Sore itu yang kebetulan sehabis hujan membuat perut Santo keroncongan karena lapar. Seharian penuh Santo mencari rongsokan di jalanan untuk dijual, karena sedari pagi perut Santo hanya terisi bubur dan ubi bakar buatan pamannya Toni. Karena di rumah sudah kehabisan lauk, Santo diajak mancing oleh pamannya. Meski dalam keadaan sangat lelah terlilit oleh rasa lapar Santo tetap saja menurut dan mengikuti ajakan sang paman pergi memancing dan berjalan di belakang bak anak itik yang mengekor induknya. Santo memasang wajah kusut yang tampak ditekuk seperti huruf U dan terlihat murung saat berjalan. Sementara sang paman yang berjalan lebih dulu tengah sampai di tepi anak sungai dan sedang sibuk mempersiapkan umpan untuk memulai melempar pancingannya ke tengah sungai.
Setelah memperhatikan gelagat Santo yang sedari tadi gelisah, paman pun mencoba menanyakannya.
"Kamu kenapa To?" tanya paman tanpa basa-basi. Santo tetap diam seolah malah mengunci mulutnya rapat-rapat.
Entah apa yang sedang dipikiran Santo saat ini? Dia terus melempari anak sungai dengan kerikil dan tanah kering yang Santo kumpulkan di samping umpan ikan. Tiba-tiba Santo berteriak histeris dari arah samping pamannya seperti kesurupan makhluk ghaib yang membuat pamannya kaget dan kebingungan.
Paman Santo panik dan langsung menggoyang-goyangkan tubuh Santo dan bertanya untuk yang kedua kalinya dengan nada yang keras.
"Santo, kenapa kamu? Bicara saja padaku!" Tandas paman yang menyuruh Santo berterus-terang.
Akhirnya Santo menundukkan kepalanya dan masih berdiri tegap di depan pamannya tanpa berani menatap wajah sang paman.
"Aku ingin sekolah" Jawab Santo singkat. Setelahnya Santo langsung berlari pulang kerumah dan meninggalkan pamannya yang masih menunggu hasil pancingan. Paman hanya terdiam mendengar kata-kata Santo tadi.
"Memang sudah seharusnya Santo berada di sekolah dan melakukan kegiatan seperti anak-anak lainnya" Pikir paman datar.
Usia Santo kini sudah hampir 10 tahun, namun karena kondisi keluarga Santo yang tidak memungkinkan Santo bersekolah, akhirnya Santo hanya berdiam diri di rumah membantu pamannya untuk mengais rezeki. Apalagi melihat kondisi fisik sang paman yang cacat karena struk di kakinya semenjak tiga tahun yang lalu, Santo tidak mungkin memaksa pamannya atau merengek-rengek untuk menyekolahkannya.
Pamannya hanya sebagai tukang parkir atau pegawai serabutan yang mencari uang dengan penghasilan yang tidak menentu darimana datangnya. Orang cacat seperti itu tidak dapat bekerja dengan pekerjaan berat layaknya orang berfisik normal. Santo adalah anak yang rajin dan hobi bermain sepak bola. Meski Santo tidak sekolah, tapi Santo tetap giat belajar membaca dan menulis. Ayah Santo pergi merantau ke Sumatra semenjak Santo lahir, sementara ibu Santo pergi dari kehidupan Santo karena terkena serangan jantung akibat mendengar kabar buruk bahwa ayah Santo menikah lagi.
Lengkap sudah rasanya penderitaan Santo. Santo hanya dapat menggigit jarinya bila melihat teman seusianya pergi kesekolah berseragam rapih dengan memakai sepatu bagus. Santo tak pernah mengeluh dengan nasibnya, dia tidak pernah merepotkan pamannya yang lumpuh. Meski Santo bekerja sebagai pemulung memungut sampah-sampah mencari kardus-kardus, kaleng, atau apa saja yang dapat didaur ulang untuk dijual agar dapat menghasilkan uang Santo merasa senang asal dapat menyenangkan hati pamannya. Terkadang Santo pun menjadi tukang semir sepatu di pasar atau bahkan menjadi buruh pencuci piring di warung bi Inah tetangganya yang menjual sarapan nasi rames. Tiada pernah mengenal lelah adalah tekad Santo untuk menyambung hidup bersama pamannya. Terkadang hasil yang didapatnya pun diberikan untuk berobat sang paman. Meskipun begitu, Santo tetap bisa tertawa ria untuk menutupi keinginannya bersekolah dan menjadi pemain bola yang handal.
Seringkali teman-teman Santo mengajak latihan sepak bola, Santo tidak pernah malu dan berkecil hati walau dia tidak memakai sepatu bola seperti teman lainnya.
Selang beberapa waktu pelatih di timnya melihat kelincahan Santo dalam bermain bola, dari mulai cara menendang, menggiring bola, serta merebut bola dari lawan tampaknya Santo cukup mahir berlaga, dan akhirnya Santo pun dipercaya oleh timnya. Karena melihat bakat Santo dalam permainan pelatih pun memberi hadiah berupa kaos bola untuk Santo agar ikut bergabung dan rutin latihan, kebetulan lagi tim ini sedang mencari kekurangan pemain untuk pertandingan pada saat hari kemerdekaan nanti. Dari sekian banyak temannya Santo lah yang berusia paling kecil, namun juga yang paling lincah.
Mendengar hal tersebut, pamannya bangga pada keponakannya Santo. Namun Santo tetap terlihat murung karena tidak memiliki sepatu untuk pertandingan nanti. Melihat raut wajah Santo yang langsung berubah menjadi delapan puluh lima derajat, pamannya masuk ke kamar.
Seminggu kemudian pamannya menyiapkan kejutan untuk Santo, karena selama ini pamannya merasa prihatin melihat Santo latihan bola tanpa menggunakan alas kaki yang terkadang membuat kaki Santo lecet. Santo pun mendapat kejutan berupa sepatu bola milik sang paman pada saat paman masih dapat berlari, hadiah itu melengkapi kekurangan Santo sebagai pemain bola. Walau sepatu itu tampak terlihat butut dan agak besar, tapi Santo tertawa kegirangan melepas kesedihannya selama ini. Santo seakan mendapat kupon undian berhadiah hingga melompat dan berlari berputar-putar di depan halaman rumahnya.
Hingga menjelang kemerdekaan tiba, Santo pun mendapat panggilan dari pelatih untuk ikut bertanding guna merayakan hari kemerdekaan. Bagi Santo inilah kesempatan terbesar dalam hidupnya dalam mewujudkan impian Santo yang ingin menjadi pemain bola yang handal, Santo merasa telah benar-benar merdeka dari keterpurukan hidupnya yang seolah terlempar dan terbuang sebagai anak pertiwi. Tidak sia-sia Santo giat berlatih dan berlatih, karena dengan berhasilnya Santo masuk kedalam tim sepak bola adalah jalan untuk meraih impiannya, dia bertekad ingin memenangkan pertandingan pertamanya dalam dunia sepak bola.
Hingga benar keberuntungan telah berpihak padanya.
Santo berhasil menembus gawang dengan tendangannya yang jitu dan skor terakhir tim Santo unggul dua angka dari tim lawan. Santo sangat bangga pada dirinya sendiri begitupun rekan dan pamannya yang menyaksikan laga Santo dalam pertandingan.
"Ini karena warisan sepatu butut milik paman hingga tendangan Santo menembus gawang!" Tangkas Santo pada pamannya. Pamannya hanya tersenyum bangga pada Santo.
Semenjak hari itu Santo semakin sering diajak bertanding oleh tim-nya. Dan setiap memenangkan pertandingan Santo pun diberikan upah. Saat mendengar Santo tidak bersekolah, pelatihnya kaget. Anak seusia Santo harusnya sudah duduk dikelas 5 SD. Joko nama si pelatih merasa prihatin dengan cerita Santo, dan akan berusaha membantu Santo agar Santo dapat bersekolah.
"Kenapa di zaman semerdeka ini masih banyak anak bangsa yang tidak mengenyam pendidikan? Sangat mengejutkan!" tutur pak Joko singkat.
Mengenai bakat Santo dalam bermain sepak bola, pak Joko benar-benar kagum pada kemampuan Santo. Pak Joko selaku guru olahraga membuatkan surat pengantar untuk pengajuan beasiswa bantuan khusus anak yang kurang mampu agar Santo dapat bersekolah. Semua kebutuhan sekolah pun adalah hasil dari dana beasiswa. Akhirnya Santo dapat sekolah langsung menduduki kelas 5 SD. Tentunya Santo diuji dengan tes membaca dan menulis juga mengerjakan soal-soal semester yang telah diujicoba. Santo dapat mengerjakannya dengan baik, itu semua karena jasa sang paman yang mengajarkan Santo banyak hal. Paman Santo ternyata pernah mengenyam pendidikan meski tidak tinggi.
Santo merasa telah bebas dari penderitaannya yang selama ini terus menikam hidupnya. Dia berjanji tidak akan mengecewakan pak Joko dan pamannya, yang telah memerdekakan hidupnya untuk dapat menyapa dunia dan dapat duduk di bangku sekolah layaknya anak-anak lain seusianya.
Disaat langit mendung
Aku tersenyum
Disaat malam tanpa kerlipan bintang
Aku masih dapat tertawa
Disaat bulan bersinar separuh
Aku menatap, ingin menyapa dunia
Aku tak pernah bersedih
Meski hidupku seperti ini
Bukan karena nasib yang merenggut kebahagiaanku, tapi karena keadaan yang menjauhkanku dari kemerdekaan hidup
Pahit hidup menjeratku pada ruangan yang gelap
Aku terkunci dalam jeruji dunia dari keadilan
Cita-citaku terkubur pada kenyataan dan menenggelamkan impianku Hingga datanglah seorang yang baik hati mengeluarkanku dari kegelapan
Kini kudapat merengkuh mimpiku bersama orang yang telah membawaku pada cahaya kehidupan
Kurasakan sentuhan yang nyata melepasku dari duka karena tak bersekolah
Merdekakah negeriku...?
Merdekakah aku...?
Semoga negeri ini benar-benar dapat memerdekakan anak-anak yang bernasib malang sepertiku...
Taiwan, 22 Juni 2012. 11:20 PM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar