Menjalani puasa ramadhan di negeri orang, rasanya teramat menyedihkan. Apalagi bila mengingat saat sahur yang hanya dilakukan sendirian pada tengah malam, benar-benar terasa perbedaannya saat di negeri sendiri. Karena tidak berani mengatakan kepada majikan, terpaksa harus mengendap-endap seperti kucing yang akan mencuri ikan di dapur. Keadaan itulah yang membuatku lebih menguatkan keyakinanku untuk berpuasa. Karena niatku yang tulus, aku mendapat kemudahan dari-Nya.
Sempat suatu malam saat memasuki akhir ramadhan, karena merasa setiap paginya tidak pernah melihatku sarapan. Akhirnya malam itu saat aku sedang menikmati sahur, majikanku seketika telah berada di belakangku. Dia memegang pundak dan mengagetkanku, wajahku pucat pasi dan takut dia memarahiku. Tapi ternyata dugaanku meleset dari yang kuperkirakan. Ternyata dia malah memasang senyum, mungkin dia berpikir merasa khawatir membuatku ketakutan bila memarahiku atau mungkin aku sedang kelaparan sehingga di tengah malam mencari makanan.
"Kenapa setiap tengah malam kamu bangun dan makan? Kenapa tidak di pagi hari yang seperti biasanya kamu lakukan!" Tanyanya singkat, dengan perasaan gemetar aku menelan makanan yang baru masuk ke mulutku.
"Aku sedang puasa," jawabku lirih sambilku jelaskan tentang ajaran Islam.
** Bahwa di bulan ini semua umat Islam wajib melakukannya selama sebulan penuh tanpa terkecuali. Dia kaget dan malah menyuruhku untuk tidak melakukannya.
"Itu konyol." Tandasnya singkat dan menggeleng-gelengkan kepanya.
Dia bahkan menentangku untuk berpuasa, akan tetapi aku memohon padanya karena hanya tinggal satu minggu lagi ramadhanku akan berakhir dan setelah itu aku akan normal makan bersama mereka seperti hari-hari sebelumnya.
"Lagipula ritual ini dikerjakan hanya setahun sekali." Bubuhku terus menjelaskan agar majikanku semakin yakin memberiku kebebasan berpuasa. Akhirnya, Dia pun mengijinkanku untuk terus melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim untuk berpuasa.
Melihatku ketika di siang hari merasa kepanasan dan terasa lemas tak bertenaga, terasa terik matahari telah menyengat dan panasnya pas berada di bawah ubun-ubunku, dia menyuruhku meminum air beberapa teguk. Aku mengerti akan niat baiknya karena rasa kasihan, tapi aku jelaskan kembali padanya, inilah godaannya dalam berpuasa.
Sempat dia berpikir puasa itu adalah pekerjaan yang sia-sia dan tidak masuk akal. Dia berontak dan menghina serta menjelek-jelekkan Islam. Tapi aku mencoba menjelaskannya kembali dengan alasan-alasan yang dapat diterima dan lebih masuk akal.
"Dengan puasa, melatih kita untuk tahu bagaimana saat orang lain kelarapan? Dengan puasa pula, kita lebih mengerti perasaan orang-orang miskin agar kita bersyukur atas rezeki yang kita peroleh. Dengan puasa juga segala perkataan dan perbuatan harus dijaga, hal itu dapat mencegah dari perbuatan jahat!" Jelasku sambil kuteruskan pekerjaanku.
Setelah itu, dia menepuk pundakku dan bertepuk tangan.
"Islam hebat, aku salut!" Katanya sambil nengacungkan kedua ibu jarinya ke arah wajahku.
Sementara di otakku tersirat berjubal-jubal rasa ingin dapat mengafdolkan puasaku untuk dapat shalat Ied di masjid Taichung.
"Aku ingin meminta libur pada saat lebaran nanti" pikirku dalam hati, agar aku bisa merayakan lebaran bersama teman-teman seperjuanganku.
Kucoba membicarakannya langsung dengan majikkanku. Hari itu, dia dan suaminya sedang asyik bernyanyi, juga bersama ke tiga anaknya tengah asyik melakukan fitnes. Karena melihatku begitu rajin dalam hal pekerjaan, akhirnya dia langsung memberiku lampu hijau.
Ketika tengah malam, ponselku berdering dan terdapat panggilan masuk dari Dedy sahabat lamaku semenjak SMP yang juga sedang bekerja di Korea Selatan. Dedy menanyakan kabarku dan mengucap kata maaf serta menasehatiku untuk lebih hati-hati saat bekerja.
Aku sangat senang Dedy meneleponku malam ini, aku merasa tak sendiri. Karena merasa terharu, aku terbawa suasana yang seakan mendekapku erat. Meski tak saling bertatap muka tapi suaranya seolah berada di sampingku. Aku menangis dan seolah airmataku tak dapat dicegah lagi dari muaranya.
Dedy mengerti kegalauanku, dia pasti merasakan hal yang serupa sepertiku. Saat Dedy akan berpamitan sebelum mengakhiri perbincangan kami berdua, dan saat itu pula secara kebetulan dari arah sana terdengar beduk yang bertalu-talu seraya terdengar orang yang sedang bertakbir ria semuanya terasa seperti di rumah saja, jelas terdengar khidmat dari setiap irama beduk yang bergema. Akhirnya dia menyuruhku turut serta mendengarkan suara gema takbir dari poselnya.
Mulutku tiada terasa mengikuti dan seraya turut bertakbir ria bersama Dedy, kami berdua mendekap erat di malam detik-detik lebaran, saat itu Dedy memang sedang berada di masjid bersama rekan-rekannya. Terasa khidmat, tidak terasa buliran air kristal ini terus mengalir dan alirannya membanjiri altar kesucian di hari yang Fitri.
Keesokan harinya, aku pergi untuk melaksanakan sholat Ied di pelataran masjid di Taichung. Hatiku terketuk, betapa banyak para BMI yang telah datang lebih dulu memadati, merayap dan berkumpul dalam ruangan yang terbuka, mereka seakan keluargaku, begitu pula wajah dan senyuman seperti buah apel marah terselip di wajah mereka dalam menyambut dan merayakan di hari kemenangan ini. Hingga merasa telah benar-benar berada di Tanah air. Pecah semua rasa kesendirianku selama ini, tertebus sudah semuanya dari ketakutan yang terpendam di dalam benakku.
"Barakallah, kesempatan hari ini dapat berkumpul bersama mereka adalah anugrah dari-Mu ya Allah."
* Tamat
Taiwan, 01072012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar