Translate

Translate

Selasa, 14 Agustus 2012

Kado Spesial Ramadhan

Ini adalah ramadhan yang ke lima aku di Taiwan, setelah perpanjangan kontrak untuk yang kedua kalinya. Setiap tahun bertemu dengan ramadhan, maka setiap kali itu pula banyak mengalami perbedaan.

Bosan memang, harus menjalaninya sendirian. Tak ada aroma khas kolak pisang buatan ibu atau sayur gudeg makanan kesukaanku, pun aku tak pernah mendengar suara adzan yang berkumandang, apalagi mendengar kegaduhan bocah-bocah dengan
teriakan-teriakannya atau tabuhan alat-alat atau benda dapur seperti ; panci, ember untuk dijadikan alat musik saat membangunkan orang
sahur. Terasa sepi dan menyedihkan
menjalaninya sendirian!

Kesedihanku ini sudah bertumpuk-tumpuk, mungkin bisa disamakan dengan naskah-naskah para peserta lomba cerpen yang akan dibukukan. Kerinduanku pada orang rumah pun hanya dapatku telan bersama liur kesabaranku, ketabahanku, serta keikhlasanku untuk membantu keluargaku dalam hal finansial.

Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakakku pun bernasib sama sepertiku, menjadi perantau di negeri orang. Aku dan kakak pertamaku Ani bekerja di Taiwan, sementara Rizal kakak laki-lakiku pun pergi merantau ke Korea Selatan.

Orang kampung memandang keluarga kami sebagai keluarga yang cukup terpandang, karena bila dilihat dari segi materi semuanya pergi bekerja di luar negeri. Tapi hal itu salah besar. Kami terpaksa pergi dari rumah menjadi BMI (Buruh Migran Indonesia) dan harus rela meninggalkan keluarga tercinta dikarenakan memang kebutuhan diantara kami berbeda-beda, meskipun dengan tujuan yang sama yaitu mencari uang.

Semua berawal dari sakitnya ayah
kami dan ditambah retaknya bahtera rumah tangga kakakku, Ani. Delapan tahun silam. Ayah kami menderita yang cukup parah. Di samping beliau pecandu rokok yang kuat beliau pun penikmat kopi pahit, belum lagi bila ada tugas piket kantor untuk shift malam, alhasil ayah terserang paru-paru basah. Saat di rontgen paru-paru ayah terdapat bercak-bercak hitam, bahkan harus operasi karena dokter yang memeriksa mengatakan kondisi paru-paru ayah sudah sangat minim untuk proses penyembuhan bila tidak segera di operasi.

"Apa tidak ada cara lain, Dok?" Tanya ibu seolah menelan sembilu yang masih terasa getirnya di lidah.

"Ada, Bu. Tapi tetap harus berobat jalan dan rontgen, itupun suami Ibu akan kami pindahkan ke rumah sakit yang ada di Cirebon. Kalau ibu bersedia kami akan memberikan surat pengantarnya." Tangkas dokter memberi pengarahan pada ibuku kala itu.

Ditengah kesedihan ini, kabar duka lain datang dari Ani. Ani bercerai dengan suaminya yang menikah lagi dengan seorang janda kaya. Sementara anak-anak mereka masih kecil.

Melihat semua ini Rizal, kakak laki-lakiku satu-satunya, pergi mengadu nasib ke Korea Selatan. Di kampung dia tidak pernah mendapat pekerjaan yang tetap atau lebih tepatnya sebagai pekerja serabutan. Sementara aku, karena merasa iba saat melihat kakakku Ani menangis terus akibat dipoligami, dengan berat ku lepas atributku sebagai mahasiswa dan menyandang gelar babu di Taiwan agar dapat melihat anak-anak kakakku dapat bersekolah.

* * *
Ramadhan pertamaku di rantau menuai berkah istimewa dari-Nya. Sungguh sejarah itu tak pernah akan kulupa meski waktu telah merenggutnya lama.

Sebuah kisah yang tertoreh indah di sanubariku walau sudah empat tahun berlalu.

Waktu itu tahun 2007. Aku bekerja di daerah Nantou County, tempatnya sepi karena merupakan daerah pegunungan dan jalanannya pun berliku-liku, hanya pohon pinang yang menjulang tinggi dan pohon kelengkeng yang ada di sekitar rumah majikanku yang kujadikan teman untuk menemani kesendirianku. Pun rerumputan bergoyang-goyang ria serasa menyapaku setiap pagi dan ditambah angin semilir yang seolah
mengajakku menari bersama kicauan burung yang bertengger di ranting-ranting.

Di samping rumah sebelah kanan terdapat pabrik pengepakkan teh, oh ya profesi majikanku memang sebagai agen penjual teh. Di sebelah kirinya kebun yang ditanami berbagai tanaman, mulai dari bunga-bunga yang beraneka ragam, hingga sayuran pun lengkap, seperti ; cabai, terong, labu, daun ketela rambat, kacang panjang dan masih banyak lainnya. Belum lagi di belakang rumah, terdapat kebun nanas yang sangat besar, besarnya melebihi petak sawah yang ayahku garap di Indonesia.

Hanya tiga bulan aku bekerja di rumah itu karena tidak betah dan terlalu lelah. Saking banyaknya tamu yang datang untuk membeli teh, maka aku belum diperbolehkan istirahat bila tamu-tamunya belum pulang, Hobi mereka berkaraoke hingga larut malam, untuk mandi pun ku lakukan pada tengah malam sebelum tidur. Belum lagi ada tiga orang anak yang harus ku urus.

Memasak untuk sebelas orang, cuci baju pakai tangan untuk yang agak tebal baru boleh memakai mesin cuci. Tidak bebas bergerak dalam segala hal, beribadah pun tidak boleh. Saking lelahnya aku jatuh sakit hingga tak dapat bekerja. Kesempatan itu kugunakan untuk meminta pindah majikan pada agensiku. Akhirnya aku dipulangkan ke rumah agensi untuk istirahat total menunggu proses kesembuhan, baru setelahnya
mereka mencari job baru untukku.

Selama 10 hari aku istirahat, aku pun seperti sudah sehat, agensiku membawaku ke tempat majikan baru, kali ini di daerah Caotun yang juga masih satu kotamadya dengan tempatku dulu di Nantou. Bedanya Caoutun adalah sebuah kota kecil yang ramai dan hanya berjarak 1 jam dari Nantou.

Pertama datang aku disambut hangat oleh mereka, bos baruku. Tampaknya mereka adalah keluarga yang harmonis. Majikan perempuanku cantik sekali dan kali ini job-ku hanya menjadi baby sitter atau lebih tepatnya sebagai pengasuh anak. Rumah ini terdiri dari 5 orang, mereka memiliki 3 orang anak. Dua diantaranya perempuan yang duduk di bangku sekolah dasar kelas 5 dan 6. Dan yang terakhir laki-laki yang kurawat, lucu yang masih berumur 3 tahun.

Tidak menyangka setelah beberapa hari aku tinggal di rumah bos baruku, meskipun rumahnya kecil tapi mereka orang kaya raya di daerah itu. Kekayaannya melebihi bosku yang pertama. Sederet mobil ternama berjejer di garasi yang biasa disebut dengan sebutan "ce khu" yang terbuat dari bahan yang membentuk persegi
panjang. Tiap tiga hari sekali bosku pulang dengan mobil yang berbeda kadang-kadang pakai Jaguar, adakalanya Merccedes Benz atau BMW dan juga Alfa Romeo. Aku terkejut, betapa kayanya bosku.

Setiap minggunya rumah ini rutin mengajak keluarganya jalan-jalan termasuk aku. Aku senang bisa duduk di mobil mewah yang kalau di
Indonesia hanya para pejabat yang bisa mendudukinya, sementara di rumah ini aku sering duduk dengan berbagai merk terkenal. Ternyata bosku adalah seorang manajer kosmetik yang iklannya di bintangi oleh "Pai pin-pin", seorang artis terkenal Taiwan dan produk kosmetiknya juga nangkring di toko-toko kosmetik ternama di Taiwan.

"Pantas saja." Batinku berbisik.

Majikanku sudah menganggapku bagian dari keluarganya sendiri. Bahkan dia menyuruhku memanggilnya mama, karena mereka termasuk pasangan muda. Bila disamakan dengan usia ibuku hanya beda dua tahun.

Di rumah inilah pertama kalinya aku bertemu ramadhan. Mereka merasa terketuk, saat melihatku seharian penuh berpuasa. Karena mereka tidak mengerti kenapa agamaku
mengharuskannya? Apalagi dengan tenggang waktu yang cukup lama. Mereka takut aku sakit karena kelaparan. Tapi aku selalu berusaha
meyakinkannya, namun ia tetap melarang dengan alasan yang sama. Karena seperti itulah aku terpaksa bersembunyi darinya, bila di suruh
makan, aku bilang nanti saja belum lapar. Tapi akhirnya aku terbiasa meskipun majikanku begitu, kujalani semampuku menjaga segala hal yang menjadi larangan-Nya. Bukan berarti aku berbohong pada majikanku. Sahkah puasaku? Wallahua'lam.

Lama-lama majikanku tahu selama ini aku puasa, terbukti aku pun baik-baik saja! Puji syukur pada-Nya, akhirnya majikanku dapat menerima penjelasanku. Ini merupakan sebuah karomah yang patut aku syukuri. Benar-benar butuh perjuangan ekstra meyakinkannya, sangat susahnya umat muslim yang bekerja di Taiwan yang diperbolehkan berpuasa oleh majikannya. Alhamdulillah tidak
untuk majikanku. Mereka menghargai kepercayaan masing-masing. Berkat ramadhan pula, pekerjaanku menjadi ringan. Mereka melarangku untuk bekerja yang berat, termasuk memegang babi dan majikanku yang memasak setiap harinya. Aku hanya membantunya mencuci sayuran dan menyiapkan lainnya.

* * *

Ramadhan pun usai, aku diperbolehkan berlibur bertemu dengan kakakku, Ani yang ada di
Kaoshiung. Dan tiba-tiba saat hari raya, Rizal mengirimkan kejutan untukku dari Korea Selatan, saking penasarannya aku buka langsung.
Ternyata Rizal membelikan baju baru untukku, sepatu, dan kulihat ada sebuah kotak kecil berwarna biru tua, setelah kubuka isinya sebuah kalung dan kubaca kartu ucapan yang diselipkan bersama dengan kotak itu.

"Dear, Nila.... Selamat Hari Raya Idul Fitri. Semoga di sana kau baik-baik saja, ini adalah kado spesial dariku karena waktu di hari Ulang Tahunmu aku tak memberi ucapan padamu! Bukan hanya kamu yang kukirimi kado, melainkan Ibu dan Bapak pun sama. Semoga suka!"

"Terima kasih, Rizal." Ucapku dalam hati, aku senang dan terharu sekaligus tak menyangka. Perasaanku bercampur aduk, seperti es campur yang beraneka ragam membaur dalam satu wadah.

Sepuluh hari setelah Idul Fitri, majikanku membawa 20 karyawannya berlibur ke Bali. Karena di setiap tahunnya majikanku mengadakan tur gratis untuk para karyawan. Aku dibawa untuk membantu menjadi penerjemah. Setelah dari Bali, mereka bilang ingin mampir ke gubugku di Indonesia, mereka ingin bertemu dengan keluargaku dan berkenalan dengan orangtuaku.

Sesampainya di Indonesia, sesuai
rencana awal, seusai berlibur di Pulau Dewata lima hari, mereka mampir ke rumahku. Sementara karyawannya pulang terlebih dulu ke penginapan di hotel Ambassador, Jakarta.

Orangtuaku terkejut, karena melihatku tiba-tiba pulang bersama orang asing hingga banjir air mata karena terharu.

"Ma, Pa...." sahutku sambil kujelaskan kalau mereka adalah bosku di Taiwan.

"Ni hao?" ucap bosku memberikan kata pembuka.

Ibuku tersenyum dan bingung karena tidak bisa membalas sapaan mereka. Ayahku pun sama hanya mengangguk menggunakan bahasa tubuh saja sebagai tanda terima kasih yang telah berbaik hati mau menengok rumah kami yang tak mewah, namun sederhana.

Melihat kami begitu bahagia bertemu satu sama lainnya, terdapat pijar-pijar kerinduan yang sangat dalam terpendam, akhirnya majikanku berpikir lain. Dia begitu spontan memberiku kejutan yang luar biasa buatku pun buat orangtuaku.

Majikanku tiba-tiba berujar, "Ni sien cai cia li, sio si i ke li pai. Wo men sien hui Taiwan. Pu yung tan sin, fei ci phiau wo men pang ni fu!"

Yang kalau diartikan lebih kurang, "Kamu boleh tinggal untuk sementara di rumah, istrirahat satu minggu. Kami kembali ke Taiwan. Jangan khawatir, tiket pesawat kami yang bayar!".

Aku terkejut mendengarnya dan hanya tersenyum penuh derai airmata yang mengalir deras.

"Sie-sie ni Laopan, Laopaniang." Ucapku lirih penuh dengan ekspresi senang dan berterima kasih, dengan detakan jantung yang berdegup
kencang.

Akhirnya majikanku pamit untuk kembali ke hotel Ambassador di Jakarta, karena karyawannya sudah menunggu. Dan rencananya mereka ingin menikmati suasana kota metropolitan dan baru akan kembali ke Taiwan pada jadwal penerbangan besok pagi.

Terima kasih ramadhan, terima kasih Tuhan. Ini adalah berkah dari ramadhan yang mengejutkan untukku dan untuk keluarga besarku di Indonesia. Tidak terasa waktu cepat berlalu, kenangan demi kenangan selalu abadi, tercatat dan tersimpan
rapi dalam naluri dan bingkai hati.

Taiwan, 13 Agustus 2012.

Ada Rindu di Bengkel Cinta

Cantika dan Armada pasangan yang bertemu secara kebetulan. Semenjak bertemu Cantika, sikap Armada berubah delapan puluh persen dari sebelumnya. Armada yang dikenal angkuh dan cuek di kantor menjadi ramah dan murah senyum.

Posisi Armada di perusahaan adalah sebagai asisten manager, walau jabatannya lumayan tinggi tapi herannya tak ada yang menyukainya. Jangankan cewek yang untuk jadi pacarnya, cowok pun jarang yang dekat karena kesombongannya, paling mereka dekat sebatas rekan kerja tapi setelah di luar, mereka pun bersikap biasa saja.

Sore itu sepulangnya dari mengajar taman kanak-kanak, Cantika pergi ke toko bunga untuk dikirimkan ke rumah ibunya. Karena besok adalah hari ibu, jadi Cantika ingin memberi kejutan.

Saat di tengah jalan, motor Cantika mogok. Cantika kebingungan! Dia melirik di sekitarnya untuk meminta bantuan. Namun tidak ada satupun orang di situ. Akhirnya Cantika terpaksa menuntun sepeda motornya dan mencari bengkel terdekat. Di Bengkel itulah Armada bertemu Cantika. Kebetulan mobil Armada pun bannya kempes dan sedang menunggu di bengkel itu.

Perkenalan mereka berlanjut ke jenjang keseriusan. Tapi mendadak kantor memindah tugaskan Armada ke kantor cabang di Surabaya hanya untuk setahun saja, karena menggantikan tugas rekannya yang sedang ditugaskan keluar negeri. Dengan terpaksa rencana pernikahannya ditunda, mereka pun berpisah untuk sementara waktu.

Waktu terus bergulir, kerinduan Armada pada calon istrinya, Cantika hampir tak terbendung lagi. Karena selama Armada di Surabaya, kontak mereka menjadi renggang. Namun Armada yakin pada cintanya, Cantika pasti akan setia menantinya, begitulah komitmen mereka berdua sebelum Armada pergi.

Segera diraihnya ponsel Blackberry hitam miliknya dan menekan nomor Cantika.

"Hallo..., Cantika. Besok aku balik ke Bandung sayang!" tutur Armada.

"Maaf, Armada. Ibu sebaiknya cerita saja. Cantika telah tiada akibat kecelakaan seminggu yang lalu, Ibu sengaja tidak mengabarimu, karena Ibu takut kau tak dapat menerimanya!" jelas ibu Cantika sambil terisak tangis.

"Apaaaaa..... Bu? Tidak mungkin, Ibu pasti berbohong!" sanggah Armada pilu dan membanting ponselnya ke lantai.

Ponselnya hancur seperti hatinya saat ini. Pikirannya tak menentu, sirna semua harapannya merajut kain cinta, robek tergunting oleh takdir yang belum menghendaki Armada hidup bersama Cantika.

Armada mencoba kembali mengenang saat pertama kali bertemu gadis pujaan hatinya di bengkel itu. Untuk mengenangnya, Armada pun pergi ke bengkel tempat ditemukannya cinta pada diri Cantika. Armada sangat rindu, rindu saat-saat berdua menunggu di bengkel itu.

Ada rindu di hatiku
rindu ini tulus kupersembahkan tuk gadis pujaan hatiku

kita bertemu tanpa sengaja di bengkel ini
bengkel yang kami jadikan saksi
terajutnya jalinan kasih

roda waktu berputar begitu saja
membiarkanku terpuruk menamparku perih atas rasa cinta yang baru kumiliki

ingin rasanya ini kujadikan mimpi
agar aku tak harus takut hadapi
kenyataan yang menyesakkan, meluluhlantakkan hati

Taiwan, 14082012



Senin, 13 Agustus 2012

Gara-gara Warna Kuning

"Mita, minggu besok kita ketemu ya di Piramid Taichung." Pinta Anita di telepon.

"Kita pakai baju yang warnanya sama ya Nita, biar gampang nyari!" sisip Mita memberi usul.

"Sip..., warna apa? Gimana kalau kuning saja, soalnya orang jarang yang pakai warna itu. Hari libur di Piramid ramai lho! Kamu punya baju warna kuning kan?!" Cerocos Nita yang tak memberi kesempatan untukku berbicara.

"Tapi Nita....?"

Tut, tut, tut.....

Nita menutup teleponnya!

"Aduh, si Nita gak ngerti kalau warna kuning membuatku apes!" Pikirku penuh cemas.

Hari yang dijanjikan tiba. Tepat pukul 7 pagi aku sudah standby di halte menunggu bus yang ke arah Piramid.

"Hai kuning...., kuning....!! Godanya sambil bersiul.

Dia menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Neng, mau kemana?" Tanyanya lagi mencoba merayuku.

Aku tak hiraukan. Kupalingkan wajahku melihat arah samping!

"Neng, mau ke Taichung 'kan?! Itu tadi mobil ke arah Taichung, ko kamu gak naik?!" Katanya sambil menyungging senyum.

"Apa yang bus tadi berhenti itu ke arah Taichung?"

Spontan aku menjerit kesal, karena sudah 45 menit aku menunggu.

"Sial banget aku hari ini!" Gerutuku sengit sambil kutendang-tendang kerikil yang ada di depanku.

Cowok itu terus tertawa memperhatikan mimik wajahku yang jengkel tiada reda.

"Hahaha..., makanya Neng, jadi orang jangan jutek! Ditanya kemana gak jawab, salah sendiri." Bualnya yang membuatku bertambah kesal.

Akhirnya bus pun tiba, cowok itu pun naik.

"Loh ko kamu naik?" Tanyaku heran.

"Emang gak boleh?"

"Oh..., siapa lagi yang bilang gak boleh!" ucapku datar dan menunduk.

Akhirnya sampai juga di Piramid.
Terpaksa aku minta cowok itu menemaniku.

"Gawat aku udah telat 40 menit, si Nita dimana ya?" Pikirku cemas.

Dari pojok stasiun aku lihat orang yang pakai baju warna kuning duduk di ruang tunggu pembelian tiket.

"Benar juga ide si Nita, warna kuning jarang ada yang pakai! Biasanya kalau pakai warna ini, aku kena apes." Bathinku senang, sambil mesem-mesem sendiri.

Sudah begitu pedenya aku mengagetkannya dari arah belakang....?

"Nitaaaaaaaa...., aa......ku?"

Dia menoleh ke arahku, dia bukan sahabatku Nita!

"Aku minta maaf mbak." Sahutku getir pun malu.

"Lagi-lagi aku begini!" Bisikku pada diri sendiri.

Laki-laki itu tertawa ngacir tiada bisa ngerem.

"Kamu ada-ada saja Neng!" Ledeknya ricuh.

Terpaksa aku menunggu di depan gedung. Tidak beberapa lama kemudian Nita meneleponku!

"Mita, sorry ya... Aku gak bisa kesana. Tiba-tiba Nenekku masuk rumah sakit, lain kali kita ketemu! Tandasnya singkat seperti biasa tanpa memberiku kesempatan bicara. Dia langsung menutup teleponnya.

"Dasar apes!! Gara-gara warna kuning, aku ketinggalan bus.
Gara-gara warna kuning, aku terpancing emosi." Keluhku penuh sesal.

Taiwan, 14082012



Jangan Cemberut (Flash Fiction)

"Niaaaaaaaa....!!" Suara Ayya melengking tepat di telingaku.

"Dasar sudah berulang kali aku bilang, jangan usil!" Tambahnya kesal.

Wajahnya memerah menyimpan rasa kesal dan malu karena sesuatu hal yang menjadikannya tak berkutik. Rahasia Ayya hanya aku yang tahu diantara kami berempat.

"Cepat sini kembalikan." Ayya geram dan wajahnya kini berubah bagai serigala yang meraung kelaparan.

Aku sengaja membuatnya kesal, biar Ayya tidak mengulangi kejelekannya berulang kali sejak kami duduk di bangku SMP. Meskipun kami sudah ada yang menikah, namun persahabatan kami tetap manis dan kental seperti susu "frisianflagh bendera."

Hari itu hari libur, rencana kami selalu bergiliran untuk kumpul di rumah yang telah di jadwalkan. Hanya aku dan Ayya yang belum bertemu pasangan yang serius, meskipun begitu kunjungan kami berempat tak pernah renggang, sekalipun sibuk tapi mencoba untuk menyempatkan waktu untuk bertemu.

Kami pun kejar-kejaran seperti anak TK. Tapi aku malah tertawa geli melihatnya panik ketakutan. Ayya takut kalau Anna dan Rahayu tahu kebiasaan buruknya.

"Mbak Nia, kalau gak balikin Ayya marah!" Ketusnya sangar.

"Jangan ngambek gitu dong Ayya, maafkan aku ya?!" rayuku sambil mengernyitkan kedua alisku.

Tidak lama kemudian, Anna dan Rahayu datang. Anna membawa putranya yang bernama Ahmad yang berumur empat tahun. Sementara Rahayu sendiri karena anaknya diantar ke tempat les piano.

"Ada apa si ribut-ribut?" tanya Anna.

"Iya, ko gak bagi-bagi cerita sama kita!" Bubuh Rahayu.

Aku tersenyum simpul mengerti gelagat Ayya yang berubah aneh, Ayya salah tingkah. Ia mengedipkan matanya ke arahku, seraya berbisik agar aku tak membongkar rahasia abadinya.

Namun karena melihat raut wajah Ayya yang semakin memerah, akhirnya tertangkap basah oleh Anna dan Rahayu saat keduanya mencium bau tak sedap.

"Bau apa sih ini?" tanya Anna dan Rahayu secara bebarengan sambil meyerut hidungnya seperti anjing pelacak.

Karena merasa tak tahan, akhirnya mereka menemui bau aneh yang menyengat itu tepat di tubuhku. Mereka memperhatikan tanganku yang sedari tadi mengepal ke belakang.

Setelah Rahayu menyuruhku untuk membuka, ternyata.....

"Hahahaaaa......." Tawa kami meledak bersama-sama dan mengarah ke Ayya.

"Ayyaaaaaaaaaaaaaaa.....???"

Ayya tersipu malu dan menunduk.

"Berapa lama kaos kaki ini ditimbun di bawah kasur?????" tanya Anna sambil menyimput hidungnya dan menyodorkannya ke Ayya.

Ayya hanya diam tak dapat bicara, semenjak saat itu kebiasaan Ayya malas mencuci kaos kakinya hilang.
Akhirnya, Ayya pun memaafkan aku yang telah membongkar rahasianya dengan keusilan-keusilanku.

Ayya pun tersenyum simpul.

Changhua, 13082012

Minggu, 12 Agustus 2012

Sebongkah Mimpi Yang Terkubur (Cerpen yang dibukukan di penerbit Kerabat SPA)

Bila langit telah membiru dengan pesona keindahanya bersama awan putih yang seakan tersenyum menyapaku. Namun entah buatku rasanya tetap saja sama seperti biasa kelam dan kelabu. Tak dapat aku terus membohongi anak-anak itu, yang terus menanyakan sesuatu hal yang tak masuk akal atau sulit diwujudkan pada realitanya.

Seminggu yang lalu aku menyuruh anak didikku untuk mengarang cerita saat liburan sekolah temanya tentang cita-cita. Karena aku ingin tahu apa yang sedang dipikirkan para anak-anak jalanan atau keinginan apa tentang masa depan mereka bila telah menjadi orang dewasa. Bagaimana pola pikir mereka terhadap materi yang saya berikan? sejauh mana cita-cita mereka? Hal itu yang inginku jadikan referensi untuk meminta bantuan dana kepada pemerintah setempat.

"Bagaimana dengan PR kemarin tentang liburan, apakah sudah selesai?" Tanyaku pada anak-anak didik.

"Bu...., saya belum buat karangannya?" Tutur Tole salah satu murid teladan di kelas ini.

Tole anak rajin dan pandai dalam hal menghitung atau ahli dibidang pelajaran matematika dan lainnya. Dia selalu mendapat nilai plus di atas rata-rata murid dari ke lima belas orang temannya, Tole anak yang genius. Sebagai wali kelasnya aku punya kebanggaan tersendiri.

Karena tidak biasanya Tole bertingkah seperti itu apalagi sampai tidak membuat pekerjaan rumah  rasanya ada kejanggalan karena aku hafal betul dengan sifat Tole.

"Tole..., kenapa kamu tidak bikin PR?" Tanyaku sambil memeriksa buku catatannya.

"Saya bingung Bu? saya punya pertanyaan yang bikin saya gak bisa tidur!" tutur Tole singkat.

"Coba kamu bilang ke ibu, pasti Ibu jawab!" jelasku sambil meyakinkannya agar mau berterus terang.

"Bu..., kenapa aku tidak lahir jadi anak orang kaya. Aku ingin jadi Pemimpin!" Tandas Tole menjelaskan sambil melotot menunggu jawabanku.

Aku tersenyum sambil mengelus-elus rambutnya yang ikal dan berwarna kecokelatan.

"Kamu gak harus jadi anak orang kaya pun sudah bisa jadi Pemimpin". Jawabku. Tole melongo kaget dengan penjelasanku tadi!

"Ko bisa Bu?" Tole pun semakin bertambah penasaran, ditelannya air liurnya dan melolot ke arahku dengan mimik wajah lugunya yang khas.

"Di sekolah, kamu itu seorang ketua kelas. Di rumah, kamu seorang kakak yang menjaga adik-adikmu dengan baik, artinya kamu sudah jadi Pemimpin!" Bubuhku pada Tole.

Seorang Pemimpin itu adalah seorang pandai mengatur dan memotori segala sesuatunya dengan tanggung jawab, dan yang paling penting seorang pemimpin itu harus tegas dan jujur!" Tandasku dengan memberi motivasi pada Tole agar tidak terlarut dalam mimpinya dan agar Tole tidak kecewa dengan penjelasanku yang secara halus.

Dari jawabanku itu, Tole sangatlah puas dan semangat sampai mengatakan keseluruh teman di kelasnya ; "aku ini pemimpin, kalian harus patuh padaku!"

Teman-temannya sangat bingung dengan ucapan Tole dan malah mencibir. Namun, karena jiwa dan hati Tole yang besar, dia menerima cibiran teman-temannya dengan lapang dada.

Ibarat perahu yang berlabuh, pasti ada angin dan ombak bahkan badai sekalipun yang datang menghantam. Namun, Tole telah membuktikannya. Dia hanya tersenyum bangga, tanpa menghiraukan cibiran atau sikap teman-temannya yang mengejek Tole. Karena kehidupan keluarga Tole yang begitu memprihatinkan, membuat dadaku sesak seakan berhenti berdetak, terasa sakit dan perih.

Tole anak pertama dari lima bersaudara. Ayahnya seorang yang tidak bertanggung jawab pergi meninggalkan rumah karena tak sanggup memberi nafkah pada ibu dan keluarganya. Sementara ibunya terpaksa berkelana dari jalan ke jalan menjadi seorang pengamen yang bermodalkan alat musik yang terbuat dari botol aqua kosong yang diisi pasir. Ibu Tole begitu setiap harinya mengais rezeki untuk menghidupi ke lima anaknya.

Tole tak pernah merasakan nikmatnya makanan bergizi. Telur saja ibunya jarang membeli, apalagi daging-daging lainnya seperti ayam dan sejenisnya. Makanan yang disantap oleh mereka setiap hari hanya tempe, tahu, kerupuk, ikan teri, dan yang paling sering dimasak ibunya adalah nasi basi yang dikeringkan atau nasi aking kemudian dimasak lagi menjadi bubur lezat yang disulap dengan berbagai sayuran di dalamnya pun ditambah dengan  sayur gudek atau sayur kari buah nangka, adalah menu kesukaan Tole dan adik-adiknya.

Adik-adik Tole telah terbiasa menyantapnya dengan hati riang gembira, begitupun dengan Tole. Ibunya hanya tersenyum haru melihat anak-anaknya tumbuh tanpa memperoleh kasih sayang yang utuh dari seorang ayah.

"Bu, kalau dunia bisa hujan duit kita gak mungkin hidup miskin ya Bu?!" Tutur Tole lirih.

Ibunya terdiam dan tanpa disadari buliran beningnya tumpah dari ketinggiannya dan tertiti menetes membasahi pergelangan tangan Tole.

"Tole, benar kata Bu Rita. Kamu adalah Pemimpin di rumah kita, Nak!" Jelas ibu sambil mengusap kedua matanya dengan tangannya seraya memeluk Tole.

Hem. Bilg ma yuher ada usulan jg yg senior dimintai posting tips2 nulis kurg lbh kyk bondet. Ya gk salah sh anak2 pd kbur di grub e bondet .mreka tanya ilmu lgsung di jwb n ful info. Ketledoran senior kita terlalu dingin n gk respon cepat. Sementara adik-adik Tole telah terlelap dalam alam mimpinya akibat kelelahan karena seharian penuh ikut bersama ibunya, membantu ibu mengamen bernyanyi dan memainkan alat musik kesayangan mereka.

Taiwan, 26 Juni 2012.  


Khidmat Takbir Yang Bergema (Cerpen yang dibukukan penerbit Harfeey)

Menjalani puasa ramadhan di negeri orang, rasanya teramat menyedihkan. Apalagi bila mengingat saat sahur yang hanya dilakukan sendirian pada tengah malam, benar-benar terasa perbedaannya saat di negeri sendiri. Karena tidak berani mengatakan kepada majikan, terpaksa harus mengendap-endap seperti kucing yang akan mencuri ikan di dapur. Keadaan itulah yang membuatku lebih menguatkan keyakinanku untuk berpuasa. Karena niatku yang tulus, aku mendapat kemudahan dari-Nya.

Sempat suatu malam saat memasuki akhir ramadhan, karena merasa setiap paginya tidak pernah melihatku sarapan. Akhirnya malam itu saat aku sedang menikmati sahur, majikanku seketika telah berada di belakangku. Dia memegang pundak dan mengagetkanku, wajahku pucat pasi dan takut dia memarahiku. Tapi ternyata dugaanku meleset dari yang kuperkirakan. Ternyata dia malah memasang senyum, mungkin dia berpikir merasa khawatir membuatku ketakutan bila memarahiku atau mungkin aku sedang kelaparan sehingga di tengah malam mencari makanan.

"Kenapa setiap tengah malam kamu bangun dan makan? Kenapa tidak di pagi hari yang seperti biasanya kamu lakukan!" Tanyanya singkat, dengan perasaan gemetar aku menelan makanan yang baru masuk ke mulutku.

"Aku sedang puasa," jawabku lirih sambilku jelaskan tentang ajaran  Islam.

** Bahwa di bulan ini semua umat Islam wajib melakukannya selama sebulan penuh tanpa terkecuali. Dia kaget dan malah menyuruhku untuk tidak melakukannya.

"Itu konyol." Tandasnya singkat dan menggeleng-gelengkan kepanya.

Dia bahkan menentangku untuk berpuasa, akan tetapi aku memohon padanya karena hanya tinggal satu minggu lagi ramadhanku akan berakhir dan setelah itu aku akan normal makan bersama mereka seperti hari-hari sebelumnya.

"Lagipula ritual ini dikerjakan hanya setahun sekali." Bubuhku terus menjelaskan agar majikanku semakin yakin memberiku kebebasan berpuasa. Akhirnya, Dia pun mengijinkanku untuk terus melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim untuk berpuasa.

Melihatku ketika di siang hari merasa kepanasan dan terasa lemas tak bertenaga, terasa terik matahari telah menyengat dan panasnya pas berada di bawah ubun-ubunku, dia menyuruhku meminum air beberapa teguk. Aku mengerti akan niat baiknya karena rasa kasihan, tapi aku jelaskan kembali padanya, inilah godaannya dalam berpuasa.
Sempat dia berpikir puasa itu adalah pekerjaan yang sia-sia dan tidak masuk akal. Dia berontak dan menghina serta menjelek-jelekkan Islam. Tapi aku mencoba menjelaskannya kembali dengan alasan-alasan yang dapat diterima dan lebih masuk akal.

"Dengan puasa, melatih kita untuk tahu bagaimana saat orang lain kelarapan? Dengan puasa pula, kita lebih mengerti perasaan orang-orang miskin agar kita bersyukur atas rezeki yang kita peroleh. Dengan puasa juga segala perkataan dan perbuatan harus dijaga, hal itu dapat mencegah dari perbuatan jahat!" Jelasku sambil kuteruskan pekerjaanku.

Setelah itu, dia menepuk pundakku dan bertepuk tangan.

"Islam hebat, aku salut!" Katanya sambil nengacungkan kedua ibu jarinya ke arah wajahku.

Sementara di otakku tersirat berjubal-jubal rasa ingin dapat mengafdolkan puasaku untuk dapat shalat Ied di masjid Taichung.

"Aku ingin meminta libur pada saat lebaran nanti" pikirku dalam hati, agar aku bisa merayakan lebaran bersama teman-teman seperjuanganku.

Kucoba membicarakannya langsung dengan majikkanku. Hari itu, dia dan suaminya sedang asyik bernyanyi, juga bersama ke tiga anaknya tengah asyik melakukan fitnes. Karena melihatku begitu rajin dalam hal pekerjaan, akhirnya dia langsung memberiku lampu hijau.

Ketika tengah malam, ponselku berdering dan terdapat panggilan masuk dari Dedy sahabat lamaku semenjak SMP yang juga sedang bekerja di Korea Selatan. Dedy menanyakan kabarku dan mengucap kata maaf serta menasehatiku untuk lebih hati-hati saat bekerja.

Aku sangat senang Dedy meneleponku malam ini, aku merasa tak sendiri. Karena merasa terharu, aku terbawa suasana yang seakan mendekapku erat. Meski tak saling bertatap muka tapi suaranya seolah berada di sampingku. Aku menangis dan seolah airmataku tak dapat dicegah lagi dari muaranya.

Dedy mengerti kegalauanku, dia pasti merasakan hal yang serupa sepertiku. Saat Dedy akan berpamitan sebelum mengakhiri perbincangan kami berdua, dan saat itu pula secara kebetulan dari arah sana terdengar beduk yang bertalu-talu seraya terdengar orang yang sedang bertakbir ria semuanya terasa seperti di rumah saja, jelas terdengar khidmat dari setiap irama beduk yang bergema. Akhirnya dia menyuruhku turut serta mendengarkan suara gema takbir dari poselnya.

Mulutku tiada terasa mengikuti dan seraya turut bertakbir ria bersama Dedy, kami berdua mendekap erat di malam detik-detik lebaran, saat itu Dedy memang sedang berada di masjid bersama rekan-rekannya. Terasa khidmat, tidak terasa buliran air kristal ini terus mengalir dan alirannya membanjiri altar kesucian di hari yang Fitri. 

Keesokan harinya, aku pergi untuk melaksanakan sholat Ied di pelataran masjid di Taichung. Hatiku terketuk, betapa banyak para BMI yang telah datang lebih dulu memadati, merayap dan berkumpul dalam ruangan yang terbuka, mereka seakan keluargaku, begitu pula wajah dan senyuman seperti buah apel marah terselip di wajah mereka dalam menyambut dan merayakan di hari kemenangan ini. Hingga merasa telah benar-benar berada di Tanah air. Pecah semua rasa kesendirianku selama ini, tertebus sudah semuanya dari ketakutan yang terpendam di dalam benakku.

"Barakallah, kesempatan hari ini dapat berkumpul bersama mereka adalah anugrah dari-Mu ya Allah."
* Tamat

Taiwan, 01072012

Kado Terakhir Untuk Emak (Cerpen yang lolos seleksi di GPM)

Setiap kali pulang dari pasar, mata emak selalu tersorot aneh pada toko yang menjual kain atau bahan kiloan. Terkadang emak sesekali duduk bertengger lama di depan toko hanya sekedar melihat-lihat saja sambil menelan rasa keinginannya untuk membeli kain baru yang emak idam-idamkan.

Sudah hampir empat tahun setelah ditinggal bapak, emak tidak pernah mengganti kainnya untuk setelan kebayanya. Karena untuk memenuhi kebutuhan harian kami berdua saja emak sudah cukup lelah, ditambah dengan kesehatan emak yang mulai menurun. Emak jadi sering sakit-sakitan, mungkin emak terlalu capek bekerja seharian dari jam tiga pagi hingga siang menjelang dhuhur.

Sebagai pembuat lontong yang ditaruh ditiap-tiap pedagang di pasar, pagi-pagi sekali emak bangun menyiapkan lontong-lontongnya. Waktu istirahat emak sangat kurang hanya empat jam setiap harinya. Smentara aku pun bisa membantu emak bila sepulangnya dari sekolah.

Usaha ini sudah lama digeluti oleh nenekku dan emakku hanya meneruskannya saja. Sempat bapak melarang emak bekerja membuat lontong, karena melihat emak sering merintih kesakitan dipinggang dan perutnya karena Emak harus memanggul lontong-lontongnya ke para penjual sarapan di pasar. Karena banyaknya pelanggan yang sudah puluhan tahun hanya memasok lontong buatan kami sehingga emak bertekad untuk terus menekuninya sampai emak tak lagi punya tenaga.

Emak di mataku adalah sosok ibu yang hebat dan kuat. Emak tidak pernah berpikir untuk mencari pengganti bapak. Tidak sedikit tamu emak yang juga berasal dari tetangga desa kami mengajak emak menikah, namun emak selalu saja menolak.

Padahal aku tidak pernah berat hati bila emakku menikah lagi, aku hanya ingin di hari tua emak bisa hidup bahagia tanpa harus membanting tulang.

"Emak hanya ingin membesarkanmu dan melihatmu bisa menikah dengan laki-laki yang baik dan bertanggungjawab nduk, itu impian Emak," kata emak lirih.

Bapakku adalah seorang penarik becak, saat aku duduk di kelas satu SMP bapak meninggal akibat kecelakaan menjadi korban "tabrak lari".

* * *

Pada 20 tahun silam. Hari itu, hari mulai redup disertai dengan hujan. Bapak baru saja membeli kain baru untuk emak, karena hari ini adalah hari spesial ulang tahun emak. Tiap ulang tahun emak, bapak pasti membelikan kain atau selendang sebagai kadonya. Bapak sangat mengerti dengan selera emak, kali ini bapak memilih kain dengan corak khusus berwarna kecokelatan dan bermotif bunga-bunga.

"Emak pasti suka dengan kejutan itu" Pikir bapak.

Namun hujan semakin deras mengguyur jalan, juga disertai angin kencang hingga jalanan licin dan tertutup kabut.

Hampir saja becak bapak tertiup angin, karena bapak ingin segera tiba di rumah, bapak pun terus menggoes perdal becaknya tanpa memperdulikan hujan dan angin yang deras menyapu jalanan. Namun tiba-tiba, sebuah kendaraan pribadi menghantam becak bapak dari arah belakang. Bapak bersama becaknya terpental jauh, karena hujan semakin deras, akhirnya pengendara mobil melarikan diri dari tanggung jawabnya tanpa melihat kondisi korban.

Sementara sore itu pula, emak tengah asyik mempersiapkan menu istimewa kesukaan bapak. Sayur asem, ikan asin, lalapan lengkap dengan kerupuk udang pun telah siap disajikan di pawon. Namun tampaknya hingga beduk maghrib bapak pun belum pulang. Aku yang duduk di teras bersama perut yang bertalu-talu ibarat beduk menahan lapar hanya berani mencium aromanya saja.

"Emak, aku sudah lapar. Kita makan duluan saja ya mak!" kataku sambil menarik-narik tangan emak. Namun emak tampak gelisah dan memandangi wajahku.

"Nduk, sabar tunggu sebentar lagi ya! Kita sholat maghrib dulu saja, mungkin Bapakmu juga sedang sholat di jalan." Ucap emak lirih.

Setelah selesai sholat, tiba-tiba pak Rahmat ketua RT kami datang. Pak Rahmat memberi kabar bagai petir yang menyambar.

"Maaf Bu, saya ingin mengabarkan suami Ibu telah meninggal dunia!" cetus pak Rahmat berbela sungkawa.

Mendengar berita itu emak tercengang kaget, emak diam tanpa berkata apapun. Emak terjatuh seketika, tubuh emak terkulai di lantai yang belum berubin di depan rumah kami. Wajah emak berubah pucat dan emak tidak sadarkan diri.

"Emaaaaakkkk....!" Teriakku sekeras mungkin membangunkan emakku yang terkapar lemas tak sadarkan diri.

Sementara aku tidak bisa melakukan apa-apa terkecuali mendampingi emakku hingga tersadar.

Akhirnya jasad bapak diantarkan kerumah kami, banyak orang yang datang untuk membacakan doaa. Kupeluk tubuh bapak erat, tubuhnya begitu dingin dan kutatap masakan buatan emak yang khusus dihidangkan untuk bapak pun menjadi dingin, sedingin suasana malam hari ini. Tidak beberapa lama kemudian emak akhirnya siuman dan langsung kupeluk tubuhnya erat!

"Nduk, relakan Bapakmu ya?" sambil mengelus-elus rambutku.

* * *

Semenjak kejadian itu, emak tidak pernah lagi membeli kain baru atau apapun termasuk baju kebaya baru. Karena bila mengingat kain baru, emak pasti ingat kematian bapak yang begitu tragis. Di hati emak, bapak adalah suami yang baik dan bertanggung jawab pada keluarganya, karena itulah cita-cita emak hanya ingin melihatku menikah dengan laki-laki seperti bapak.

Emak selalu mendoakan dan memberikan yang terbaik untukku, meskipun kami keluarga yang tak mampu namun emak selalu berusaha untuk dapat memenuhi keinginanku.

Karena melihat emak seperti itu, aku tak tega. Hatiku bagai tersengat lebah. Sakit, pilu yang menggores ke relung-relung, terasa sesak nafas ini. Tanpa sepengetahuan emak, aku kumpulkan uang jajanku sedikit demi sediki di pendil yang kujadikan sebagai tempat menyembunyikan uangku atau celengan.

Tak terasa aku pun tamat SMA. Aku berencana saat ulang tahun emakku, kubuka simpananku untuk membelikan kian dan kebaya baru untuknya. Ulang tahun emakku hampir dekat, tinggal menunggu dua bulan lagi tepatnya Mei, tanggal 24.

Suatu ketika kondisi badan emak menurun dan selama satu minggu emak tidak jualan lontong ke pasar. Emak terpaksa harus banyak istirahat dan aku sudah membawa emak ke puskesmas terdekat, namun pihak puskesmas memberi surat pengantar agar emak sebaiknya dibawa ke rumah sakit. Masalah biaya, emak diberi keringanan.

Ternyata emakku mengidap penyakit usus buntu dan paru-paru basah. Paru-paru emak sudah parah dan dokter menyuruh untuk segera melakukan operasi, namun emak menolak karena tidak adanya biaya. Aku hanya diam mengigit rasa kecemasanku akan kesehatan emakku. Sedang aku tidak dapat berbuat apapun untuk membantu emakku.

"Oh Tuhan...!!, Cobaan apa lagi yang Engkau berikan padaku?" do'aku lirih.

"Pantas saja selama ini emak sering mengeluh sakit perut dan batuk-batuk seperti suara ringkik kuda yang kelaparan!" Pikirku cemas tak karuan.

Uang tabungan emak pun telah habis untuk menebus obat. Dan aku tak berani menyentuh uangku yang ingin kubelikan sebagai kejutan untuknya. Karena kondisi seperti itulah emak terpaksa membuat lontong lagi, tidak ada cara lain. Meski sakit telah menggerogoti tubuhnya, emak terus bekerja.

Pagi saat emakku pergi mengantar lontong-lontongnya ke para langganannya di pasar, ternyata mereka sudah memasok lontong dari orang lain. Emakku terkejut dan tak tau lagi harus bagaimana? Melihat emakku begitu lemah dan nampak lontong bawaanya penuh di dalam bakul, akhirnya mereka terpaksa mengambilnya karena merasa tidak enak telah lama menambil lontong di emakku, namun tidak untuk hari-hari berikutnya.

Emak kebingungan, wajahnya terlihat pucat pasi saat aku menyapanya setelah aku baru pulang dari sekolah, emakku begitu sedih.

"Nduk, besok ndak usah bantu emak buat lontong lagi. Pelanggan emak sudah mengambil lontong orang lain!" tutur emak sambil mengusap pelipisnya yang basah.

"Apa Mak?"

"Iya Nduk! Emak kehilangan mata pencaharian kita," bubuh emak menjelaskan.

Aku semakin bingung, rasanya hidupku dan emak terhimpit oleh jeruji ketidakadilan dunia. Aku marah pada Tuhanku! Dia terasa menelentarkanku dan emak. Runtuh rasanya hidup kami, dinding-dinding hatiku hancur berkeping-keping!

Emak pun menangis, buliran beningnya deras mengalir.

"Nduk maafkan Emak ya, Nduk!" tangisnya pilu

"Emak ini bicara apa? Aku yang seharusmya minta maaf karena belum bisa bekerja apa-apa," jawabku penuh rintih dan derai air mata yang menggenangi rumah kami.

Nasib malang memang tak dapat dicegah. Penyakit emakku kumat, emak merintih kesakitan. Aku segera meminta bantuan pak Lurah agar segera membawa emak ke rumah sakit. Emak pun diinfus, terbaring di atas ranjang.

Besok ulang tahunnya. Aku sudah membelikan kain dan baju kebaya untuknya. Karena ini pertama kalinya aku berhasil mengumpulkan sisa uang jajanku untuk membelikan sesuatu pada emakku.

"Emak, coba lihat..! Aku beli buat Emak!" kusodorkan kotak yang kubungkus rapi dengan pita berwarna kuning, warna kesukaan emakku.

"Apa itu Nduk?" tanyanya pelan.

"Ini kain dan kebaya baru yang kubeli, Mak!" jawabku datar.

Emak heran, matanya terbelalak kaget memandang wajahku. Binar-binar matanya mulai menggenang dan emak memelukku. Belum sempat emak memakai kebayanya, emakku pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya.

Dia meninggal setelah mengucapkan kata terimakasihnya padaku.

"Emaaaaakk.....!!" jeritku tanpa kuperdulikan pasien yang ada di samping emak.

Perawat pun datang memeriksa nadi emak. Ternyata ia telah wafat.

Taiwan, 04082012

*Pawon=dapur