Translate

Translate

Senin, 16 Juli 2012

Cinta Berpayung Dusta (Cerpen yang dibukukan penerbit Afsoh Publisher)

Mentari pagi ini seperti biasa mendekap hangat membalut tubuhku, menyuruhku segera bangun dan turun dari ranjang bertingkat. Lintang nama yang diberikan oleh ibu Anna padaku. Ibu Anna adalah kepala panti asuhan yang selalu mengayomi anak-anak yatim piatu sepertiku.

Orangtuaku meninggal karena kasus kecelakaan. Saat itu ibu memilih mempertahankanku agar dapat lahir dengan selamat, sementara kondisi ibu sendiri sangat lemah dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya setelah berhasil melahirkanku kedunia. Karena tidak diketahui keluarga lain yang dapat dihubungi, terpaksa aku ditaruh disebuah yayasan panti asuhan.

Aku berharap agar dapat bermimpi bertemu orangtuaku serta mendapat pelukkan hangat dari mereka, namun tampaknya hanya harapan yang semu dan bayangan semata dan semua tampak kosong belaka. Seperti apa wajah orangtuaku aku tak tahu. Terkadang bila melihat anak-anak lain dapat tertawa riang bersama ayah dan ibunya, hal itu hanya membuat hatiku teriris perih akan rasa iri yang terselubung.

Tak ada satupun anak di dunia ini yang menginginkan nasibnya menjadi sebatang kara. Karena aku yang seperti inilah selalu dipandang sebelah mata, yang membuatku merasa aku adalah orang terlemah hingga tak dapat melakukan apapun tanpa uluran tangan dan belas kasihan dari oranglain.

"Aku akan buktikan pada dunia bahwa aku tidak selemah yang digariskan oleh Tuhan akan takdir dan nasibku, aku akan berlari mengejar keretaku yang meskipun telah pergi jauh. Aku pasti akan dapat mengejar kereta yang lainnya" Pikirku dengan penuh keyakinan.

*Bergerak, berlarilah!
Terbang dan kejarlah!
Mulai dan semangatlah!
Bangkit dan tersenyumlah Lintang!*

Kata-kata itulah yang kujadikan motivasi hidupku. Hingga pada suatu hari aku berhasil menjadi dokter ahli bedah. Karena prestasikulah yang mengantarku menuju fakultas kedokteran, aku mendapat beasiswa. Mengingat masalalu orangtuaku yang tak dapat diselamatkan dari maut, dari sanalah aku tertarik untuk bercita-cita menjadi seorang dokter.

Tujuanku tidak lain hanya ingin menyelamatkan banyak orang agar tidak ada lagi kesedihan. Hingga datanglah pasien yang kronis. Ironisnya pasien ini punya daya kekebalan tubuh yang hebat. Rendy nama pasien yang kutangani. Dia mengalami luka bakar di wajah, dan terdapat luka-luka yang parah pada bagian tubuh lainnya. Rendy mengalami kecelakaan saat mengemudi dengan kecepatan tinggi akibatnya rem mobil yang sedang dikemudikan tiba-tiba blong dan akhirnya jatuh kedalam jurang.

"Rendy berhasil melompat saat mobilnya akan meledak" Tutur Toni saksi mata yang kebetulan sedang hiking dilokasi kejadian.

Tonilah yang membawa Rendy kerumah sakit terdekat tempatku bekerja. Sebagai orang yang paling diandalkan oleh banyak orang aku bekerja seprofesional mungkin untuk menangani masalah pada setiap pasien-pasienku, termasuk Rendy.

Kulakukan semampuku memberi pengobatan yang terbaik. Operasi Rendy pun berjalan lancar dan hanya menunggu waktu untuk pemulihan, perasaanku sedikitnya lega atas tanggungjawab sebagai dokter karena telah berhasil menyelamatkan pasienku. Entah kemungkinan Rendy tidak dapat bertahan hidup dalam kurun waktu yang lama akibat kecelakaan yang membuat ginjalnya pecah karena terjadi benturan hebat. Rendy harus mendapat ginjal baru agar dapat dilakukan pencangkokan. Kasusnya belum dapat kuselesaikan karena tidak adanya ginjal yang dapat menyelamatkan hidupnya.

Rendy memang sudah dapat bergerak dan bangun dari tempat tidurnya, seringkali dia kuajak pergi dari ruangan untuk sekedar mencuci mata agar dapat menyegarkan pikirannya. Dan hari itu Rendy menatapku dengan tatapan matanya yang begitu berbeda.

"Terimakasih banyak dok. telah meyembuhkan luka di wajah dan tubuhku!" ucap Rendy sambil menggenggam tanganku.

"Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang dokter" Jawabku singkat sambil kusunggingkan senyum tipisku.

Selang beberapa waktu aku dan Rendy pun resmi menjadi sepasang kekasih yang merasa paling bahagia sedunia. Seolah benar dengan pepatah dunia ini hanya milik kita berdua, saat ini yang kurasakan. Bila dalam minggu ini telah mendapatkan ginjal untuk Rendy maka operasi akan segera dilakukan.

Aku mencoba mencari orang yang akan dijadikan pendonor untuk pencangkokan ginjalnya. Sore harinya ponselku berdering terdapat panggilan masuk dari orang panti dengan lantunan lagu milik "Ungu" yang berjudul sayang yang kujadikan nada dering, aku mendapat kabar bahwa ibu Anna masuk rumah sakit kemarin. Aku langsung pergi menuju rumah sakit tempat ibu Anna dirawat.

Ibu Anna terjatuh saat turun dari tangga, kepalanya terbentur keramik dan mengalami gegar otak, kondisinya sangat parah. Tanpa kusadari airmataku tertiti dan merembes keseluruh permukaan wajahku. Ibu Anna sudah kuanggap sebagai ibu kandungku, aku tak ingin ibu Anna meninggalkanku seorang diri. Aku berusaha menangani ibu Anna agar selamat dari kritis.

Aku duduk di samping dan menjaganya, merawatnya seperti yang pernah dilakukannya padaku dulu. Kugenggam jemarinya berharap matanya dapat terbelalak melihatku. Saat aku terlelap dalam tidur karena kelelahan, ibu Anna merintih memanggil-manggil namaku.

"Li....lin..tang. Dimana kamu Nak?" katanya lirih.

Dan aku terbangun sekaligus merasa bahagia karena ibu Anna siuman.

"Aku ada di sampingmu Bu!" jelasku sambil kugenggan erat tangan ibu Anna. Ibu Anna terbangun hanya untuk berpamitan padaku dan hanya menyampaikan sebuah amanah bahwa dia rela mendonor ginjalnya untuk keselamatan Rendy sebelum dia pergi.

Operasi pencangkokan ginjal Rendy pun segera dilakukan mengingat kondisi ibu Anna yang lemah, dan prosesnya berjalan lancar. Rendy telah mendapatkan malaikat penolong. Setelahnya ibu Anna menutup matanya dan beristirahat dengan tenang. Tumpah semua airmataku hingga membanjiri seisi ruangan itu, aku sangat kehilangan
Ibu Anna. Sepertinya aku tak merelakan genggaman tangan ini terpisah oleh jarak dan waktu.

* * * * *
Semenjak Rendy sembuh sikapnya berubah padaku. Dia menjadi sensitif dan tempramental. Kadang tidak perduli padaku, hingga suatu ketika aku memergokinya di sebuah caffe yang sedang asyik berpelukan dengan wanita lain.

Saat itu aku ingin menghilangkan stres akibat ulah Rendy yang kian hari kian menyebalkan. Aku bergegas pulang tanpa terlihat oleh Rendy, setelah kulihat kejadian itu dengan mata kepalaku, aku putuskan hubunganku dengannya tanpa mengatakan sesuatu apapun. Aku pindah dari tempat tinggalku, mengganti nomor ponselku dan resign dari tempatku bekerja. Aku memilih pergi meninggalkan semua kenangan yang pernah dilalui bersama Rendy.

"Rendy mencariku, dia terus berusaha mencari keberadaanku," kabar itu kudapat dari sahabatku Natalia melalui email.

Aku sudah terlalu sakit atas sikap Rendy, dia mencintaiku hanya untuk membalas budi bukan karena ketulusan hati. Dan aku membuka klinik di pedasaan yang sangat sepi dan terpencil. Hal ini akan dapat  membuatku melupakan Rendy.

Di sini aku mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Aku akan memulai hidupku yang baru dengan berlandaskan kertas putih seputih awan dilangit sana.

Kau tanamkan benih cinta padaku
Menyentuh hati, dan manisnya rayumu
Memberiku keteduhan dengan payung cintamu
Hingga aku terbuai dan terperanjat kedalam cinta

Tapi itu semua tlah rapuh
Kupendam lukaku dalam album kenangan
Kugali lubang dan mengubur namamu dari ingatan
Kuletakan karangan bunga bangkai, agar tak lagi mencium kemunafikan itu

Bersama waktu
Kubingkis hatiku dari rasa kecewa
Kubalut goresan luka yang menyayat rasa di dadaku
Ku obati derita hati yang mendera
Dan melupakan kenangan yang pernah terukir bersama

Takkan lagi kutinggalkan jejak
Takkan lagi kujilat liur yang kubuang
Takkan pernah ku berpikir untuk kembali
Semua tlah hangus terbakar oleh nanarnya dusta.

Taiwan, 07 Juni 2012  20:45 PM

Warisan Sepatu Butut (Cerpen yang dibukukan)

Sore itu yang kebetulan sehabis hujan membuat perut Santo keroncongan karena lapar. Seharian penuh Santo mencari rongsokan di jalanan untuk dijual, karena sedari pagi perut Santo hanya terisi bubur dan ubi bakar buatan pamannya Toni. Karena di rumah sudah kehabisan lauk, Santo diajak mancing oleh pamannya. Meski dalam keadaan sangat lelah terlilit oleh rasa lapar Santo tetap saja  menurut dan mengikuti ajakan sang paman pergi memancing dan berjalan di belakang bak anak itik yang mengekor induknya. Santo memasang wajah kusut yang tampak ditekuk seperti huruf U dan terlihat murung saat berjalan.  Sementara sang paman yang berjalan lebih dulu tengah sampai di tepi anak sungai dan sedang sibuk mempersiapkan umpan untuk memulai melempar pancingannya ke tengah sungai.

Setelah memperhatikan gelagat Santo yang sedari tadi gelisah, paman pun mencoba menanyakannya.

"Kamu kenapa To?" tanya paman tanpa basa-basi. Santo tetap diam seolah malah mengunci mulutnya rapat-rapat.

Entah apa yang sedang dipikiran Santo saat ini? Dia terus melempari anak sungai dengan kerikil dan tanah kering yang Santo kumpulkan di samping umpan ikan. Tiba-tiba Santo berteriak histeris dari arah samping pamannya seperti kesurupan makhluk ghaib yang membuat pamannya kaget dan kebingungan.

Paman Santo panik dan langsung menggoyang-goyangkan tubuh Santo dan bertanya untuk yang kedua kalinya dengan nada yang keras.

"Santo, kenapa kamu? Bicara saja padaku!" Tandas paman yang menyuruh Santo berterus-terang.

Akhirnya Santo menundukkan kepalanya dan masih berdiri tegap di depan pamannya tanpa berani menatap wajah sang paman.

"Aku ingin sekolah" Jawab Santo singkat. Setelahnya Santo langsung berlari pulang kerumah dan meninggalkan pamannya yang masih menunggu hasil pancingan. Paman hanya terdiam mendengar kata-kata Santo tadi.

"Memang sudah seharusnya Santo berada di sekolah dan melakukan kegiatan seperti anak-anak lainnya" Pikir paman datar.

Usia Santo kini sudah hampir 10 tahun, namun karena kondisi keluarga Santo yang tidak memungkinkan Santo bersekolah, akhirnya Santo hanya berdiam diri di rumah membantu pamannya untuk mengais rezeki. Apalagi melihat kondisi fisik sang paman yang cacat karena struk di kakinya semenjak tiga tahun yang lalu, Santo tidak mungkin memaksa pamannya atau merengek-rengek untuk menyekolahkannya.

Pamannya hanya sebagai tukang parkir atau pegawai serabutan yang mencari uang dengan penghasilan yang tidak menentu darimana datangnya. Orang cacat seperti itu tidak dapat bekerja dengan pekerjaan berat layaknya orang berfisik normal. Santo adalah anak yang rajin dan hobi bermain sepak bola. Meski Santo tidak sekolah, tapi Santo tetap giat belajar membaca dan menulis. Ayah Santo pergi merantau ke Sumatra semenjak Santo lahir, sementara ibu Santo pergi dari kehidupan Santo karena terkena serangan jantung akibat mendengar kabar buruk bahwa ayah Santo menikah lagi.

Lengkap sudah rasanya penderitaan Santo. Santo hanya dapat menggigit jarinya bila melihat teman seusianya pergi kesekolah berseragam rapih dengan memakai sepatu bagus. Santo tak pernah mengeluh dengan nasibnya, dia tidak pernah merepotkan pamannya yang lumpuh. Meski Santo bekerja sebagai pemulung memungut sampah-sampah mencari kardus-kardus, kaleng, atau apa saja yang dapat didaur ulang untuk dijual agar dapat menghasilkan uang Santo merasa senang asal dapat menyenangkan hati pamannya. Terkadang Santo pun menjadi tukang semir sepatu di pasar atau bahkan menjadi buruh pencuci piring di warung bi Inah tetangganya yang menjual sarapan nasi rames. Tiada pernah mengenal lelah adalah tekad Santo untuk menyambung hidup bersama pamannya. Terkadang hasil yang didapatnya pun diberikan untuk berobat sang paman. Meskipun begitu, Santo tetap bisa tertawa ria untuk menutupi keinginannya bersekolah dan menjadi pemain bola yang handal.
Seringkali teman-teman Santo mengajak latihan sepak bola, Santo tidak pernah malu dan berkecil hati walau dia tidak memakai sepatu bola seperti teman lainnya.

Selang beberapa waktu pelatih di timnya melihat kelincahan Santo dalam bermain bola, dari mulai cara menendang, menggiring bola, serta merebut bola dari lawan tampaknya Santo cukup mahir berlaga, dan akhirnya Santo pun dipercaya oleh timnya. Karena melihat bakat Santo dalam permainan pelatih pun memberi hadiah berupa kaos bola untuk Santo agar ikut bergabung dan rutin latihan, kebetulan lagi tim ini sedang mencari kekurangan pemain untuk pertandingan pada saat hari kemerdekaan nanti. Dari sekian banyak temannya Santo lah   yang berusia paling kecil, namun juga yang paling lincah.

Mendengar hal tersebut, pamannya bangga pada keponakannya Santo. Namun Santo tetap terlihat murung karena tidak memiliki sepatu untuk pertandingan nanti. Melihat raut wajah Santo yang langsung berubah menjadi delapan puluh lima derajat, pamannya masuk ke kamar.

Seminggu kemudian pamannya menyiapkan kejutan untuk Santo, karena selama ini pamannya merasa prihatin melihat Santo latihan bola tanpa menggunakan alas kaki yang terkadang membuat kaki Santo lecet. Santo pun mendapat kejutan berupa sepatu bola milik sang paman pada saat paman masih dapat berlari, hadiah itu melengkapi kekurangan Santo sebagai pemain bola. Walau sepatu itu tampak terlihat butut dan agak besar, tapi Santo tertawa kegirangan melepas kesedihannya selama ini. Santo seakan mendapat kupon undian berhadiah hingga melompat dan berlari berputar-putar di depan halaman rumahnya.

Hingga menjelang kemerdekaan tiba, Santo pun mendapat panggilan dari pelatih untuk ikut bertanding guna merayakan hari kemerdekaan. Bagi Santo inilah kesempatan terbesar dalam hidupnya dalam mewujudkan impian Santo yang ingin menjadi pemain bola yang handal, Santo merasa telah benar-benar merdeka dari keterpurukan hidupnya yang seolah terlempar dan terbuang sebagai anak pertiwi. Tidak sia-sia Santo giat berlatih dan berlatih, karena dengan berhasilnya Santo masuk kedalam tim sepak bola adalah jalan untuk meraih impiannya, dia bertekad ingin memenangkan pertandingan pertamanya dalam dunia sepak bola.
Hingga benar keberuntungan telah berpihak padanya.

Santo berhasil menembus gawang dengan tendangannya yang jitu dan skor terakhir tim Santo unggul dua angka dari tim lawan. Santo sangat bangga pada dirinya sendiri begitupun rekan dan pamannya yang menyaksikan laga Santo dalam pertandingan.

"Ini karena warisan sepatu butut milik paman hingga tendangan Santo menembus gawang!" Tangkas Santo pada pamannya. Pamannya hanya tersenyum bangga pada Santo.

Semenjak hari itu Santo semakin sering diajak bertanding oleh tim-nya. Dan setiap memenangkan pertandingan Santo pun diberikan upah. Saat mendengar Santo tidak bersekolah, pelatihnya kaget. Anak seusia Santo harusnya sudah duduk dikelas 5 SD. Joko nama si pelatih merasa prihatin dengan cerita Santo, dan akan berusaha membantu Santo agar Santo dapat bersekolah.

"Kenapa di zaman semerdeka ini masih banyak anak bangsa yang tidak mengenyam pendidikan? Sangat mengejutkan!" tutur pak Joko singkat.

Mengenai bakat Santo dalam bermain sepak bola, pak Joko benar-benar kagum pada kemampuan Santo. Pak Joko selaku guru olahraga membuatkan surat pengantar untuk pengajuan beasiswa bantuan khusus anak yang kurang mampu agar Santo dapat bersekolah. Semua kebutuhan sekolah pun adalah hasil dari dana beasiswa. Akhirnya Santo dapat sekolah langsung menduduki kelas 5 SD. Tentunya Santo diuji dengan tes membaca dan menulis juga mengerjakan soal-soal semester yang telah diujicoba. Santo dapat mengerjakannya dengan baik, itu semua karena jasa sang paman yang mengajarkan Santo banyak hal. Paman Santo ternyata pernah mengenyam pendidikan meski tidak tinggi.

Santo merasa telah bebas dari penderitaannya yang selama ini terus menikam hidupnya. Dia berjanji tidak akan mengecewakan pak Joko dan pamannya, yang telah memerdekakan hidupnya untuk dapat menyapa dunia dan dapat duduk di bangku sekolah layaknya anak-anak lain seusianya.

Disaat langit mendung
Aku tersenyum
Disaat malam tanpa kerlipan bintang
Aku masih dapat tertawa
Disaat bulan bersinar separuh
Aku menatap, ingin menyapa dunia

Aku tak pernah bersedih
Meski hidupku seperti ini
Bukan karena nasib yang merenggut kebahagiaanku, tapi karena keadaan yang menjauhkanku dari kemerdekaan hidup

Pahit hidup menjeratku pada ruangan yang gelap
Aku terkunci dalam jeruji dunia dari keadilan
Cita-citaku terkubur pada kenyataan dan menenggelamkan impianku Hingga datanglah seorang yang baik hati mengeluarkanku dari kegelapan

Kini kudapat merengkuh mimpiku bersama orang yang telah membawaku pada cahaya kehidupan
Kurasakan sentuhan yang nyata melepasku dari duka karena tak bersekolah

Merdekakah negeriku...?
Merdekakah aku...?
Semoga negeri ini benar-benar dapat memerdekakan anak-anak yang bernasib malang sepertiku...

Taiwan, 22 Juni 2012.  11:20 PM

Wahai Pertiwiku Indonesia (Puisi)

Wahai negeriku Indonesia
Dimanakah pesona dan keluwesanmu dalam mengayomi kami?
Dimanakah sandaran kokoh untuk kami?
Dimanakah citra keanggunanmu sebagai ibu Pertiwi?

Hapuskan derai airmata yang tercucur pada kelopak mata yang tersisih!
Hangus dan lenyapkan penderitaan kami rakyatmu!
Yang membuat kami merintih perih

Dengarkanlah jeritan suara hati kami
Tengoklah kami sejenak!
Betapa kami mengharapkan dekapan hangatmu wahai ibu Pertiwi
Rangkul kami erat, agar kami merasa nyaman!

Padamu kami berharap!
Padamu kami tanamkan impian!
Padamu kami curahkan segalanya!
Ciptakanlah senyumanmu untuk kami rakyatmu

Wahai ibu Pertiwiku
Rajut dan rangkai kembali renda-renda yang pernah sobek!
Kibarkan semangatmu untuk maju!
Lantunkan lagu kemerdekaan dengan bukti!
Bangkit dan bangkitlah dari keterpurukanmu sekarang juga!

Sentuhanmu yang tulus, akan mengantarkan kami pada kepuasan
Membawa kami pada kegembiraan
Semoga di esok hari tak ada lagi kegelisahan
Yang menikam kami dari ketidakberdayaan

Taiwan, 12 Juli 2012

Kerdilnya Negara Indonesia di Mata Negara Lain (Artikel yang lolos kontest)

Terkait dengan masalah perekonomian dunia, Indonesia termasuk ke dalam kategori negara miskin terbesar ke empat setelah negara India, hal ini tercatat dalam rekor dunia tentang negara-negara miskin terbelakang.

Indonesia dulu memang sangat dikagumi oleh bangsa lain karena dikenal dengan keramah-tamahannya, dikenal dengan suku budayanya yang beraneka ragam, bahkan dikenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah ruah. Tapi semua itu kini hanyalah menjadi dongeng dan momok untuk anak negerinya dalam mengenyam pendidikan Sejarah bangsa atau bahkan dapat diartikan sebagai "kenangan".

Semua itu terjadi dikarenakan masyarakat Indonesia terlebih dari sikap Pemerintah, yang tidak bisa memanfaatkan kekayaan alam yang ada, tidak dapat memanfaatkan fasilitas yang diberikan Tuhan Sang Pencipta agar mengolahnya dengan baik, tidak dapat melestarikan agar terus produktif. Sehingga akhirnya negeri ini menjadi kacau balau, yang menyebabnya masyarakat Indonesia banyak yang terpuruk akibat krisis perekonomian yang melanda Indonesia.

Banyak faktor-faktor negatif yang mencoreng negara Indonesia dalam kacamata dunia. Diantaranya adalah disebabkan sering terjadinya kerusuhan dalam era globalisasi, yang mengakibatkan Warga Negara Asing ketakutan datang untuk menikmati wisata di Indonesia. Sehingga mengurangi asset terbesar yang dihasilkan oleh bangsa dari para turis mancanegara. Pun disebabkan oleh merajalelanya para pengamen jalanan maupun pedagang asongan yang menggunakan tindak kekerasan berupa paksaan. Mengapa hal itu dibiarkan saja terjadi?, Padahal sangat meresahkan para turis-turis domestik maupun turis mancanegara lainnya.

Kenapa pemerintah tidak ada penindak lanjutan yang tegas untuk mengamankannya atau para aparat yang berwenang tidak sergap dalam menertibkan situasi seperti itu, sehingga membuat ketakutan para pengunjung bahkan menjadi kapok. Juga tingkat pengangguran yang cukup hebat dalam tiap tahunnya, sementara populasi penduduk Indonesia terus meningkat pada tiap-tiap periode, terakhir disebabkan oleh sikap Pemerintah yang kurang tanggap atau lambat dalam memotori roda kehidupan rakyatnya. Sehingga memicu hal-hal dan tindakan yang amoral akibat kurangnya lapangan kerja di negeri sendiri.

Untuk itu hampir seluruh masyarakat pedesaan di Indonesia lebih memilih bekerja di luar negeri dibanding di negaranya sendiri, karena merasa mendapat hasil yang jauh lebih unggul bila dibandingkan dari hasil pendapatan perkapita di negeri sendiri. Hal demikian telah gamblang dituturkan mengenai gambaran dari negara kita di mata negara asing. Tak ayal negeri ini dipandang dengan sebelah mata oleh bangsa lain karena kebodohan dan kurangnya kesadaran akan pendidikan pada perekonomian dalam masing-masing keluarga. Meskipun pada realita tidak semua masyarakat seperti yang telah digambarkan tadi akan tetapi untuk mengklaim atau mengantisipasi permasalahan tersebut, agar nama baik negara kita di mata negara asing tidak terinjak-injak.

Tentunya hal terpenting yang harus dihimbau secara garis besar yaitu harus didasari dengan kesadaran pribadi masing-masing, membangkitkan semangat pada diri masing-masing, menggunakan hati nurani dan kasih sayang, bergotong-royong agar dapat menciptakan kebersamaan persatuan dan kesatuan bangsa agar tetap utuh seperti yang tercantum pada "Panca Sila."

Juga seperti terpapar dalam slogan yang dijadikan semboyan negara yang berbunyi "Bhineka Tunggal Ika"  yang memberi artian bahwa ; "Walau berbeda-beda tapi tetap satu jua." Tampaknya itu hanya terpampang dengan maraknya yang diserukan oleh bangsa. Namun kenyataannya, justru tidak demikian. Bahkan keadaan Indonesia saat ini lebih tepatnya dikiaskan dengan motto "Bersatu kita teguh,bercerai kita runtuh."

Dulu masyarakat Indonesia benar-benar bersatu dalam menuju gerbang kemerdekaan. Sehingga, dapat mengusir para penjajah dunia. Semangat pun begitu tinggi demi membangun bangsa dengan segenap jiwa raga membentuk pasukan yang kokoh dan gigih agar setelahnya merdeka negara Indonesia akan menjadi negara yang super makmur dan "Gemah Ripah loh Jinawi".

Mengapa sekarang beda situasi dan kondisinya malah menjadi negeri yang runtuh tercerai-berai. Banyak diantaranya masyarakat Indonesia yang tertindas. Tak heran termonitor dengan motif "yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin."

Beginilah kenyatanya yang dialami bangsa Indonesia. Untuk menghindari hal tersebut dan agar terus dapat menyambung hidup, masyarakat Indonesia banyak yang lebih memilih untuk pergi menjadi seorang "Buruh Migrant atau Tenaga Kerja Indonesia."

Bukan lantaran kebodohon masyarakat, sehingga pergi meninggalkan negerinya. Tapi dikarenakan sulitnya menghasilkan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian. Tidak sedikit pula para Sarjana yang pengangguran, mungkin dikarenakan saat telah mendapat pekerjaan merasa tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya, dan mendapat gaji rendah.

"Saya lebih memilih untuk tidak bekerja sekalipun dari pada mendapatkan upah rendah yang tidak sesuai skill." Tutur rekan saya.

Atau banyaknya para instansi-instansi perusahaan yang meminta uang muka sebagai uang jaminan bila ingin bergabung di perusahaan tersebut. Atau bahkan banyak para tenaga profesional lainnya, yang berhasil sepulangnya bekerja dari luar negeri dengan alasan karena bekerja di negara luar sangat menjanjikan.

Parahnya bahkan di negeri ini terjadi kasus pemalsuan Ijazah, KTP, atau juga surat-surat berharga lainnya. Yang tentu tidak menjamin akan keahliannya dalam Ijazah palsu yang didapatnya dengan cara praktis atau instants. Semua itu dapat dengan mudah dilakukan di negara kita, asal mengikuti prosedurnya.

Mengetahui hal tersebut, negara Indonesia dijadikan bahan lelucon, bahkan cibiran yang negatif oleh bangsa asing. Begitu kerdilnya sistem kinerja yang berlangsung. Kasus seperti itu di negara luar tidak terpakai bahkan tidak ada. Saat menyadarinya, bahwa kenapa Indonesia begitu lemah, pantas saja menjadi negara terbelakang. Mengetahui hal semacam itu uniknya malah mengakar kuat, tidak malu atas kesalah-kaprahan yang dibudidayakan, malah menjadi momentum yang diunggulkan.

