"Niaaaaaaaa....!!" Suara Ayya melengking tepat di telingaku.
"Dasar sudah berulang kali aku bilang, jangan usil!" Tambahnya kesal.
Wajahnya memerah menyimpan rasa kesal dan malu karena sesuatu hal yang menjadikannya tak berkutik. Rahasia Ayya hanya aku yang tahu diantara kami berempat.
"Cepat sini kembalikan." Ayya geram dan wajahnya kini berubah bagai serigala yang meraung kelaparan.
Aku sengaja membuatnya kesal, biar Ayya tidak mengulangi kejelekannya berulang kali sejak kami duduk di bangku SMP. Meskipun kami sudah ada yang menikah, namun persahabatan kami tetap manis dan kental seperti susu "frisianflagh bendera."
Hari itu hari libur, rencana kami selalu bergiliran untuk kumpul di rumah yang telah di jadwalkan. Hanya aku dan Ayya yang belum bertemu pasangan yang serius, meskipun begitu kunjungan kami berempat tak pernah renggang, sekalipun sibuk tapi mencoba untuk menyempatkan waktu untuk bertemu.
Kami pun kejar-kejaran seperti anak TK. Tapi aku malah tertawa geli melihatnya panik ketakutan. Ayya takut kalau Anna dan Rahayu tahu kebiasaan buruknya.
"Mbak Nia, kalau gak balikin Ayya marah!" Ketusnya sangar.
"Jangan ngambek gitu dong Ayya, maafkan aku ya?!" rayuku sambil mengernyitkan kedua alisku.
Tidak lama kemudian, Anna dan Rahayu datang. Anna membawa putranya yang bernama Ahmad yang berumur empat tahun. Sementara Rahayu sendiri karena anaknya diantar ke tempat les piano.
"Ada apa si ribut-ribut?" tanya Anna.
"Iya, ko gak bagi-bagi cerita sama kita!" Bubuh Rahayu.
Aku tersenyum simpul mengerti gelagat Ayya yang berubah aneh, Ayya salah tingkah. Ia mengedipkan matanya ke arahku, seraya berbisik agar aku tak membongkar rahasia abadinya.
Namun karena melihat raut wajah Ayya yang semakin memerah, akhirnya tertangkap basah oleh Anna dan Rahayu saat keduanya mencium bau tak sedap.
"Bau apa sih ini?" tanya Anna dan Rahayu secara bebarengan sambil meyerut hidungnya seperti anjing pelacak.
Karena merasa tak tahan, akhirnya mereka menemui bau aneh yang menyengat itu tepat di tubuhku. Mereka memperhatikan tanganku yang sedari tadi mengepal ke belakang.
Setelah Rahayu menyuruhku untuk membuka, ternyata.....
"Hahahaaaa......." Tawa kami meledak bersama-sama dan mengarah ke Ayya.
"Ayyaaaaaaaaaaaaaaa.....???"
Ayya tersipu malu dan menunduk.
"Berapa lama kaos kaki ini ditimbun di bawah kasur?????" tanya Anna sambil menyimput hidungnya dan menyodorkannya ke Ayya.
Ayya hanya diam tak dapat bicara, semenjak saat itu kebiasaan Ayya malas mencuci kaos kakinya hilang.
Akhirnya, Ayya pun memaafkan aku yang telah membongkar rahasianya dengan keusilan-keusilanku.
Ayya pun tersenyum simpul.
Changhua, 13082012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar