Translate

Translate

Minggu, 12 Agustus 2012

Kado Terakhir Untuk Emak (Cerpen yang lolos seleksi di GPM)

Setiap kali pulang dari pasar, mata emak selalu tersorot aneh pada toko yang menjual kain atau bahan kiloan. Terkadang emak sesekali duduk bertengger lama di depan toko hanya sekedar melihat-lihat saja sambil menelan rasa keinginannya untuk membeli kain baru yang emak idam-idamkan.

Sudah hampir empat tahun setelah ditinggal bapak, emak tidak pernah mengganti kainnya untuk setelan kebayanya. Karena untuk memenuhi kebutuhan harian kami berdua saja emak sudah cukup lelah, ditambah dengan kesehatan emak yang mulai menurun. Emak jadi sering sakit-sakitan, mungkin emak terlalu capek bekerja seharian dari jam tiga pagi hingga siang menjelang dhuhur.

Sebagai pembuat lontong yang ditaruh ditiap-tiap pedagang di pasar, pagi-pagi sekali emak bangun menyiapkan lontong-lontongnya. Waktu istirahat emak sangat kurang hanya empat jam setiap harinya. Smentara aku pun bisa membantu emak bila sepulangnya dari sekolah.

Usaha ini sudah lama digeluti oleh nenekku dan emakku hanya meneruskannya saja. Sempat bapak melarang emak bekerja membuat lontong, karena melihat emak sering merintih kesakitan dipinggang dan perutnya karena Emak harus memanggul lontong-lontongnya ke para penjual sarapan di pasar. Karena banyaknya pelanggan yang sudah puluhan tahun hanya memasok lontong buatan kami sehingga emak bertekad untuk terus menekuninya sampai emak tak lagi punya tenaga.

Emak di mataku adalah sosok ibu yang hebat dan kuat. Emak tidak pernah berpikir untuk mencari pengganti bapak. Tidak sedikit tamu emak yang juga berasal dari tetangga desa kami mengajak emak menikah, namun emak selalu saja menolak.

Padahal aku tidak pernah berat hati bila emakku menikah lagi, aku hanya ingin di hari tua emak bisa hidup bahagia tanpa harus membanting tulang.

"Emak hanya ingin membesarkanmu dan melihatmu bisa menikah dengan laki-laki yang baik dan bertanggungjawab nduk, itu impian Emak," kata emak lirih.

Bapakku adalah seorang penarik becak, saat aku duduk di kelas satu SMP bapak meninggal akibat kecelakaan menjadi korban "tabrak lari".

* * *

Pada 20 tahun silam. Hari itu, hari mulai redup disertai dengan hujan. Bapak baru saja membeli kain baru untuk emak, karena hari ini adalah hari spesial ulang tahun emak. Tiap ulang tahun emak, bapak pasti membelikan kain atau selendang sebagai kadonya. Bapak sangat mengerti dengan selera emak, kali ini bapak memilih kain dengan corak khusus berwarna kecokelatan dan bermotif bunga-bunga.

"Emak pasti suka dengan kejutan itu" Pikir bapak.

Namun hujan semakin deras mengguyur jalan, juga disertai angin kencang hingga jalanan licin dan tertutup kabut.

Hampir saja becak bapak tertiup angin, karena bapak ingin segera tiba di rumah, bapak pun terus menggoes perdal becaknya tanpa memperdulikan hujan dan angin yang deras menyapu jalanan. Namun tiba-tiba, sebuah kendaraan pribadi menghantam becak bapak dari arah belakang. Bapak bersama becaknya terpental jauh, karena hujan semakin deras, akhirnya pengendara mobil melarikan diri dari tanggung jawabnya tanpa melihat kondisi korban.

Sementara sore itu pula, emak tengah asyik mempersiapkan menu istimewa kesukaan bapak. Sayur asem, ikan asin, lalapan lengkap dengan kerupuk udang pun telah siap disajikan di pawon. Namun tampaknya hingga beduk maghrib bapak pun belum pulang. Aku yang duduk di teras bersama perut yang bertalu-talu ibarat beduk menahan lapar hanya berani mencium aromanya saja.

"Emak, aku sudah lapar. Kita makan duluan saja ya mak!" kataku sambil menarik-narik tangan emak. Namun emak tampak gelisah dan memandangi wajahku.

"Nduk, sabar tunggu sebentar lagi ya! Kita sholat maghrib dulu saja, mungkin Bapakmu juga sedang sholat di jalan." Ucap emak lirih.

Setelah selesai sholat, tiba-tiba pak Rahmat ketua RT kami datang. Pak Rahmat memberi kabar bagai petir yang menyambar.

"Maaf Bu, saya ingin mengabarkan suami Ibu telah meninggal dunia!" cetus pak Rahmat berbela sungkawa.

Mendengar berita itu emak tercengang kaget, emak diam tanpa berkata apapun. Emak terjatuh seketika, tubuh emak terkulai di lantai yang belum berubin di depan rumah kami. Wajah emak berubah pucat dan emak tidak sadarkan diri.

"Emaaaaakkkk....!" Teriakku sekeras mungkin membangunkan emakku yang terkapar lemas tak sadarkan diri.

Sementara aku tidak bisa melakukan apa-apa terkecuali mendampingi emakku hingga tersadar.

Akhirnya jasad bapak diantarkan kerumah kami, banyak orang yang datang untuk membacakan doaa. Kupeluk tubuh bapak erat, tubuhnya begitu dingin dan kutatap masakan buatan emak yang khusus dihidangkan untuk bapak pun menjadi dingin, sedingin suasana malam hari ini. Tidak beberapa lama kemudian emak akhirnya siuman dan langsung kupeluk tubuhnya erat!

"Nduk, relakan Bapakmu ya?" sambil mengelus-elus rambutku.

* * *

Semenjak kejadian itu, emak tidak pernah lagi membeli kain baru atau apapun termasuk baju kebaya baru. Karena bila mengingat kain baru, emak pasti ingat kematian bapak yang begitu tragis. Di hati emak, bapak adalah suami yang baik dan bertanggung jawab pada keluarganya, karena itulah cita-cita emak hanya ingin melihatku menikah dengan laki-laki seperti bapak.

Emak selalu mendoakan dan memberikan yang terbaik untukku, meskipun kami keluarga yang tak mampu namun emak selalu berusaha untuk dapat memenuhi keinginanku.

Karena melihat emak seperti itu, aku tak tega. Hatiku bagai tersengat lebah. Sakit, pilu yang menggores ke relung-relung, terasa sesak nafas ini. Tanpa sepengetahuan emak, aku kumpulkan uang jajanku sedikit demi sediki di pendil yang kujadikan sebagai tempat menyembunyikan uangku atau celengan.

Tak terasa aku pun tamat SMA. Aku berencana saat ulang tahun emakku, kubuka simpananku untuk membelikan kian dan kebaya baru untuknya. Ulang tahun emakku hampir dekat, tinggal menunggu dua bulan lagi tepatnya Mei, tanggal 24.

Suatu ketika kondisi badan emak menurun dan selama satu minggu emak tidak jualan lontong ke pasar. Emak terpaksa harus banyak istirahat dan aku sudah membawa emak ke puskesmas terdekat, namun pihak puskesmas memberi surat pengantar agar emak sebaiknya dibawa ke rumah sakit. Masalah biaya, emak diberi keringanan.

Ternyata emakku mengidap penyakit usus buntu dan paru-paru basah. Paru-paru emak sudah parah dan dokter menyuruh untuk segera melakukan operasi, namun emak menolak karena tidak adanya biaya. Aku hanya diam mengigit rasa kecemasanku akan kesehatan emakku. Sedang aku tidak dapat berbuat apapun untuk membantu emakku.

"Oh Tuhan...!!, Cobaan apa lagi yang Engkau berikan padaku?" do'aku lirih.

"Pantas saja selama ini emak sering mengeluh sakit perut dan batuk-batuk seperti suara ringkik kuda yang kelaparan!" Pikirku cemas tak karuan.

Uang tabungan emak pun telah habis untuk menebus obat. Dan aku tak berani menyentuh uangku yang ingin kubelikan sebagai kejutan untuknya. Karena kondisi seperti itulah emak terpaksa membuat lontong lagi, tidak ada cara lain. Meski sakit telah menggerogoti tubuhnya, emak terus bekerja.

Pagi saat emakku pergi mengantar lontong-lontongnya ke para langganannya di pasar, ternyata mereka sudah memasok lontong dari orang lain. Emakku terkejut dan tak tau lagi harus bagaimana? Melihat emakku begitu lemah dan nampak lontong bawaanya penuh di dalam bakul, akhirnya mereka terpaksa mengambilnya karena merasa tidak enak telah lama menambil lontong di emakku, namun tidak untuk hari-hari berikutnya.

Emak kebingungan, wajahnya terlihat pucat pasi saat aku menyapanya setelah aku baru pulang dari sekolah, emakku begitu sedih.

"Nduk, besok ndak usah bantu emak buat lontong lagi. Pelanggan emak sudah mengambil lontong orang lain!" tutur emak sambil mengusap pelipisnya yang basah.

"Apa Mak?"

"Iya Nduk! Emak kehilangan mata pencaharian kita," bubuh emak menjelaskan.

Aku semakin bingung, rasanya hidupku dan emak terhimpit oleh jeruji ketidakadilan dunia. Aku marah pada Tuhanku! Dia terasa menelentarkanku dan emak. Runtuh rasanya hidup kami, dinding-dinding hatiku hancur berkeping-keping!

Emak pun menangis, buliran beningnya deras mengalir.

"Nduk maafkan Emak ya, Nduk!" tangisnya pilu

"Emak ini bicara apa? Aku yang seharusmya minta maaf karena belum bisa bekerja apa-apa," jawabku penuh rintih dan derai air mata yang menggenangi rumah kami.

Nasib malang memang tak dapat dicegah. Penyakit emakku kumat, emak merintih kesakitan. Aku segera meminta bantuan pak Lurah agar segera membawa emak ke rumah sakit. Emak pun diinfus, terbaring di atas ranjang.

Besok ulang tahunnya. Aku sudah membelikan kain dan baju kebaya untuknya. Karena ini pertama kalinya aku berhasil mengumpulkan sisa uang jajanku untuk membelikan sesuatu pada emakku.

"Emak, coba lihat..! Aku beli buat Emak!" kusodorkan kotak yang kubungkus rapi dengan pita berwarna kuning, warna kesukaan emakku.

"Apa itu Nduk?" tanyanya pelan.

"Ini kain dan kebaya baru yang kubeli, Mak!" jawabku datar.

Emak heran, matanya terbelalak kaget memandang wajahku. Binar-binar matanya mulai menggenang dan emak memelukku. Belum sempat emak memakai kebayanya, emakku pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya.

Dia meninggal setelah mengucapkan kata terimakasihnya padaku.

"Emaaaaakk.....!!" jeritku tanpa kuperdulikan pasien yang ada di samping emak.

Perawat pun datang memeriksa nadi emak. Ternyata ia telah wafat.

Taiwan, 04082012

*Pawon=dapur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar