Translate

Translate

Minggu, 12 Agustus 2012

Nyanyian Peri Kecilku (Cerpen yang dibukukan oleh penerbit Harfeey)

Riva anak manis berpostur mungil nan cantik. Kini kutatap ia sudah semakin tumbuh besar, meskipun Riva bukan darah dagingku sendiri, namun aku dan Ari sangat menyayanginya. Aku membawanya pulang kerumah semenjak Riva baru lahir. Mela ibunya juga kerabat dekatku yang menitipkan Riva padaku, karena Mela hamil di luar nikah dan tidak mendapatkan pertanggung jawaban dari Hiro kekasihnya. Padahal hubungan Mela dan Hiro lama terjalin, mereka pacaran semenjak di bangku kuliah.

"Keterlaluan! Apa perlu kita labrak dia Mel?" ketusku dengan nada penuh emosi.

"Percuma saja Dea, Hiro malah menyuruhku untuk mengugurkan bayi ini," ungkap Mela sambil mengelus-elus kandungannya yang mulai membesar.

Semenjak saat itulah, Mela memilih mempertahankan kandungannya sendiri tanpa ada yang tahu sekalipun keluarganya. Sementara aku dan Ari adalah sepasang pengantin yang belum dikaruniai momongan. Hampir satu tahun usia pernikahan kami, namun Allah belum memberi momongan pada kami. Begitu Mela melahirkan bayinya, Mela berpikir bagaimana nasib anaknya kelak, lahir tanpa adanya seorang ayah? Anaknya pasti akan menjadi ejekan orang karena berstatus anak haram. Dengan kerendahan hati Mela, dia memutuskan memberikan buah hatinya padaku dan Ari.

"Dea, aku titipkan bayi ini padamu, rawat dan jaga dia baik-baik, aku ingin anak ini diberi nama Riva." Pesan Mela padaku saat di rumah sakit setelah persalinan.

"Aku dan Ari akan menyayangi Riva sepenuhnya Mel, jangan khawatir!" tandasku sambil memeluk Mela.

Mela pun menangis, seolah tangisannya mengoyak perih dalam relung hati dan jiwaku. Betapa sakitnya harus rela berpisah dengan darah dagingnya sendiri. Aku mengerti perasaan Mela, meskipun aku belum pernah menjadi seorang ibu. Malam itu pula kubawa Riva pergi dari pelukan Mela, karena Mela yang memintaku untuk segera membawanya.

"Dea, aku akan menengoknya pada setiap hari ulangtahunnya." Tutur Mela sambil mencium kening Riva.

Seperti janjinya padaku, setiap tahun Mela datang menengok Riva dan membawakan kado untuk putrinya. Saat ini Riva telah empat tahun sebelas bulan, usia yang bergitu menggemaskan. Riva sangat lincah dan lucu, bulan depan adalah ulangtahunnya yang ke lima. Di setiap perayaan ulang tahunnya, aku selalu mendiskusikannya pada Mela, aku ingin Mela bisa lebih dekat dengan anaknya.

Sampai saat ini Mela masih sendiri, dia masih belum dapat melupakan Hiro lantaran hadirnya Riva si peri kecilnya. Mela merasa bahagia menjalani harinya tanpa memperdulikan masa lalunya ditambah kesibukannya saat ini sebagai penata rias. Mela membuka bisnis kursus kecantikan dua tahun yang lalu dan usahanya saat ini membuahkan hasil, hingga membuka cabang. Sementara aku diberi kepercayaan olehNya untuk menjadi ibu, aku hamil tiga bulan.

"Selamat ya Dea, akhirnya kamu hamil!", ucap Mela ditelepon saat mendiskusikan pesta ulangtahun Riva.

Tahun ini Mela membuat serangkaian acara yang memakai tema "dongeng". Para undangan yang hadir wajib memakai gaun pesta sesuai tema yang dibuat. Semenjak umur empat tahun Riva sudah kumasukkan ke sekolah balita, kami mengundang guru dan teman-temannya datang. Mela pun mengundang anak buahnya untuk turut memeriahkan acara. Kali ini pesta Riva dirayakan sangat meriah, karena melihat bakat Riva yang pandai bernyanyi dan menari. Mela sengaja ingin meihat putrinya bernyanyi dihadapan para undangan yang hadir.

Bathinku bagai tersayat belati, aku ingin rahasianya terbuka agar Riva bisa memanggilnya mama.

"Sementara waktu hanya ini yang dapat kulakukan pada putriku. Suatu saat bila Riva dewasa, baru kukatakan rahasia ini," ungkap Mela saat kusuruh untuk berterus terang dengan menggenggam jemariku. Rasanya aku tak sanggup harus melihat wajah Mela bagaikan mayat hidup.

Pesta pun berjalan lancar, Riva tampak anggun dan begitu manis dengan gaun Peri bersayap putih, sambil membawa tongkat ajaib yang dikenakannya malam ini.

"Tante, aku cantik tidak malam ini?" tanya Riva pada Mela sambil melayangkan senyumnya yang indah ke udara. Mata Mela berkaca-kaca, seakan-akan air kristalnya akan pecah dari ketinggian.

"Cantik sekali Va..., ternyata gaun pilihan tante cocok dengan tubuh Riva!" ungkap Mela sambil mencium kening Riva.

"Melihat senyum itu hadir, aku telah puas tanpa berharap ia memanggilku mama" pikir Mela luruh.

Saat acara puncak yaitu memotong kue tar dan menyanyikan lagu selamat ulangtahun pun dimulai, Riva tampak dengan semangat yang memuncak, dia terlihat sangat bahagia. Apalagi mendengarkan suaranya yang keras terdengar merdu saat bernyanyi, tak terasa titian air bening Mela tercucur.

"Dea, coba lihat dan dengarkan nyanyian Peri kecilku!" sahut Mela padaku.

Dan di teras sana, tampak kehadiran seseorang yang juga melihat Riva bernyanyi. Dialah Hiro, ayah Riva! Hiro datang menengok putrinya yang kini berulangtahun. Ari menghampirinya dan menyuruhnya masuk ke dalam, tampaknya Hiro menolak. Mela terdiam, tubuhnya terasa kaku terpatri saat melihat orang yang menyakitinya hadir di pesta ulangtahun putrinya. Namun Riva telah melihat Ari yang tengah berbicara pada Hiro, Riva datang menghampiri mereka. Hiro tertegun memasang pandangannya yang seolah terbang saat melihat wajah putrinya yang telah tumbuh besar berdiri dihadapannya.

"Bolehkah Om memelukmu?" tanya Hiro. Riva melihat ke arah Ari dan Ari mengangguk.

"Selamat ulangtahun Riva" ucapnya lagi. Riva membalasnya dengan senyuman dan mengajak Hiro masuk ke dalam. Hiro tak dapat menolak ajakan Riva, karena aku tahu Hiro rindu pada Mela dan putrinya. Tampaknya Hiro menyesalinya, namun karena hati Mela yang masih dingin dan beku, sulit menerima Hiro kembali.

Di akhir acara Riva menyanyikan sebuah lagu milik Sherina dengan judul lagu "Oh Bunda" semakin mengharukan suasana. Hiro tertunduk dan Mela mengusap airmatanya dengan sapu tangan. Sementara Ari memelukku.

"Riva begitu berbakat, anak seusia dia mampu menghafal lagu-lagu dengan jumlah yang tidak sedikit!" tutur Ari kagum.

Tepuk tangan pun terdengar hebat, berbagai ucapan dari orang-orang tentang bakat Riva dalam bernyanyi telah Riva kantongi. Riva benar-benar memiliki talenta yang hebat. Akhirnya, aku dan Ari meminta Mela untuk memikirkan lagi tentang Hiro yang ingin kembali, karena Hiro masih mencintai Mela. Mela masih dengan pendiriannya, dia memilih hidup sendirian.

"Tersenyumlah kau Peri kecilku Jangan pernah bersedih Ibu kan slalu ada, meski ibu tak dapat hidup bersamamu Ibu akan menyayangi dan mendo'akan mu disetiap waktu.

Ibu bangga padamu!" Sahut Mela dan pergi.

Taiwan, 14-07-2012    19:05 PM



Tidak ada komentar:

Posting Komentar