Ini adalah ramadhan yang ke lima aku di Taiwan, setelah perpanjangan kontrak untuk yang kedua kalinya. Setiap tahun bertemu dengan ramadhan, maka setiap kali itu pula banyak mengalami perbedaan.
Bosan memang, harus menjalaninya sendirian. Tak ada aroma khas kolak pisang buatan ibu atau sayur gudeg makanan kesukaanku, pun aku tak pernah mendengar suara adzan yang berkumandang, apalagi mendengar kegaduhan bocah-bocah dengan
teriakan-teriakannya atau tabuhan alat-alat atau benda dapur seperti ; panci, ember untuk dijadikan alat musik saat membangunkan orang
sahur. Terasa sepi dan menyedihkan
menjalaninya sendirian!
Kesedihanku ini sudah bertumpuk-tumpuk, mungkin bisa disamakan dengan naskah-naskah para peserta lomba cerpen yang akan dibukukan. Kerinduanku pada orang rumah pun hanya dapatku telan bersama liur kesabaranku, ketabahanku, serta keikhlasanku untuk membantu keluargaku dalam hal finansial.
Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakakku pun bernasib sama sepertiku, menjadi perantau di negeri orang. Aku dan kakak pertamaku Ani bekerja di Taiwan, sementara Rizal kakak laki-lakiku pun pergi merantau ke Korea Selatan.
Orang kampung memandang keluarga kami sebagai keluarga yang cukup terpandang, karena bila dilihat dari segi materi semuanya pergi bekerja di luar negeri. Tapi hal itu salah besar. Kami terpaksa pergi dari rumah menjadi BMI (Buruh Migran Indonesia) dan harus rela meninggalkan keluarga tercinta dikarenakan memang kebutuhan diantara kami berbeda-beda, meskipun dengan tujuan yang sama yaitu mencari uang.
Semua berawal dari sakitnya ayah
kami dan ditambah retaknya bahtera rumah tangga kakakku, Ani. Delapan tahun silam. Ayah kami menderita yang cukup parah. Di samping beliau pecandu rokok yang kuat beliau pun penikmat kopi pahit, belum lagi bila ada tugas piket kantor untuk shift malam, alhasil ayah terserang paru-paru basah. Saat di rontgen paru-paru ayah terdapat bercak-bercak hitam, bahkan harus operasi karena dokter yang memeriksa mengatakan kondisi paru-paru ayah sudah sangat minim untuk proses penyembuhan bila tidak segera di operasi.
"Apa tidak ada cara lain, Dok?" Tanya ibu seolah menelan sembilu yang masih terasa getirnya di lidah.
"Ada, Bu. Tapi tetap harus berobat jalan dan rontgen, itupun suami Ibu akan kami pindahkan ke rumah sakit yang ada di Cirebon. Kalau ibu bersedia kami akan memberikan surat pengantarnya." Tangkas dokter memberi pengarahan pada ibuku kala itu.
Ditengah kesedihan ini, kabar duka lain datang dari Ani. Ani bercerai dengan suaminya yang menikah lagi dengan seorang janda kaya. Sementara anak-anak mereka masih kecil.
Melihat semua ini Rizal, kakak laki-lakiku satu-satunya, pergi mengadu nasib ke Korea Selatan. Di kampung dia tidak pernah mendapat pekerjaan yang tetap atau lebih tepatnya sebagai pekerja serabutan. Sementara aku, karena merasa iba saat melihat kakakku Ani menangis terus akibat dipoligami, dengan berat ku lepas atributku sebagai mahasiswa dan menyandang gelar babu di Taiwan agar dapat melihat anak-anak kakakku dapat bersekolah.
* * *
Ramadhan pertamaku di rantau menuai berkah istimewa dari-Nya. Sungguh sejarah itu tak pernah akan kulupa meski waktu telah merenggutnya lama.
Sebuah kisah yang tertoreh indah di sanubariku walau sudah empat tahun berlalu.
Waktu itu tahun 2007. Aku bekerja di daerah Nantou County, tempatnya sepi karena merupakan daerah pegunungan dan jalanannya pun berliku-liku, hanya pohon pinang yang menjulang tinggi dan pohon kelengkeng yang ada di sekitar rumah majikanku yang kujadikan teman untuk menemani kesendirianku. Pun rerumputan bergoyang-goyang ria serasa menyapaku setiap pagi dan ditambah angin semilir yang seolah
mengajakku menari bersama kicauan burung yang bertengger di ranting-ranting.
Di samping rumah sebelah kanan terdapat pabrik pengepakkan teh, oh ya profesi majikanku memang sebagai agen penjual teh. Di sebelah kirinya kebun yang ditanami berbagai tanaman, mulai dari bunga-bunga yang beraneka ragam, hingga sayuran pun lengkap, seperti ; cabai, terong, labu, daun ketela rambat, kacang panjang dan masih banyak lainnya. Belum lagi di belakang rumah, terdapat kebun nanas yang sangat besar, besarnya melebihi petak sawah yang ayahku garap di Indonesia.
Hanya tiga bulan aku bekerja di rumah itu karena tidak betah dan terlalu lelah. Saking banyaknya tamu yang datang untuk membeli teh, maka aku belum diperbolehkan istirahat bila tamu-tamunya belum pulang, Hobi mereka berkaraoke hingga larut malam, untuk mandi pun ku lakukan pada tengah malam sebelum tidur. Belum lagi ada tiga orang anak yang harus ku urus.
Memasak untuk sebelas orang, cuci baju pakai tangan untuk yang agak tebal baru boleh memakai mesin cuci. Tidak bebas bergerak dalam segala hal, beribadah pun tidak boleh. Saking lelahnya aku jatuh sakit hingga tak dapat bekerja. Kesempatan itu kugunakan untuk meminta pindah majikan pada agensiku. Akhirnya aku dipulangkan ke rumah agensi untuk istirahat total menunggu proses kesembuhan, baru setelahnya
mereka mencari job baru untukku.
Selama 10 hari aku istirahat, aku pun seperti sudah sehat, agensiku membawaku ke tempat majikan baru, kali ini di daerah Caotun yang juga masih satu kotamadya dengan tempatku dulu di Nantou. Bedanya Caoutun adalah sebuah kota kecil yang ramai dan hanya berjarak 1 jam dari Nantou.
Pertama datang aku disambut hangat oleh mereka, bos baruku. Tampaknya mereka adalah keluarga yang harmonis. Majikan perempuanku cantik sekali dan kali ini job-ku hanya menjadi baby sitter atau lebih tepatnya sebagai pengasuh anak. Rumah ini terdiri dari 5 orang, mereka memiliki 3 orang anak. Dua diantaranya perempuan yang duduk di bangku sekolah dasar kelas 5 dan 6. Dan yang terakhir laki-laki yang kurawat, lucu yang masih berumur 3 tahun.
Tidak menyangka setelah beberapa hari aku tinggal di rumah bos baruku, meskipun rumahnya kecil tapi mereka orang kaya raya di daerah itu. Kekayaannya melebihi bosku yang pertama. Sederet mobil ternama berjejer di garasi yang biasa disebut dengan sebutan "ce khu" yang terbuat dari bahan yang membentuk persegi
panjang. Tiap tiga hari sekali bosku pulang dengan mobil yang berbeda kadang-kadang pakai Jaguar, adakalanya Merccedes Benz atau BMW dan juga Alfa Romeo. Aku terkejut, betapa kayanya bosku.
Setiap minggunya rumah ini rutin mengajak keluarganya jalan-jalan termasuk aku. Aku senang bisa duduk di mobil mewah yang kalau di
Indonesia hanya para pejabat yang bisa mendudukinya, sementara di rumah ini aku sering duduk dengan berbagai merk terkenal. Ternyata bosku adalah seorang manajer kosmetik yang iklannya di bintangi oleh "Pai pin-pin", seorang artis terkenal Taiwan dan produk kosmetiknya juga nangkring di toko-toko kosmetik ternama di Taiwan.
"Pantas saja." Batinku berbisik.
Majikanku sudah menganggapku bagian dari keluarganya sendiri. Bahkan dia menyuruhku memanggilnya mama, karena mereka termasuk pasangan muda. Bila disamakan dengan usia ibuku hanya beda dua tahun.
Di rumah inilah pertama kalinya aku bertemu ramadhan. Mereka merasa terketuk, saat melihatku seharian penuh berpuasa. Karena mereka tidak mengerti kenapa agamaku
mengharuskannya? Apalagi dengan tenggang waktu yang cukup lama. Mereka takut aku sakit karena kelaparan. Tapi aku selalu berusaha
meyakinkannya, namun ia tetap melarang dengan alasan yang sama. Karena seperti itulah aku terpaksa bersembunyi darinya, bila di suruh
makan, aku bilang nanti saja belum lapar. Tapi akhirnya aku terbiasa meskipun majikanku begitu, kujalani semampuku menjaga segala hal yang menjadi larangan-Nya. Bukan berarti aku berbohong pada majikanku. Sahkah puasaku? Wallahua'lam.
Lama-lama majikanku tahu selama ini aku puasa, terbukti aku pun baik-baik saja! Puji syukur pada-Nya, akhirnya majikanku dapat menerima penjelasanku. Ini merupakan sebuah karomah yang patut aku syukuri. Benar-benar butuh perjuangan ekstra meyakinkannya, sangat susahnya umat muslim yang bekerja di Taiwan yang diperbolehkan berpuasa oleh majikannya. Alhamdulillah tidak
untuk majikanku. Mereka menghargai kepercayaan masing-masing. Berkat ramadhan pula, pekerjaanku menjadi ringan. Mereka melarangku untuk bekerja yang berat, termasuk memegang babi dan majikanku yang memasak setiap harinya. Aku hanya membantunya mencuci sayuran dan menyiapkan lainnya.
* * *
Ramadhan pun usai, aku diperbolehkan berlibur bertemu dengan kakakku, Ani yang ada di
Kaoshiung. Dan tiba-tiba saat hari raya, Rizal mengirimkan kejutan untukku dari Korea Selatan, saking penasarannya aku buka langsung.
Ternyata Rizal membelikan baju baru untukku, sepatu, dan kulihat ada sebuah kotak kecil berwarna biru tua, setelah kubuka isinya sebuah kalung dan kubaca kartu ucapan yang diselipkan bersama dengan kotak itu.
"Dear, Nila.... Selamat Hari Raya Idul Fitri. Semoga di sana kau baik-baik saja, ini adalah kado spesial dariku karena waktu di hari Ulang Tahunmu aku tak memberi ucapan padamu! Bukan hanya kamu yang kukirimi kado, melainkan Ibu dan Bapak pun sama. Semoga suka!"
"Terima kasih, Rizal." Ucapku dalam hati, aku senang dan terharu sekaligus tak menyangka. Perasaanku bercampur aduk, seperti es campur yang beraneka ragam membaur dalam satu wadah.
Sepuluh hari setelah Idul Fitri, majikanku membawa 20 karyawannya berlibur ke Bali. Karena di setiap tahunnya majikanku mengadakan tur gratis untuk para karyawan. Aku dibawa untuk membantu menjadi penerjemah. Setelah dari Bali, mereka bilang ingin mampir ke gubugku di Indonesia, mereka ingin bertemu dengan keluargaku dan berkenalan dengan orangtuaku.
Sesampainya di Indonesia, sesuai
rencana awal, seusai berlibur di Pulau Dewata lima hari, mereka mampir ke rumahku. Sementara karyawannya pulang terlebih dulu ke penginapan di hotel Ambassador, Jakarta.
Orangtuaku terkejut, karena melihatku tiba-tiba pulang bersama orang asing hingga banjir air mata karena terharu.
"Ma, Pa...." sahutku sambil kujelaskan kalau mereka adalah bosku di Taiwan.
"Ni hao?" ucap bosku memberikan kata pembuka.
Ibuku tersenyum dan bingung karena tidak bisa membalas sapaan mereka. Ayahku pun sama hanya mengangguk menggunakan bahasa tubuh saja sebagai tanda terima kasih yang telah berbaik hati mau menengok rumah kami yang tak mewah, namun sederhana.
Melihat kami begitu bahagia bertemu satu sama lainnya, terdapat pijar-pijar kerinduan yang sangat dalam terpendam, akhirnya majikanku berpikir lain. Dia begitu spontan memberiku kejutan yang luar biasa buatku pun buat orangtuaku.
Majikanku tiba-tiba berujar, "Ni sien cai cia li, sio si i ke li pai. Wo men sien hui Taiwan. Pu yung tan sin, fei ci phiau wo men pang ni fu!"
Yang kalau diartikan lebih kurang, "Kamu boleh tinggal untuk sementara di rumah, istrirahat satu minggu. Kami kembali ke Taiwan. Jangan khawatir, tiket pesawat kami yang bayar!".
Aku terkejut mendengarnya dan hanya tersenyum penuh derai airmata yang mengalir deras.
"Sie-sie ni Laopan, Laopaniang." Ucapku lirih penuh dengan ekspresi senang dan berterima kasih, dengan detakan jantung yang berdegup
kencang.
Akhirnya majikanku pamit untuk kembali ke hotel Ambassador di Jakarta, karena karyawannya sudah menunggu. Dan rencananya mereka ingin menikmati suasana kota metropolitan dan baru akan kembali ke Taiwan pada jadwal penerbangan besok pagi.
Terima kasih ramadhan, terima kasih Tuhan. Ini adalah berkah dari ramadhan yang mengejutkan untukku dan untuk keluarga besarku di Indonesia. Tidak terasa waktu cepat berlalu, kenangan demi kenangan selalu abadi, tercatat dan tersimpan
rapi dalam naluri dan bingkai hati.
Taiwan, 13 Agustus 2012.