Mentari pagi ini seperti biasa mendekap hangat membalut tubuhku, menyuruhku segera bangun dan turun dari ranjang bertingkat. Lintang nama yang diberikan oleh ibu Anna padaku. Ibu Anna adalah kepala panti asuhan yang selalu mengayomi anak-anak yatim piatu sepertiku.
Orangtuaku meninggal karena kasus kecelakaan. Saat itu ibu memilih mempertahankanku agar dapat lahir dengan selamat, sementara kondisi ibu sendiri sangat lemah dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya setelah berhasil melahirkanku kedunia. Karena tidak diketahui keluarga lain yang dapat dihubungi, terpaksa aku ditaruh disebuah yayasan panti asuhan.
Aku berharap agar dapat bermimpi bertemu orangtuaku serta mendapat pelukkan hangat dari mereka, namun tampaknya hanya harapan yang semu dan bayangan semata dan semua tampak kosong belaka. Seperti apa wajah orangtuaku aku tak tahu. Terkadang bila melihat anak-anak lain dapat tertawa riang bersama ayah dan ibunya, hal itu hanya membuat hatiku teriris perih akan rasa iri yang terselubung.
Tak ada satupun anak di dunia ini yang menginginkan nasibnya menjadi sebatang kara. Karena aku yang seperti inilah selalu dipandang sebelah mata, yang membuatku merasa aku adalah orang terlemah hingga tak dapat melakukan apapun tanpa uluran tangan dan belas kasihan dari oranglain.
"Aku akan buktikan pada dunia bahwa aku tidak selemah yang digariskan oleh Tuhan akan takdir dan nasibku, aku akan berlari mengejar keretaku yang meskipun telah pergi jauh. Aku pasti akan dapat mengejar kereta yang lainnya" Pikirku dengan penuh keyakinan.
*Bergerak, berlarilah!
Terbang dan kejarlah!
Mulai dan semangatlah!
Bangkit dan tersenyumlah Lintang!*
Kata-kata itulah yang kujadikan motivasi hidupku. Hingga pada suatu hari aku berhasil menjadi dokter ahli bedah. Karena prestasikulah yang mengantarku menuju fakultas kedokteran, aku mendapat beasiswa. Mengingat masalalu orangtuaku yang tak dapat diselamatkan dari maut, dari sanalah aku tertarik untuk bercita-cita menjadi seorang dokter.
Tujuanku tidak lain hanya ingin menyelamatkan banyak orang agar tidak ada lagi kesedihan. Hingga datanglah pasien yang kronis. Ironisnya pasien ini punya daya kekebalan tubuh yang hebat. Rendy nama pasien yang kutangani. Dia mengalami luka bakar di wajah, dan terdapat luka-luka yang parah pada bagian tubuh lainnya. Rendy mengalami kecelakaan saat mengemudi dengan kecepatan tinggi akibatnya rem mobil yang sedang dikemudikan tiba-tiba blong dan akhirnya jatuh kedalam jurang.
"Rendy berhasil melompat saat mobilnya akan meledak" Tutur Toni saksi mata yang kebetulan sedang hiking dilokasi kejadian.
Tonilah yang membawa Rendy kerumah sakit terdekat tempatku bekerja. Sebagai orang yang paling diandalkan oleh banyak orang aku bekerja seprofesional mungkin untuk menangani masalah pada setiap pasien-pasienku, termasuk Rendy.
Kulakukan semampuku memberi pengobatan yang terbaik. Operasi Rendy pun berjalan lancar dan hanya menunggu waktu untuk pemulihan, perasaanku sedikitnya lega atas tanggungjawab sebagai dokter karena telah berhasil menyelamatkan pasienku. Entah kemungkinan Rendy tidak dapat bertahan hidup dalam kurun waktu yang lama akibat kecelakaan yang membuat ginjalnya pecah karena terjadi benturan hebat. Rendy harus mendapat ginjal baru agar dapat dilakukan pencangkokan. Kasusnya belum dapat kuselesaikan karena tidak adanya ginjal yang dapat menyelamatkan hidupnya.
Rendy memang sudah dapat bergerak dan bangun dari tempat tidurnya, seringkali dia kuajak pergi dari ruangan untuk sekedar mencuci mata agar dapat menyegarkan pikirannya. Dan hari itu Rendy menatapku dengan tatapan matanya yang begitu berbeda.
"Terimakasih banyak dok. telah meyembuhkan luka di wajah dan tubuhku!" ucap Rendy sambil menggenggam tanganku.
"Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang dokter" Jawabku singkat sambil kusunggingkan senyum tipisku.
Selang beberapa waktu aku dan Rendy pun resmi menjadi sepasang kekasih yang merasa paling bahagia sedunia. Seolah benar dengan pepatah dunia ini hanya milik kita berdua, saat ini yang kurasakan. Bila dalam minggu ini telah mendapatkan ginjal untuk Rendy maka operasi akan segera dilakukan.
Aku mencoba mencari orang yang akan dijadikan pendonor untuk pencangkokan ginjalnya. Sore harinya ponselku berdering terdapat panggilan masuk dari orang panti dengan lantunan lagu milik "Ungu" yang berjudul sayang yang kujadikan nada dering, aku mendapat kabar bahwa ibu Anna masuk rumah sakit kemarin. Aku langsung pergi menuju rumah sakit tempat ibu Anna dirawat.
Ibu Anna terjatuh saat turun dari tangga, kepalanya terbentur keramik dan mengalami gegar otak, kondisinya sangat parah. Tanpa kusadari airmataku tertiti dan merembes keseluruh permukaan wajahku. Ibu Anna sudah kuanggap sebagai ibu kandungku, aku tak ingin ibu Anna meninggalkanku seorang diri. Aku berusaha menangani ibu Anna agar selamat dari kritis.
Aku duduk di samping dan menjaganya, merawatnya seperti yang pernah dilakukannya padaku dulu. Kugenggam jemarinya berharap matanya dapat terbelalak melihatku. Saat aku terlelap dalam tidur karena kelelahan, ibu Anna merintih memanggil-manggil namaku.
"Li....lin..tang. Dimana kamu Nak?" katanya lirih.
Dan aku terbangun sekaligus merasa bahagia karena ibu Anna siuman.
"Aku ada di sampingmu Bu!" jelasku sambil kugenggan erat tangan ibu Anna. Ibu Anna terbangun hanya untuk berpamitan padaku dan hanya menyampaikan sebuah amanah bahwa dia rela mendonor ginjalnya untuk keselamatan Rendy sebelum dia pergi.
Operasi pencangkokan ginjal Rendy pun segera dilakukan mengingat kondisi ibu Anna yang lemah, dan prosesnya berjalan lancar. Rendy telah mendapatkan malaikat penolong. Setelahnya ibu Anna menutup matanya dan beristirahat dengan tenang. Tumpah semua airmataku hingga membanjiri seisi ruangan itu, aku sangat kehilangan
Ibu Anna. Sepertinya aku tak merelakan genggaman tangan ini terpisah oleh jarak dan waktu.
* * * * *
Semenjak Rendy sembuh sikapnya berubah padaku. Dia menjadi sensitif dan tempramental. Kadang tidak perduli padaku, hingga suatu ketika aku memergokinya di sebuah caffe yang sedang asyik berpelukan dengan wanita lain.
Saat itu aku ingin menghilangkan stres akibat ulah Rendy yang kian hari kian menyebalkan. Aku bergegas pulang tanpa terlihat oleh Rendy, setelah kulihat kejadian itu dengan mata kepalaku, aku putuskan hubunganku dengannya tanpa mengatakan sesuatu apapun. Aku pindah dari tempat tinggalku, mengganti nomor ponselku dan resign dari tempatku bekerja. Aku memilih pergi meninggalkan semua kenangan yang pernah dilalui bersama Rendy.
"Rendy mencariku, dia terus berusaha mencari keberadaanku," kabar itu kudapat dari sahabatku Natalia melalui email.
Aku sudah terlalu sakit atas sikap Rendy, dia mencintaiku hanya untuk membalas budi bukan karena ketulusan hati. Dan aku membuka klinik di pedasaan yang sangat sepi dan terpencil. Hal ini akan dapat membuatku melupakan Rendy.
Di sini aku mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Aku akan memulai hidupku yang baru dengan berlandaskan kertas putih seputih awan dilangit sana.
Kau tanamkan benih cinta padaku
Menyentuh hati, dan manisnya rayumu
Memberiku keteduhan dengan payung cintamu
Hingga aku terbuai dan terperanjat kedalam cinta
Tapi itu semua tlah rapuh
Kupendam lukaku dalam album kenangan
Kugali lubang dan mengubur namamu dari ingatan
Kuletakan karangan bunga bangkai, agar tak lagi mencium kemunafikan itu
Bersama waktu
Kubingkis hatiku dari rasa kecewa
Kubalut goresan luka yang menyayat rasa di dadaku
Ku obati derita hati yang mendera
Dan melupakan kenangan yang pernah terukir bersama
Takkan lagi kutinggalkan jejak
Takkan lagi kujilat liur yang kubuang
Takkan pernah ku berpikir untuk kembali
Semua tlah hangus terbakar oleh nanarnya dusta.
Taiwan, 07 Juni 2012 20:45 PM
Amanat nya apa?
BalasHapus