangi asset terbesar yang dihasilkan oleh bangsa dari para turis mancanegara. Pun disebabkan oleh merajalelanya para pengamen jalanan maupun pedagang asongan yang menggunakan tindak kekerasan berupa paksaan. Mengapa hal itu dibiarkan saja terjadi?, Padahal sangat meresahkan para turis-turis domestik maupun turis mancanegara lainnya.

Kenapa pemerintah tidak ada penindak lanjutan yang tegas untuk mengamankannya atau para aparat yang berwenang tidak sergap dalam menertibkan situasi seperti itu, sehingga membuat ketakutan para pengunjung bahkan menjadi kapok. Juga tingkat pengangguran yang cukup hebat dalam tiap tahunnya, sementara populasi penduduk Indonesia terus meningkat pada tiap-tiap periode, terakhir disebabkan oleh sikap Pemerintah yang kurang tanggap atau lambat dalam memotori roda kehidupan rakyatnya. Sehingga memicu hal-hal dan tindakan yang amoral akibat kurangnya lapangan kerja di negeri sendiri.

Untuk itu hampir seluruh masyarakat pedesaan di Indonesia lebih memilih bekerja di luar negeri dibanding di negaranya sendiri, karena merasa mendapat hasil yang jauh lebih unggul bila dibandingkan dari hasil pendapatan perkapita di negeri sendiri. Hal demikian telah gamblang dituturkan mengenai gambaran dari negara kita di mata negara asing. Tak ayal negeri ini dipandang dengan sebelah mata oleh bangsa lain karena kebodohan dan kurangnya kesadaran akan pendidikan pada perekonomian dalam masing-masing keluarga. Meskipun pada realita tidak semua masyarakat seperti yang telah digambarkan tadi akan tetapi untuk mengklaim atau mengantisipasi permasalahan tersebut, agar nama baik negara kita di mata negara asing tidak terinjak-injak.

Tentunya hal terpenting yang harus dihimbau secara garis besar yaitu harus didasari dengan kesadaran pribadi masing-masing, membangkitkan semangat pada diri masing-masing, menggunakan hati nurani dan kasih sayang, bergotong-royong agar dapat menciptakan kebersamaan persatuan dan kesatuan bangsa agar tetap utuh seperti yang tercantum pada "Panca Sila."

Juga seperti terpapar dalam slogan yang dijadikan semboyan negara yang berbunyi "Bhineka Tunggal Ika"  yang memberi artian bahwa ; "Walau berbeda-beda tapi tetap satu jua." Tampaknya itu hanya terpampang dengan maraknya yang diserukan oleh bangsa. Namun kenyataannya, justru tidak demikian. Bahkan keadaan Indonesia saat ini lebih tepatnya dikiaskan dengan motto "Bersatu kita teguh,bercerai kita runtuh."

Dulu masyarakat Indonesia benar-benar bersatu dalam menuju gerbang kemerdekaan. Sehingga, dapat mengusir para penjajah dunia. Semangat pun begitu tinggi demi membangun bangsa dengan segenap jiwa raga membentuk pasukan yang kokoh dan gigih agar setelahnya merdeka negara Indonesia akan menjadi negara yang super makmur dan "Gemah Ripah loh Jinawi".

Mengapa sekarang beda situasi dan kondisinya malah menjadi negeri yang runtuh tercerai-berai. Banyak diantaranya masyarakat Indonesia yang tertindas. Tak heran termonitor dengan motif "yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin."

Beginilah kenyatanya yang dialami bangsa Indonesia. Untuk menghindari hal tersebut dan agar terus dapat menyambung hidup, masyarakat Indonesia banyak yang lebih memilih untuk pergi menjadi seorang "Buruh Migrant atau Tenaga Kerja Indonesia."

Bukan lantaran kebodohon masyarakat, sehingga pergi meninggalkan negerinya. Tapi dikarenakan sulitnya menghasilkan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian. Tidak sedikit pula para Sarjana yang pengangguran, mungkin dikarenakan saat telah mendapat pekerjaan merasa tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya, dan mendapat gaji rendah.

"Saya lebih memilih untuk tidak bekerja sekalipun dari pada mendapatkan upah rendah yang tidak sesuai skill." Tutur rekan saya.

Atau banyaknya para instansi-instansi perusahaan yang meminta uang muka sebagai uang jaminan bila ingin bergabung di perusahaan tersebut. Atau bahkan banyak para tenaga profesional lainnya, yang berhasil sepulangnya bekerja dari luar negeri dengan alasan karena bekerja di negara luar sangat menjanjikan.

Parahnya bahkan di negeri ini terjadi kasus pemalsuan Ijazah, KTP, atau juga surat-surat berharga lainnya. Yang tentu tidak menjamin akan keahliannya dalam Ijazah palsu yang didapatnya dengan cara praktis atau instants. Semua itu dapat dengan mudah dilakukan di negara kita, asal mengikuti prosedurnya.

Mengetahui hal tersebut, negara Indonesia dijadikan bahan lelucon, bahkan cibiran yang negatif oleh bangsa asing. Begitu kerdilnya sistem kinerja yang berlangsung. Kasus seperti itu di negara luar tidak terpakai bahkan tidak ada. Saat menyadarinya, bahwa kenapa Indonesia begitu lemah, pantas saja menjadi negara terbelakang. Mengetahui hal semacam itu uniknya malah mengakar kuat, tidak malu atas kesalah-kaprahan yang dibudidayakan, malah menjadi momentum yang diunggulkan.

*Sepintas kisah yang terjadi pada tahun 2008 yang lalu.

Tini nama kakak saya, masuk kesalah satu PJTKI yang berlokasi di kawasan daerah Bogor dengan tujuan Singapura. Selama masuk di sana seminggu Tini melakukan medikal awal, dan seminggu kemudian hasil cek-up nya anfit, Tini di vonis mengidap Kanker ringan di bagian tenggorokan. Akhirnya sponsor menyuruh Tini, untuk menyediakan uang sebagai biaya untuk melakukan operasi kecil.

Mendengar keluhan Tini tersebut dari telepon saya merasa ada kejanggalan. Menurut saya Tini telah ditipu yang tidak lain adalah hasil rekayasa antara pihak PJTKI dengan sponsor yang telah memanipulasi data dari fakta. Maka pada minggu berikutnya saat menjenguk Tini, saya meminta Tini untuk Ijin Pulang. Atas kesepakatan dari keluarga, kami berencana membawa Tini untuk melakukan medikal ulang di klinik lain, dan ternyata hasilnya fit. Pada bagian tenggorokan Tini tidak terdapat penyakit apapun apalagi Kanker.

Dari kasus di atas kami pihak keluarga di rumah langsung mengklaim adanya penipuan yang secara gamblang dilakukan pihak PJTKI dengan sponsor. Akibat ketakutan dilaporkan pihak berwajib, pihak PJTKI meminta jalan damai. Akhirnya proses dibatalkan. Tini pun beralih proses ke PJTKI lain, masih beruntung kasus itu bisa segera tercium, bila terlanjur maka tidak tahu bagaimana kelanjutannya?

Bahkan tutur dari Tini "Penipuan itu hampir dilakukan pada para CTKI lain, para CTKI yang masuk PJTKI tersebut kasusnya sama, bahwa para CTKI dinyatakan anfit namun dimanipulasi dengan berbagai penyakit yang berbeda."

Pun demikian saat ini kasus seputar keberangkatan CTKI yang ingin keluar negeri diiming-imingi hadiah dari sponsor kepada CTKI, dengan menghadiahkan sepeda motor atau undian lainnya. Hal demikian tentu sangat menggiurkan bagi siapa saja yang akan dijadikan sasaran. Karena masyarakat awam pasti berpendapat hal itu sangat "menguntungkan."

Namun apakah Pemerintah tahu hal semacam itu? Apakah tanggapan dari Pemerintah dan bagaimana mengatasi motif seperti itu?

Harapan dari para TKI/BMI kepada Pemerintah untuk lebih tegas dalam bertindak, bila perlu terjun kelapangan dan melihat praktek-praktek yang terjadi pada tiap-tiap lembaga PJTKI yang beroperasi. Agar tidak terjadi kenakalan-kenakalan yang dilakukan secara liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Seperti dilansir pada berita-berita yang marak terjadi. Tentang kasus-kasus kecolongan akibat hukuman sadis yang memvonis para TKI/BMI di negara Timur Tengah. Seperti berita Ruyati TKI Arab Saudi. Tentang kasus kematiannya akibat tervonis hukum pancung atas tuduhan pembunuhan terhadap majikkannya yang menggempar tanah air. Akibat kurang tanggapnya Pemerintah dalam mendata para TKI/BMI yang sudah berada di negara orang.

Juga masih banyak kasus-kasus menyedihkan yang dialami oleh Ruyati Ruyati lainnya yang serupa, atau bahkan maraknya kasus pelecehan seksual.

Apabila pada saat di dalam negeri telah melakukan filter atau penyaringan dengan peninjauan yang ketat, mungkin akan dapat diketahui dan mengurangi jumlah pengiriman yang dilakukan oleh PJTKI ilegal.

Imbas dari mengalami kejadian seperti kasus Ruyati tersebut, Indonesia baru merasa tercambuk dan tertampar hebat oleh rakyatnya. Hingga dibentuknya undang-undang baru dengan mengadakan KTKLN.
Ketentuan daripada peraturan pembuatan KTKLN tidak lain adalah alat untuk mendata para TKI/BMI yang baru akan berangkat maupun yang akan kembali dengan menggunakan sistem ri-entry atau direct-hiring. Para CTKI wajib memiliki kartu KTKLN tersebut tanpa terkecuali. Namun para TKI telah mengeluh dan membuat gerakan anti KTKLN. Karena prakteknya dilapangan, prosedur pembuatan tidak semudah yang di informasikan.

Bagi para eks TKI/BMI yang kembali bekerja ke negara tujuan merasa kesulitan akibat berbelit-belitnya dalam mengurus KTKLN. Bisa dibayangkan, para TKI/BMI yang mengambil cuti dan buru-buru kembali sementara waktunya sudah tidak cukup dikarenakan habisnya masa cuti. Hal demikian bukan membantu tapi malah mempersulit.

Keluhan berbagai keluhan hampir mencuat dari mulut-mulut para TKI/BMI, bahwa proses pembuatan KTKLN yang berlangsung sangat rumit bahkan dipersulit. Akhirnya karena menyita banyak waktu serta menguras tenaga juga rasa ketidaksabaran atas kelicikan para petugas maka para eks TKI/BMI lebih memilih untuk mengambil jalur kuning dengan membayar lebih mahal. Setelahnya, proses pembuatan KTKLN pun berjalan lancar, selancar jalan tol.

Himbauan! Bagi para CTKI yang akan berangkat ke negara manapun, sebisa mungkin mewaspadai diri. Karena sistem yang dipakai oleh PJTKI saat ini adalah memberi kemudahan biaya untuk berangkat, namun harus menaruh jaminan bahkan mengambil hasil dari potongan gaji yang tidak sewajarnya. Juga dilansir banyak kasus ketidaksesuaian dalam penempatan kerja atas SPK (Surat Perjanjian Kontrak kerja) yang telah ditandatangi ketika di Indonesia. Nyatanya job yang dikerjakan tidak sesuai prosedur kerja saat di negara tujuan. Juga masalah-masalah lainnya akan hak-hak para TKI/BMI yang sering dipermainkan oleh para agensi-agensi nakal.

Di Taiwan sendiri saat ini banyak kasus yang dialami oleh para ABK (Anak Buah Kapal) seperti kecelakaan-kecelakaan yang terjadi saat mengklaim asuransi begitu sulit dicairkan atau masalah uang makan dengan potongan-potongan yang tidak jelas, dsb. Bahkan juga para TKI yang bekerja sebagai perawat orang tua jompo atau lansia yang tidak sesuai prosedur, malah dipekerjakan menjadi pedagang di pasar, membersihkan dua sampai tiga rumah. Belum lagi keterbatasan informasi akibat larangan untuk menggunakan HP, larangan berlibur bahkan larangan beribadah sehingga membuat para TKI bagai dikekang dalam sel tahanan karena tidak mendapat kebebasan. Tak jarang para TKI yang memilih kabur mengadu nasibnya yang entah di bawa kemana? Karena HAM yang terasa tidak benar-benar diperjuangkan untuk para TKI/BMI .

Terkait tentang banyaknya kasus TKI/BMI yang terus mengeluhkan tentang terminal 4 pada saat pulang ke Indonesia. Bahwa kasus ini tidak pernah mendapatkan "titik terang" yang memuaskan untuk para TKI/BMI. Rupanya terminal ini telah menjadi miris di mata para TKI/BMI. Meski banyak hal yang dilakukan oleh para TKI/BMI dengan berunjuk rasa dan lain sebagainya agar dapat menghindar dari terminal 4 nampaknya hanya sia-sia. Mengapa prosedur yang dijanjikan oleh Pemerintah tidak pernah nyata dilaksanakan ketika dilapangan?

Banyaknya oknum-oknum yang berkecimpung di terminal 4 malah menguatkan menguatkan sistem nepotisme sehingga para pungli bandara pun semakin leluasa beraksi. Tak heran hati nurani sudah ternoda oleh kebusukan akal dan pikiran.
Bahkan terjadi pemerasan saat menurunkan para TKI/BMI nya saat tiba di tujuan. Harga tiket yang dijual sama besar dengan pemerasan yang dilakukan. Modusnya dengan tema "uang rokok".

Padahal rokok sebatang tidak harus memberi ratusan ribu rupiah, cukup lima atau enam ribu malah dapat membeli sebungkus rokok. Kekhawatiran para TKI/BMI dalam menghadapi kasus yang dilakukan oleh para oknum dan pungli-pungli liar di terminal 4 menjadi topik basi. Banyak yang ingin menghindari terminal tersebut, bahkan banyak yang lebih memilih transit ke kota lain.

"Walaupun harus menempuh jarak yang cukup jauh dari tempat tinggal, asalkan bebas dan aman dari pungli di bandara Soekarno-Hatta khususnya terminal 4." Tutur para TKI/BMI.

Semoga Indonesia kedepannya dapat lebih baik dan lebih efektif serta lebih efisien dalam menanggulangi kasus-kasus para TKI/BMI yang tengah marak terjadi. Terlebih Pemerintah untuk lebih tanggap dalam menanggulangi kasus-kasus yang tengah dialami para TKI/BMI agar kekerdilan di negeri ini dapat berubah dan lenyap.

Taiwan,  13 Juli 2012   11.11 PM