*Sepintas kisah yang terjadi pada tahun 2008 yang lalu.

Tini nama kakak saya, masuk kesalah satu PJTKI yang berlokasi di kawasan daerah Bogor dengan tujuan Singapura. Selama masuk di sana seminggu Tini melakukan medikal awal, dan seminggu kemudian hasil cek-up nya anfit, Tini di vonis mengidap Kanker ringan di bagian tenggorokan. Akhirnya sponsor menyuruh Tini, untuk menyediakan uang sebagai biaya untuk melakukan operasi kecil.

Mendengar keluhan Tini tersebut dari telepon saya merasa ada kejanggalan. Menurut saya Tini telah ditipu yang tidak lain adalah hasil rekayasa antara pihak PJTKI dengan sponsor yang telah memanipulasi data dari fakta. Maka pada minggu berikutnya saat menjenguk Tini, saya meminta Tini untuk Ijin Pulang. Atas kesepakatan dari keluarga, kami berencana membawa Tini untuk melakukan medikal ulang di klinik lain, dan ternyata hasilnya fit. Pada bagian tenggorokan Tini tidak terdapat penyakit apapun apalagi Kanker.

Dari kasus di atas kami pihak keluarga di rumah langsung mengklaim adanya penipuan yang secara gamblang dilakukan pihak PJTKI dengan sponsor. Akibat ketakutan dilaporkan pihak berwajib, pihak PJTKI meminta jalan damai. Akhirnya proses dibatalkan. Tini pun beralih proses ke PJTKI lain, masih beruntung kasus itu bisa segera tercium, bila terlanjur maka tidak tahu bagaimana kelanjutannya?

Bahkan tutur dari Tini "Penipuan itu hampir dilakukan pada para CTKI lain, para CTKI yang masuk PJTKI tersebut kasusnya sama, bahwa para CTKI dinyatakan anfit namun dimanipulasi dengan berbagai penyakit yang berbeda."

Pun demikian saat ini kasus seputar keberangkatan CTKI yang ingin keluar negeri diiming-imingi hadiah dari sponsor kepada CTKI, dengan menghadiahkan sepeda motor atau undian lainnya. Hal demikian tentu sangat menggiurkan bagi siapa saja yang akan dijadikan sasaran. Karena masyarakat awam pasti berpendapat hal itu sangat "menguntungkan."

Namun apakah Pemerintah tahu hal semacam itu? Apakah tanggapan dari Pemerintah dan bagaimana mengatasi motif seperti itu?

Harapan dari para TKI/BMI kepada Pemerintah untuk lebih tegas dalam bertindak, bila perlu terjun kelapangan dan melihat praktek-praktek yang terjadi pada tiap-tiap lembaga PJTKI yang beroperasi. Agar tidak terjadi kenakalan-kenakalan yang dilakukan secara liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Seperti dilansir pada berita-berita yang marak terjadi. Tentang kasus-kasus kecolongan akibat hukuman sadis yang memvonis para TKI/BMI di negara Timur Tengah. Seperti berita Ruyati TKI Arab Saudi. Tentang kasus kematiannya akibat tervonis hukum pancung atas tuduhan pembunuhan terhadap majikkannya yang menggempar tanah air. Akibat kurang tanggapnya Pemerintah dalam mendata para TKI/BMI yang sudah berada di negara orang.

Juga masih banyak kasus-kasus menyedihkan yang dialami oleh Ruyati Ruyati lainnya yang serupa, atau bahkan maraknya kasus pelecehan seksual.

Apabila pada saat di dalam negeri telah melakukan filter atau penyaringan dengan peninjauan yang ketat, mungkin akan dapat diketahui dan mengurangi jumlah pengiriman yang dilakukan oleh PJTKI ilegal.

Imbas dari mengalami kejadian seperti kasus Ruyati tersebut, Indonesia baru merasa tercambuk dan tertampar hebat oleh rakyatnya. Hingga dibentuknya undang-undang baru dengan mengadakan KTKLN.
Ketentuan daripada peraturan pembuatan KTKLN tidak lain adalah alat untuk mendata para TKI/BMI yang baru akan berangkat maupun yang akan kembali dengan menggunakan sistem ri-entry atau direct-hiring. Para CTKI wajib memiliki kartu KTKLN tersebut tanpa terkecuali. Namun para TKI telah mengeluh dan membuat gerakan anti KTKLN. Karena prakteknya dilapangan, prosedur pembuatan tidak semudah yang di informasikan.

Bagi para eks TKI/BMI yang kembali bekerja ke negara tujuan merasa kesulitan akibat berbelit-belitnya dalam mengurus KTKLN. Bisa dibayangkan, para TKI/BMI yang mengambil cuti dan buru-buru kembali sementara waktunya sudah tidak cukup dikarenakan habisnya masa cuti. Hal demikian bukan membantu tapi malah mempersulit.

Keluhan berbagai keluhan hampir mencuat dari mulut-mulut para TKI/BMI, bahwa proses pembuatan KTKLN yang berlangsung sangat rumit bahkan dipersulit. Akhirnya karena menyita banyak waktu serta menguras tenaga juga rasa ketidaksabaran atas kelicikan para petugas maka para eks TKI/BMI lebih memilih untuk mengambil jalur kuning dengan membayar lebih mahal. Setelahnya, proses pembuatan KTKLN pun berjalan lancar, selancar jalan tol.

Himbauan! Bagi para CTKI yang akan berangkat ke negara manapun, sebisa mungkin mewaspadai diri. Karena sistem yang dipakai oleh PJTKI saat ini adalah memberi kemudahan biaya untuk berangkat, namun harus menaruh jaminan bahkan mengambil hasil dari potongan gaji yang tidak sewajarnya. Juga dilansir banyak kasus ketidaksesuaian dalam penempatan kerja atas SPK (Surat Perjanjian Kontrak kerja) yang telah ditandatangi ketika di Indonesia. Nyatanya job yang dikerjakan tidak sesuai prosedur kerja saat di negara tujuan. Juga masalah-masalah lainnya akan hak-hak para TKI/BMI yang sering dipermainkan oleh para agensi-agensi nakal.

Di Taiwan sendiri saat ini banyak kasus yang dialami oleh para ABK (Anak Buah Kapal) seperti kecelakaan-kecelakaan yang terjadi saat mengklaim asuransi begitu sulit dicairkan atau masalah uang makan dengan potongan-potongan yang tidak jelas, dsb. Bahkan juga para TKI yang bekerja sebagai perawat orang tua jompo atau lansia yang tidak sesuai prosedur, malah dipekerjakan menjadi pedagang di pasar, membersihkan dua sampai tiga rumah. Belum lagi keterbatasan informasi akibat larangan untuk menggunakan HP, larangan berlibur bahkan larangan beribadah sehingga membuat para TKI bagai dikekang dalam sel tahanan karena tidak mendapat kebebasan. Tak jarang para TKI yang memilih kabur mengadu nasibnya yang entah di bawa kemana? Karena HAM yang terasa tidak benar-benar diperjuangkan untuk para TKI/BMI .

Terkait tentang banyaknya kasus TKI/BMI yang terus mengeluhkan tentang terminal 4 pada saat pulang ke Indonesia. Bahwa kasus ini tidak pernah mendapatkan "titik terang" yang memuaskan untuk para TKI/BMI. Rupanya terminal ini telah menjadi miris di mata para TKI/BMI. Meski banyak hal yang dilakukan oleh para TKI/BMI dengan berunjuk rasa dan lain sebagainya agar dapat menghindar dari terminal 4 nampaknya hanya sia-sia. Mengapa prosedur yang dijanjikan oleh Pemerintah tidak pernah nyata dilaksanakan ketika dilapangan?

Banyaknya oknum-oknum yang berkecimpung di terminal 4 malah menguatkan menguatkan sistem nepotisme sehingga para pungli bandara pun semakin leluasa beraksi. Tak heran hati nurani sudah ternoda oleh kebusukan akal dan pikiran.
Bahkan terjadi pemerasan saat menurunkan para TKI/BMI nya saat tiba di tujuan. Harga tiket yang dijual sama besar dengan pemerasan yang dilakukan. Modusnya dengan tema "uang rokok".

Padahal rokok sebatang tidak harus memberi ratusan ribu rupiah, cukup lima atau enam ribu malah dapat membeli sebungkus rokok. Kekhawatiran para TKI/BMI dalam menghadapi kasus yang dilakukan oleh para oknum dan pungli-pungli liar di terminal 4 menjadi topik basi. Banyak yang ingin menghindari terminal tersebut, bahkan banyak yang lebih memilih transit ke kota lain.

"Walaupun harus menempuh jarak yang cukup jauh dari tempat tinggal, asalkan bebas dan aman dari pungli di bandara Soekarno-Hatta khususnya terminal 4." Tutur para TKI/BMI.

Semoga Indonesia kedepannya dapat lebih baik dan lebih efektif serta lebih efisien dalam menanggulangi kasus-kasus para TKI/BMI yang tengah marak terjadi. Terlebih Pemerintah untuk lebih tanggap dalam menanggulangi kasus-kasus yang tengah dialami para TKI/BMI agar kekerdilan di negeri ini dapat berubah dan lenyap.

Taiwan,  13 Juli 2012   11.11 PM