Translate

Translate

Minggu, 12 Agustus 2012

Sebongkah Mimpi Yang Terkubur (Cerpen yang dibukukan di penerbit Kerabat SPA)

Bila langit telah membiru dengan pesona keindahanya bersama awan putih yang seakan tersenyum menyapaku. Namun entah buatku rasanya tetap saja sama seperti biasa kelam dan kelabu. Tak dapat aku terus membohongi anak-anak itu, yang terus menanyakan sesuatu hal yang tak masuk akal atau sulit diwujudkan pada realitanya.

Seminggu yang lalu aku menyuruh anak didikku untuk mengarang cerita saat liburan sekolah temanya tentang cita-cita. Karena aku ingin tahu apa yang sedang dipikirkan para anak-anak jalanan atau keinginan apa tentang masa depan mereka bila telah menjadi orang dewasa. Bagaimana pola pikir mereka terhadap materi yang saya berikan? sejauh mana cita-cita mereka? Hal itu yang inginku jadikan referensi untuk meminta bantuan dana kepada pemerintah setempat.

"Bagaimana dengan PR kemarin tentang liburan, apakah sudah selesai?" Tanyaku pada anak-anak didik.

"Bu...., saya belum buat karangannya?" Tutur Tole salah satu murid teladan di kelas ini.

Tole anak rajin dan pandai dalam hal menghitung atau ahli dibidang pelajaran matematika dan lainnya. Dia selalu mendapat nilai plus di atas rata-rata murid dari ke lima belas orang temannya, Tole anak yang genius. Sebagai wali kelasnya aku punya kebanggaan tersendiri.

Karena tidak biasanya Tole bertingkah seperti itu apalagi sampai tidak membuat pekerjaan rumah  rasanya ada kejanggalan karena aku hafal betul dengan sifat Tole.

"Tole..., kenapa kamu tidak bikin PR?" Tanyaku sambil memeriksa buku catatannya.

"Saya bingung Bu? saya punya pertanyaan yang bikin saya gak bisa tidur!" tutur Tole singkat.

"Coba kamu bilang ke ibu, pasti Ibu jawab!" jelasku sambil meyakinkannya agar mau berterus terang.

"Bu..., kenapa aku tidak lahir jadi anak orang kaya. Aku ingin jadi Pemimpin!" Tandas Tole menjelaskan sambil melotot menunggu jawabanku.

Aku tersenyum sambil mengelus-elus rambutnya yang ikal dan berwarna kecokelatan.

"Kamu gak harus jadi anak orang kaya pun sudah bisa jadi Pemimpin". Jawabku. Tole melongo kaget dengan penjelasanku tadi!

"Ko bisa Bu?" Tole pun semakin bertambah penasaran, ditelannya air liurnya dan melolot ke arahku dengan mimik wajah lugunya yang khas.

"Di sekolah, kamu itu seorang ketua kelas. Di rumah, kamu seorang kakak yang menjaga adik-adikmu dengan baik, artinya kamu sudah jadi Pemimpin!" Bubuhku pada Tole.

Seorang Pemimpin itu adalah seorang pandai mengatur dan memotori segala sesuatunya dengan tanggung jawab, dan yang paling penting seorang pemimpin itu harus tegas dan jujur!" Tandasku dengan memberi motivasi pada Tole agar tidak terlarut dalam mimpinya dan agar Tole tidak kecewa dengan penjelasanku yang secara halus.

Dari jawabanku itu, Tole sangatlah puas dan semangat sampai mengatakan keseluruh teman di kelasnya ; "aku ini pemimpin, kalian harus patuh padaku!"

Teman-temannya sangat bingung dengan ucapan Tole dan malah mencibir. Namun, karena jiwa dan hati Tole yang besar, dia menerima cibiran teman-temannya dengan lapang dada.

Ibarat perahu yang berlabuh, pasti ada angin dan ombak bahkan badai sekalipun yang datang menghantam. Namun, Tole telah membuktikannya. Dia hanya tersenyum bangga, tanpa menghiraukan cibiran atau sikap teman-temannya yang mengejek Tole. Karena kehidupan keluarga Tole yang begitu memprihatinkan, membuat dadaku sesak seakan berhenti berdetak, terasa sakit dan perih.

Tole anak pertama dari lima bersaudara. Ayahnya seorang yang tidak bertanggung jawab pergi meninggalkan rumah karena tak sanggup memberi nafkah pada ibu dan keluarganya. Sementara ibunya terpaksa berkelana dari jalan ke jalan menjadi seorang pengamen yang bermodalkan alat musik yang terbuat dari botol aqua kosong yang diisi pasir. Ibu Tole begitu setiap harinya mengais rezeki untuk menghidupi ke lima anaknya.

Tole tak pernah merasakan nikmatnya makanan bergizi. Telur saja ibunya jarang membeli, apalagi daging-daging lainnya seperti ayam dan sejenisnya. Makanan yang disantap oleh mereka setiap hari hanya tempe, tahu, kerupuk, ikan teri, dan yang paling sering dimasak ibunya adalah nasi basi yang dikeringkan atau nasi aking kemudian dimasak lagi menjadi bubur lezat yang disulap dengan berbagai sayuran di dalamnya pun ditambah dengan  sayur gudek atau sayur kari buah nangka, adalah menu kesukaan Tole dan adik-adiknya.

Adik-adik Tole telah terbiasa menyantapnya dengan hati riang gembira, begitupun dengan Tole. Ibunya hanya tersenyum haru melihat anak-anaknya tumbuh tanpa memperoleh kasih sayang yang utuh dari seorang ayah.

"Bu, kalau dunia bisa hujan duit kita gak mungkin hidup miskin ya Bu?!" Tutur Tole lirih.

Ibunya terdiam dan tanpa disadari buliran beningnya tumpah dari ketinggiannya dan tertiti menetes membasahi pergelangan tangan Tole.

"Tole, benar kata Bu Rita. Kamu adalah Pemimpin di rumah kita, Nak!" Jelas ibu sambil mengusap kedua matanya dengan tangannya seraya memeluk Tole.

Hem. Bilg ma yuher ada usulan jg yg senior dimintai posting tips2 nulis kurg lbh kyk bondet. Ya gk salah sh anak2 pd kbur di grub e bondet .mreka tanya ilmu lgsung di jwb n ful info. Ketledoran senior kita terlalu dingin n gk respon cepat. Sementara adik-adik Tole telah terlelap dalam alam mimpinya akibat kelelahan karena seharian penuh ikut bersama ibunya, membantu ibu mengamen bernyanyi dan memainkan alat musik kesayangan mereka.

Taiwan, 26 Juni 2012.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar